LITERASI DALAM URGENSI


        

          Membaca dan menulis merupakan dua aktivitas serta dua unsur yang keberadaannya teramat esensial dalam eksistensi suatu peradaban bangsa-bangsa di dunia. Melalui kegiatan menulis sebagai bukti peninggalan suatu era di masa lampau yang membawa zaman keluar dari periode pra-sejarah, baik dalam bentuk manuskip, artefak maupun yang lainnya, serta menjadi titik awal berdirinya tatanan dunia yang menuju pada tingkat yang lebih tinggi dan melalui kegiatan membaca arti dari adanya tulisan tidak sia-sia karena informasi-informasi yang tersimpan dalam huruf atau simbol-simbol tertentu tidak akan tersingkap atau dimengerti tanpa adanya kemampuan membaca.
   
      Bagi kehidupan seorang individu kemampuan membaca dan menulis sudah dianggap sebagai kemampuan primer yang keberadaannya wajib ada, sebagai bekal dalam menghadapi zaman modern dengan arus globalisasi yang dikemas oleh kemajuan iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi)  yang semakin menuntut untuk memiliki skill yang dapat diaplikasikan dalam upaya bertahan hidup berkaitan dengan persaingan yang compleks di semua sektor. Pada hakikatnya dua kemampuan ini merupakan kunci bagi kemajuan peradaban suatu bangsa, di mana membaca adalah jalan untuk melihat dan menyerap ilmu pengetahuan yang terekam dalam tulisan selama puluhan tahun,berabad-abad atau selama puluhan abad. Sedangkan menulis sebagai kegiatan keilmuan, salah satunya memiliki fungsi mengabadikan ilmu dari kemusnahan.
         Kondisi yang terpampang dewasa ini dan berlangsung di masyarakat kita, adalah kenyataan bahwa kegiatan membaca tidak dalam kadar yang ideal. Membaca yang memiliki peran penting dalam meningkatkan wawasan justru ditempatkan pada posisi yang bisa dikatakan sepele, dalam kondisi ini dapat terlihat dari anggapan yang berkembang dilingkungan sosial dalam ruang lingkup dunia pelajar khususnya, yaitu peng-label-an dengan gelar yang sangat terkesan mendeskripsikan seseorang yang aneh, norak dam kurang bergaul dengan sebutan “kutu buku” bagi mereka yang akrab dengan buku-buku. Faktanya kegiatan membaca sebagai bagian dari literasi sampai detik ini belum bisa membumi di tanah nusantara dan berbaur dengan budaya lainnya yang telah ada.
         Negara kita tercinta jika dibandingkan dengan negara-negara lain dalam hal minat baca masyarakatnya, maka tidak berlebihan jika kemudian dinyatakan memprihatinkan. Bagaiman tidak bila pada realitanya memang demikianlah adanya kondisi dalam negeri ini, sebagimana yang dikemukakan oleh banyak sumber salah satunya oleh kompas,com (29/08/2016) yang menyebutkan bahwa berdasarkan hasil study Most Littered National In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu  indonesia dalam hal minat minat baca, tercecer di peringkat ke 60 dari 61 negara.
         Lebih jauh lagi seperti yang dilansir dari berbagai sumber, UNESCO (2012) menyebutkan jika minat baca masyarakat Indonesia adalah 0,001 dari  keseluruhan jumlah penduduknya yang mencapai sekitar 340 juta jiwa ( sensus penduduk tahun 2012 )dengan kats lain dalam seriu orang hanya ada satu yang memiliki minat baca.Dengan kemajuan zaman salah satunya di bidang teknologi yang semakin mempermudah aktivitas sehari-hari tak terkecuali dalam aktivitas membaca seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik, namun sebaliknya kecanggihan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi justru menjadi candu yang lebih mengarah ke arah yang negatif.
         Dengan budaya membaca yang masih sangat rendah tentu diikuti pula dengan rendahnya kebiasaan menulis sebagai salah satu dari dua bagian inti literasi. Kegiatan menulis bukan hanya sebuah aktivitas keilmuan, namun menulis juga dapat menjadi indikator kemajuan peradaban suatu bangsa dimana memang bangsa yang besar adalah bangsa yang menulis. Ironis memang jika melihat keadaan Indonesia dalam segi menulis, khususnya menulis jurnal internasonal yang bahkan tertinggal jauh dari negara tetangga Malaysia. Berdasarkan data yang dikutip dari Sindonews.com (15/04/2015)  menyebutkan jika tingkat publikasi internasional dalam forum pemeringkatan publikasi ilmiah  SCImago Lab. (www.scimagojr.com ) melaporkan  jumlah publikasi ilmiah dari tahun  1996-2013 berdasarkan data dari SCOPUS, dari 239 negara Indonesia berada di perngkat 61 dan tertingga jauh dari malaysia yang berada di peringkat 37.

Siapa yang berkewajibaan untuk mengatasi ini adalah kita semua yang memiliki kesadaran akan pentingnya literasi, dan bagaimana caranya adalah tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar melalui pendekatan apa pun karena bagaimana pun juga untuk mentranspormasi sesuatu menjadi suatu budaya membutuhkan rentang waktu bertahun-tahun dan dimulai dengan mengkondisikannya menjadi sebuah kebiasaan. Beberapa cara yang sekiranya dapat menjadi salah satu jalan menuju literasi Indonesia yang lebih baik di antaranya adalah melalui lingkungan sekolah dengan menciptakan implus atau pengkondisian para siswanya agar kegiatan literasi seperti membaca dan menulis dapat meningkat, contohya dengan memberikan kelonggaran bagi para siswa yang tergabung dalam ekstrakulikuler kepenulisan atau pun eskstrakulikuler jurnalistik.
        Kelonggaran yang dimaksudkan di sini pastinya harus mengarah pada sesuatu yang beruang lingkup literasi, seperti misalnya pembebasan biaya saat meminjam buku di perpustakaan sekolah dan dengan tenggak waktu yang lebih lama jika dibandingkan siswa biasa yang tidak tergabung dalam ekstrakulikuler tersebut,atau untuk skala yang lebih besar kebijakan semacam ini dapat diterapkan untuk ruang lingkup yang lebih luas seperti meliputi satu wilayah kabupaten atau bahkan satu wilayah provinsi, dimana pemerintah terlibat langsung dengan memberikan subsidi pada toko-toko buku yang tersebar di wilayahnya baik se-kabupaen atau se-provinsi sehingga pembeli dari kalangan pelajar yang tergabung dalam ekstrakulikuler kepenulisan maupun jurnalistik mendapatkan diskon.

Pernyataan literasi Indonesia dalam keadaan urgensi lahir dari kesadaran akan pentingnya literasi bagi keberlangsungan suatu bangsa dan negara untuk kemudian kita bersama-sama mencari solusinya, karena sejatinya kemandirin terpenting yang harus ada dalam suatu negara adalah kemandirian dalam hal kemajuan keilmuan yang dengan unsur ini kemajuan-kemajuan di bidang lainnya dapat dibangun karena jika tidak demikian keadaanya, bukan tidak mungkin pejajahaan atas negeri ini akan terjadi lagi.


























Post a Comment

Previous Post Next Post