Mahasiswa dalam Potret Zaman


Artikel ini telah dimuat pada surat kabar harian Rakyat Cirebon
pada edisi Senin 14 Oktober 2019



                   Kisah heroik kalangan pelajar atau mahasiswa dalam rangkaian peristiwa 1998 mungkin menjadi gambaran paling mewakili tentang bagaimana peran besar yang bisa kalangan terpelajar ini dapat berikan untuk negeri. Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah, dan sebagaimana juga yang kita lihat dalam peristiwa yang menandai bergulirnya babak yang disebut reformasi ,  tiada yang menapikan jika kaum muda merupakan motor perubahan, bahkan dilihat dari sejarah yang lebih jauh ke belakang kita akan menjumpai dan sampai pada 28 Oktober dengan sumpah pemuda dan rangkaian peristiiwa kongres pemudanya.


               Dengan gairah darah mudanya yang masih menyala-nyala dan rasa nasionalisme yang tertanam di sanubari mereka, cita-cita untuk menjadikan 1998 sebagai momentum awal bergulirnya babak reformasi berhasil dillakukan oleh kalangan pemuda khususnya mahasiswa setelah peristiwa  monumental  yang berhasil melengserkan Soeharto dari kursi kekuasaan selama 32 tahun lamanya.

             Lalu bagaimana setelah 20 lamanya setelah reformasi itu berdiri, menerabas ruang dan waktu selama kurang dari seper empat abad tersebut, pada posisi mana para kalangan terpelajar yang disebut mahasiswa menempatkan perannya sebagai motor perubahan negeri, apakah mereka dapat menyerap subtansi perjuangan para mahasiswa terdahulu dalam peristiwa 1998 lalu mengaplikasikannya sesuai medan dan zamannya sekarang ini. Atau justru sebaliknya, dengan tidak memahami medan dan zaman untuknya berjuang malah memunculkannya sebagai golongan yang tidak lebih dari para pembuat onar yang penuh tindakan anarki dalam setiap aksinya dalam demonstrasi.

         Sudah sepatutnya kita semua berbela sungkawa dan mengheningkan cipta sedalam-dalamnya atas realitas dunia pendidikan kita hari ini yang masih dipenuhi oleh lubang di sana-sini dan dari sekian probematika tersebut sudah sepantasnya kita seret mahasiswa bersama kemahasiswanya dalam pembahasan, mengingat mereka merupakan benih-benih yang siap terlahir sebagai para penerus bangsa dan sebagai pemimpin Indonesia di kemudian hari.

            Potret mahasiswa dalam peristiwa 1998 memberikan kita gambaran bahwa kalangan mahasiswa yang berjuang bagi kemaslahatan bersama, demi Indonesia yang jauh lebih baik, bebas dari tindakan korupsi, kolusi serta nepotisme  dan segala bentuk penyimpangan yang dilakukan para penguasa rejim orde baru. Namun keadaannya sekarang jauh terbalik dan kontras.

             Potret mereka di Zaman sekarang jauh dari kesan terang gemilang, buram dan suram menjadi wajah mereka dan segala yang terlihat dari mereka semakin menambah ketidak kejelasan masa depan bangsa yang terbayang. Sebagai kelompok yang terpelajar, mereka menenggelamkan diri dalam pusaran kegiatan akademis namun disaat yang sama melupakan hal-hal esensial yang lainnya. Mereka begitu aktif dalam forum diskusi, sebagaimana yang digambarkan oleh Najwa Shihab jurnalis kondang pembawa program Mata Najwa di stasiun Tv swasta, dalam puisinya tentang mahasiswa dia menuliskan Mahasiswa masa kini Menjadikan forum diskusi Sebagai ajang pamer intelegensi
Menjatuhkan yang lain demi meninggikan gengsi dan di luar dari forum perilaku mereka lebih amoral jauh melebihi statusnya sebagai kalangan intelektual.

           Peristiwa pembakaran anggota kepolisian yang terjadi pada tanggal kamis 15 Agustus 2019 dalam aksi demonstrasi sebagai respon/tuntutan menagih janji anggota DPRD Cianjur terkait buruknya kualitas pendiddikan sebagaimana yang diberitakan oleh berbagai media berakhir dengan hilangnya nyawa Ipda bernama Erwin Yudhha tersebut seminggu lebih  usai pembakaran yang menimpahnya tepatnya pada Senin 26 Agustus dan ini menjadi salah satu cacatan kelam bagi kalangan mahasiswa. Bagaimana mungkin tindakan biadab dan tidak berkeprimanusiaan seperti itu dapat dilakukan oleh seorang mahasiswa yang notabene calon pemimpin bangsa di masa depan dan mengemban tanggung jawab untuk menakodai kapal besar yang disebut Indonesia ini.

        Peristiwa tragis yang menimpa Ipda Erwin Yudha hanyalah sedikit gambaran layaknya gunung es, di luar sana ada bnyak mahasiswa yang berprilaku tidak terpelajar, sehingga tidaklah mengherankan jika kemudian banyak kita jumpai mereka terlibat berbagai jenis tindakan kriminal. Pengedar narkoba, pelaku tindakan pornografi, kekerasan dan radikalisme serta bentuk penyimpangan lainnya. Masa depan bangsa berlahan terlihat suram seiring dengan maraknya tindakan bar-bar yang banyak dilakukan para mahasiswa ini.

          Lebih jauh lagi, sebagai penggambaran akan potret mahasiswa di zaman sekarang, aksi demontrasi yang dewasa ini masif dilakukan oleh kalangan mahasiswa, dengan penuh keprihatinan harus diakui sedikit banyaknya memiliki landasan pijakana yang berbeda dengan aksi demonstrasi yang dilakukan atas nama keadilan yang dilakukan oleh mahasiswa pada peristiwa 1998. Mereka tidak menjadikan demonstrasi sebagai sebuah reaksi atas suatu keadaan yang seharusnya tidak terjadi, namun menjadikan demonstrasi sebagai medan bereksistensi sehingga kegiatan tersebut yang mereka adakan miskin dari subtansi di dalamnya. Banyak dari mereka yang berusaha melambungkan eksistensinya bukan dengan jalan meraih prestasi, sebaliknya dengan jalan-jalan lain seperti aksi demonstrasi yang lebih banyak berakhir dengan tindakan anarki.

          Dan kini perhatian kita kembali tertuju pada aksi massa demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di berbagai tempat di Indonesia akhir-akhir ini, sebuah gerakan sebagai respon atas pengesahan UU KPK yang baru dan RKHUP yang penuh kontroversi tersebut, namun bagaimana pun juga publik tidak berlebihan jika kemudian memandang aksi demonstrasi itu terlalu kebetulan dengan waktu pelaksanaan pelangikan presiden yang akan digelar 20 Oktober mendatang. Dikutip dari berbaggai sumber menunjukan bagaimana massa demonstrasi dari kalangan mahasiswa yang juga diikuti oleh  anak STM di berbagai tempat berakhir dengan aksi anarki dan kekerasan hingga menimbulkan korban jiwa. Sebuah aksi demonstrasi yang tak ubahnya pertunjukan yang bermuatan kekerasan tentu sama sekali tidak mewakili masyarakat seutuhnya ketika di dalamnya ditemukan indikasi yang kuat aksi massa mereka ditumpangi kelompok-kelompok kepentingan politik tertentu.

          Potret-potret negatif kalangan mahasiswa hari ini, di antara belum terpenuhinya ekspektasi masyarakat luas atas perannya sebagai motor pembangunan, kaum muda terpelajar kita masih terlelap dalam buai-buai euforia. Sudah saatnya kita semua selaku mahasiswa memahami medan perjuangan yang telah diciptakan oleh perubahan zaman dan meresapi sepenuhnya gelar dan statusnya sebagai pemuda dari kalangan terpelajar. Dengan demikian, upaya revolusi mental dikalangan mahasiswa sudah seharusnya mendapatkan perhatian yang serius sehingga dikemudian hari tidak ditemukan kelompok berjiwa bar-bar yang menyebut diri mereka sebagai mahasiswa dan mengubah stigma yang terlanjur melekat dengan perangai masyarakat kita yang suka berdemo.
             

2 Comments

Post a Comment

Previous Post Next Post