Telah banyak peristiwa yang terjadi dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara di dalam beberapa waktu belakangan ini. Masih
terlalu jelas dalam kilasan ingatan saya bagaimana isu dan problematika yang
terjadi beberapa waktu yang lalu satu diantaranya telah berhasil menggegerkan
segenap rakyat Indonesia dan menyeret tidak sedikit orang dalam spekulasi tidak
berkesudahan. Sebut saja peristiwa dugaan kasus pelecehan agama oleh sang
mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Cahya Purnomo alias Ahok yang melahirkan
aksi demonstrasi secara besar-besaran yang dinamakan “Aksi Bela Islam 212”, dan
tercatat menjadi aksi demonstrasi terbesar sejak aksi demonstrasi yang
mendorong terjadinya reformasi pada 1998 silam yang monumental itu.
Aksi demonstrasi dengan label aksi
bela tauhid dengan penambahan angka 212 di belakangnya, yang diambil dari waktu
pelaksanaan aksi massa tersebut yakni tanggal 2 bulan Desember, mungkin tidak
salah jika mendapatakan predikat sebagai aksi demonstrasi terbesar yang
tercatat dalam MURI (Museum Rekor Indonesia) yang mengatas namakan agama Islam
dan secara sempit mendeklarasikan bahwa
aksi tersebut sebagai suara umat Islam Indonesia seluruhnya. Angka ratusan ribu yang ikut meramaikan dalam aksi
massa bela Islam 212 mungkin cukup untuk memenuhi kawasan ancol dengan luas
hanya mencapai 80 hektar oleh lautan manusia yang bersikeras dengan aksi mereka
tersebut dapat dengan efektif mempengaruhi jalannya proses hukum dengan Ahok
sebagai tersangka.
Namun tentu saja massa yang
mencapai puluhan ribu tersebut, menjadi sangat kecil jika dibandingkan dengan
umat Islam Indonesia seluruhnya yang masih diatas 80% dari total keseluruhan penduduk
Indonesia mencapai 264 juta jiwa sehingga tidak bisa secara sepihak para
aktivis 212 menganggap jika aksi mereka mewakili umat Islam Indoensia
seluruhnya atau minimal mayoritas umat islam dalam negeri. Memang sudah
sewajibnya, jika proses hukum yang di jalani oleh Ahok atas dugaan kasus
pelecehan agama membuktikan bahwa ia bersalah, maka ia harus menerima sanksi
hukum tersebut, dan tanpa adanya aksi
demosntrasi secara masif yang digerakkan dengan label “Aksi Bela Islam” saya
kira Ahok akan tetap ditetapkan sebagai tersangka dengan kurungan 2 tahun
penjara.
Timbulnya aksi demonstrasi baik dengan
kode 212 adalah bagian dari respon atas
dugaan kasus pelecehan agama yang dilakukan oleh Ahok, dan tujuan demonstrasi
besar tersebut tentu saja agar Ahok ditetapkan sebagai tersangka dan diganjar
dengan hukuman yang setimpal. Namun menariknya, bahkan setelah Ahok ditetapkan
sebagai tersangka dan telah mendekam di dalam jeruji besi selama setahun ini,
gerakan yang berlabel dua kode tersebut masih ada dan kini para aktivisnya
menamakan diri mereka sebagai alumni 212. Hal tersebut semakin memperkuat
dugaan, jika sejak awal demonstrasi yang digaung-gaungkan sebagai aksi bela
agama tak lebih dari sekedar bagian dari drama politik, dengan tujuan yang
sebenarnya adalah untuk memenangkan salah satu calon dalam Pilgub Dki waktu itu.
Jika kita flashback dan kita amati,
sangat mungkin gerakan aksi bela Islam 212 sengaja diciptakan untuk agenda
jangka panjang, dan hal ini dapat dilihat dengan jelas bahkan ketika kasus Ahok
telah dinyatakan selesai, massa dan gerakan yang berakar pada aksi massa 212
masih ada serta terus berlanjut. Dan
dengan secara berlahan semakin terang menunjukan jika gerakan mereka
yang mengatas namakan agama sebenarnya mengorbankan agama itu sendiri demi
sebuah kekuasaan politik , bagaimana tidak jika kemudian mereka kini berhaluan
pada salah satu kubu yang akan berhadapan di Pilpres 2019.
Sebagaimana digambarkan secara jelas
oleh acara reuni akbar alumni 212 yang dilaksanakan hari minggu kemarin di
kawasan Monas yang mereka klaim bukan kegiatan yang bermuatan atau berunsur politik, justru dihadiri oleh
sejumlah tokoh politik yang juga tak lupa memberikan orasi tak ubahnya sebuah
kampanye oleh salah satu kubu yang akan bertarung di Pilpres 2019 mendatang.
Saya sendiri, mengamati berbagai
peristiwa yang terjadi di tanah air tercinta,meyakini satu hal bahwa pada
akhirnya sejarah akan menemukan jalannya sendiri untuk mengungkap kebenaran.
Saya sangat percaya dan meyakini, bahwa baik dan buruknya agenda tersembunyi
dibalik demonstrasi 212 dan orang-orang di dalamnya pada akhirnya akan
dibuktikan oleh waktu. Mungkin perlu saya ingatkan kembali bagaimana memang
sejarah akan menemukan jalannya sendiri, serupa kalimat para pujangga
mengatakan “cinta akan menemukan jalannya sendiri” meskipun keduanya berbeda
pada muaranya. Dan peristiwa-peristiwa sejarah besar yang penuh tabir di masa
lalu berlahan dewasa ini mulai terbuka kebenarannya, sebut saja kebenaran tentang
kelaliman penguasa rezim orba,Soeharto dan kebenaran pelengseran Gus-Dur yang
inkonstitusional.
Indonesia pernah berada pada suatu
masa di mana kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang demokratis hanya
sekedar semboyan belaka dan massa kelam tersebut disebut sebagai orde baru dan
berlangsung selama 32 tahun lamanya. Semua suara dari bawah yang berusaha untuk
mencapai kepermukaan dibrangus dan dijegal dengan dalih menrongrong
pemerintahan demi sebuah kelanggengan kekuasaan. Tiga lembaga yang seharusnya
independen dan berimbang dari segi kekuatan justru tunduk dan disetir oleh
lembaga eksekutif kepresidenan dengan sosok sentralnya yang superpower yakni
Soeharto.
Bagaimana sepak terjang Presiden ke 2
ini di percaturan politik tanah air hingga mencapai kursi Presiden, bagaimana
pun juga berusaha digambarkan pada masa orde baru layaknya seorang satia baja
hitam dari aksinya membrantas G 30s/PKI hingga penyerahan surat perintah 11
maret (supersemar) yang kontroversional. Namun meskipun harus menunggu hingga
32 tahun lamanya pada akhirnya sejarah menemukan jalannya sendiri. Tidak lama
setelah sosok yang pernah dijuluki sebagai bapak pembangunan Indonesia ini
mengundurkan diri dari jabatan Presiden mengikuti meletusnya gerakan
demonstrasi besar-besaran yang menuntut reformasi tahun 1998, banyak suara
muncul kepermukaan yang dulu sempat dibungkam untuk memberikan kesaksian siapa
sebenarnya sosok Soeharto itu.
Misalnya gambaran yang coba
dipaparkan oleh Eros Djarot (pemimpin redaksi tabloid Detak) dalam karyanya
yang berjudul “Siapa Sebenarnya Soeharto”. Dalam buku yang merupakan berisi
hasil wawancara dengan para pelaku dan saksi sejarah tersebut, dengan sangat
jelas salah satunya menggambarkan bagaimana Soeharto adalah seorang perwira
milter yang amoral dan bahkan sempat akan dipecat oleh atasannya akibat
tindakan penggelapan dana operasional yang dilakukan olehnnya namun mendapat
pembelaan oleh Jendral Soebroto sehingga ia hanya dipindahan (baca : dibuang)
kesatuan yangjauh lebih rendah. Dan lebih jauh lagi Eros Djarot memaparkan jika
Soeharto adalah seorang yang sangat opportunis yang mencapai posisi presiden
karena kelihaiannya melihat kesempatan dalam situasi politik yang sedang
memanas saat itu dan muncul layaknya seorang pahlawan untuk mengatasi kekacauan
dalam negeri pada saat itu.
Soeharto dan kebenaran tentang sosonya
adalah satu dari sekian hal yang kemudian pada akhirnya ditelanjangi oleh
sejarah. Dan kita hanya tinggal menunggu waktu bagaimana wajah sebenarnya dari
gerakan 212. Sejarah akan menemukan jalannya untuk menungkap kebenaran.

Post a Comment