SEGUDANG MASALAH DUNIA SEPAKBOLA TANAH AIR

           

        Dalam pergaulan internasional, negara-negara di dunia dipandang sebagai negara yang memiliki martabat diantara yang negara lainnya karena dilihat dari kemajuannya, baik di bidang ekonomi, militer, pendidikan, olahraga maupun dalam bidang-bidang yang lainnya. Tak diragukan lagi jika kejayaan bidang olahraga memang mampu membawa nama sebuah bangsa membumbung tinggi ke seluruh dunia khususnya untuk jenis-jenis olahraga yang populer, seperti olahraga balap mobil F1 (formula 1) serta balap moto Gp, olahraga basket dan tentunya olahraga sepakbola yang menduduki posisi sebagai olahraga terpopuler dan paling digandrungi di jagat raya yang sampai saat ini belum ada tandingannya.

         Olahraga sepakbola terlepas dari berbagai versi asal-muasalnya, merupakan olahraga paling fenomenal dalam sejarah peradaban umat manusia. Olahraga yang salah satu versi menyebutkan bahwa berasal dari negeri tirai bambu ini selalu menjadi salah satu pembahasan yang banyak ditunggu banyak orang selain pembahasan seperti politik serta hiburan, perihal informasi seputar dunia sepakbola itu sendiri. Dan salah satu contoh dari betapa populernya jenis olahraga ini sebagaimana dilansir dari …. dapat kita lihat bagaimana usaha dari stasiun-stasiun swasta di tanah air yang saling memperebutkan hak siar pertandingan atau laga sepakbola untuk beberapa liga eropa khususnya, seperti bundes liga, liga champion eropa,liga premier dan yang lainnya.
           Indonesia terkait dunia sepakbola, merupakan negara dengan masyarakatnya yang cinta dan fanatik terhadap sepakbola sehingga tidak mengherankan jika kemudian perubahan dunia sepakbola tanah air menuju kemajuan menjadi harapan yang selalu disuarakan. Pada kenyatannya sampai detik ini keikut sertaan Indonesia dalam laga piala dunia sebagai kejuaraan tertinggi dalam sepakbola masih menjadi khayalan yang entah kapan akan menjadi kenyataan. Namun dengan melihat fakta dan data di lapangan dengan rasa prihatin memang pantas bila dikatakan bahwa dunia sepakbola tanah air masih jauh dari kondisi yang tertata serta digerogoti oleh berbagai masalah baik yang berasal dari dalam federasi yang menaunginnya (PPSI) maupun dari luar.
        Kemelut dan carut marut adalah warna jelas yang membumbui dunia persepakbolaan nasional di tengah-tengah masyarakatnya yang bisa dikatakan gila bola, serta menjadi bahan pemberitaan di berbagai media baik cetak maupun elektronik yang hilir mudik. Beberapa masalah yang berlahan seolah menjurus pada keadaan yang lumrah terjadi adalah fenomena-fenomena yang terlahir dari sikap para supporter atau pendukung klub-klub sepakbola dalam negeri yang belum dewasa dimana mereka memiliki kecendrungan untuk bersikap tidak tertib serta anarkis terlebih saat massa supporter ini bertemu dengan supporter lain yang dianggap sebagai rival, contoh jelasnya antara  bobotoh sebagai supporter persib dan the jak supporter persija yang tak jarang berakhir dengan bentrok dan ironisnya tekadang memakan korban tewas pula.
         Bentrok antar dua supporter ini tercatat telah banyak terjadi dari yang berskala kecil sampai dengan jumlah massa yang tidak sedikit dan tahun 2014 menjadi tahun terjadinya bentrok terbesar antar bobotoh dan  the jak mania baik dalam hal jumlah massanya maupun jumlah korban jiwanya yang pada saat itu memakan 3 korban meninggal dunia. Sebagaimana dilansir dari liputan6.com (09 Agustus 2014) , dalam aksi konfrontasi yang terjadi tepat pada tanggal pada tanggal 27 Mei 2014 berawal dari larangan masuk ke dalam stadion bagi para bobotoh yang kebetulan pada laga tandang persib tersebut dari pihak kepolisaian.
        Dan permasalahan dunia sepakbola yang menyedot banyak perhatian publik tanah air yang terjadi beberapa tahun belakangan khususunya dari internal PSSI itu sendiri beberapa di antaranya adalah perebutan kursi ketua di federasi sepakbola tertinggi dalam negeri ini di tahun 2014 yang terjadi secara berlarut larut serta penuh polemik klasik. Terang saja geliat olahraga yang satu ini mengalami masa-masa kelamnya selain memang sebelumnya telah tercecer banyak masalah di luar permasalah yang berasal dari badan yang bertugas menaungi yaitu PPSI, yang salah satunya telah diterangkan di atas. Sebagai mana yang dikutip dari berbagai sumber, disebutkan bahwa perbutan tampuk kekuasaan di PSSI menambah warna baru dalam permasalah persepakbolaan Indonesia.
           Namun dari semua masalah yag merebak beberapa tahun lalu, polemik terkait pembekuan PSSI oleh KEMENPORA yang tidak terduga-duga, tentu menjadi permasalahan yang paling disoroti dimana bahkan Presiden Jokowi harus turun tangan dalam kasus ini. Kisruh panjang antar kubu Menpora dan PSSI dimulai pada tanggal 17 April 2015 dimana pada saaat itu pihak Seperti yang dilansir oleh kompas.com (26/05/2015), Menpora mengeluarkan surat keputusan yang isinya berupa pernayataan bahwa Menpora tidak mengakui segala bentuk keolahragaan yang diselenggarakan oleh PSSI. Menpora melakukan tindakan yang demikian karena Psi tidak mengindahkan tiga kali surat teguran yang dikeluarkan oleh Menpora.
            Dan itu hanyalah beberapa masalah dari sekian permasalahan yang meng-absurb-kan sepakbola tanah air karena masih banyak permasalahan selain yang telah disebutkan di atas seperti konspirasi wasit, sanksi-sanksi dari FIFA.
          Perlu adanya langkah nyata dalam upaya  menjadikan olahragaa kulit bundar lebih baik denagn solusi-solusi yang memiliki relevansi serta berani. Aksi-aksi brutal para suporter yang telah lama bercokol dalam kancah persepakbolaan tanah air harus  dihapus denga pembatasan-pembatasan berupa regulasi yang tegas di samping dengan pemberian pemahaman. Dan di luar dari permasalahan supporter, hal yang tak kalah penting dan bahkan yang paling utama adalah harus adanya optimalisasi pengaplikasian regulasi dengan serius untuk mengkondisikan agar atmosfer di dalamnya dapat merangsang peningkatan kualitas para pemain asli dalam negeri, salah satu contohnya adalah dengan pembatasan jumlah maksimal pemain asing yang merumput bersama klub tanah air, memang regulasi model ini telah diberlakukan namun pada kenyataannya belum mencapai titik maksimal.
             Adalah wajar di tengah –tengah masyarakat yang cinta sepakbola jika kemudian menaruh ekspektasi yang tinggi agar suatu hari nanti persepakbolaan Indonesia dapat menunjukan taringnya.



Post a Comment

Previous Post Next Post