SELAMAT TINGGAL LAGU ANAK-ANAK


Anak zaman sekarang lebih suka menyanyikan lagu dewasa yang biasa mereka dengarkan.



               Beberapa dedake yang lalu saat belantika musik tanah air masih memiliki tempat yang ramah bagi anak-anak, banyak bermunculan lagu anak-anak yang populer diantaranya Cicak-Cicak Di Dinding, Baso Bulat, Potong Bebek Angsa dan masih banyak lagi yang lainnya, pada masa itu lagu-lagu tersebut sarat dengan muatan edukasi yang dibutuhkan sebagai bagian dari upaya pembentukan karakter dalam fase tumbuh kembang anak-anak sesuai dengan tingkat usianya.


        Dulu lagu anak-anak dengan segala kesederhanaan liriknya  yang mudah diingat menjadi genre musik yang populer dan banyak diminati khususnya oleh kalangan anak-anak, walaupun perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tidak se-WOW sekarang dengan produk-produknya seperti Youtube, Facebook, Instagram dan yang sejenisnya.

        Namun lihatlah bagaimana eksistensi lagu anak-anak sekarang, ia telah lama tenggelam bagai ditelan zaman. Ia tak kuasa untuk gulung tikar karena tidak sesuai dengan dominasi permintaan pasar jika kita analogikan dengan sebuah perniagaan, yang lebih memberikan ruang dan peluang besar untuk lagu bergenre percintaan orang dewasa karena selama itu menghasilkan pundi-pundi rupiah yang melimpah, mengedukasi atau tidak mengedukasi bukanlah masalah, dan memang selama ini begitulah industri musik berjalan. It’s all about money.

       Orientasi materi inilah yang menyebabkan lagu anak-anak tak memiliki tempat, dan pada akhirnya lagu-lagu orang dewasa tersebut seolah menjadi konsumsi umum, baik untuk orang dewasa ataupun anak-anak.

           Dunia industri musik tanah air, tidak berbeda dengan industri hiburan lainnya yang lebih mengejar rating atau materi sehingga permintaan pasar menjadi aspek terpenting dari segalanya, bahkan lebih penting dibandingkan konten di dalamnya.  Alih-alih para pelaku di balik industri tersebut menyadari apa yang mereka lakukan memiliki damfak negatif secara langsung bagi para generasi bangsa, sebaliknya mereka semakin menjadi-jadi dengan sangat giat menggelar event atau audisi menyanyi untuk kalangan anak-anak dengan membawakan lagu dewasa yang sangat kontras dengan usia anak-anak tersebut yang masih belia, lagi-lagi it’s all about money.

        Hingga pada giliran selanjutnya konsumsi yang bukan untuk peruntukan usia yang seharusnya akan menimbulkan efek yang tidak baik, hal ini pun tidak terkecuali dalam hal mengkonsumsi lagu,  di mana lagu yang di dengarkan oleh anak-anak sekarang adalah lagu-lagu orang dewasa dengan lirik yang hanya cocok dengan alam pikiran orang dewasa dan sangat tidak baik untuk perkembangan anak-anak khususnya dari aspek moral.

    Terdapat banyak lagu orang dewasa yang memiliki lirik yang tidak pantas untuk didengarkan oleh anak-anak karena dikhawatirkan akan ditiru oleh mereka di usia yang masih belia. Salah satunya lirik lagu yang berjudul “Roman Picisan” dari band Mahadewa yang berbunyi “saat ku kecup manis di bibirmu”.

       Kondisi mengkonsumsi lagu dewasa bagi anak-anak yang jamak terjadi tidak diragukan lagi menjadi salah satu faktor kuat yang mendorong seorang anak untuk berprilaku layaknya seorang dewasa yang belum pada waktunya, karena secara psikologi lirik-lirik lagu dewasa yang populer khususunya lagu bertema cinta yang biasa ia dengarkan akan meresap ke alam bawah sadarnya dan menanggap dirinya sudah cukup dewasa untuk melakukan hal-hal yang ada dalam lagu yang didengarkannya, sehingga tidak heran banyak anak belia sekarang yang berani berpacaran bahkan dengan gaya pacaran orang dewasa.

         Namun kita semua pun tidak dapat menutup mata, jika pada kenyataannya kita juga memiliki andil dalam menciptakan kondisi yang demikian. Kita sebagai masyarakat sebegitu menggandrungi dan terlena dengan lagu-lagu yang beredar baik di TV maupun di internet atau pun melalui media lainnya  tanpa mau berpikir panjang tentang ada atau tidaknya lagu yang diperuntukan anak-anak yang sesuai dengan usia dan alam berpikirnya.

    Misalnya saja Jika bukan karena antusiasme dan apresiasi yang sebegitu besar dari masyarakat, tidak akan mungkin akan bermunculan acara ajang pencarian bakat menyanyi bagi anak-anak di mana lagu yang mereka bawakan selalu lagu dewasa seperti misalnya Indoneia  Idol junior.

         Anehnya, entah karena kurang pemahaman atau barang kali telah terjadi pergeseran sebuah tatanan nilai di masyarakat kita. Banyak orang tua yang justru bangga ketika anaknya yang masih belia bisa dengan cakap menyanyikan lagu dewasa yang bukan untuk ukuran usianya dengan bait-bait liriknya yang tidak sepatutnya akrab di telinga mereka.

     Bahkan mungkin pengaruh dari lingkungan keluargalah yang pertama kali mengarahkan anak-anak untuk terbiasa mengkonsumsi lagu-lagu dewasa sedari dini, dan hal ini sangat mungkin ketika memang di lingkungan rumah bersama keluarga, anak-anak menghabiskan banyak waktu mereka untuk menonton acara di TV khususunya musik yang murni untuk orang dewasa mulai dari acara musik dangdut hingga pop dan sama sekali bukan lagu anak-anak karena memang lagu anak-anak telah tenggelam dari dunia hiburan tanah air.

       Lagu anak-anak merupakan bagian dari dunia anak-anak yang akan memiliki pengaruh bagi tumbuh kembang mereka, dan tenggelamnya lagu-lagu tersebut dan digantikannya dengan lagu dewasa yang keberadaannya sangat marak di Indonesia adalah kondisi yang sangat memprihatikanan bagi masa depan anak-anak, karena pengkonsumsian lagu-lagu dewasa bagi anak-anak yang masih berusia belia akan merusak alam pikiran mereka yang belum saatnya menjadi dewasa seperti dalam setiap lirik lagu yang senantiasa mereka dengarkan dari TV maupun dari internet.

       Meskipun sudah pernah ada upaya untuk menyelamatkan lagu anak-anak dari para mantan penyanyi cilik seperti Joshua Suherman, Tasya Kamila, Tina Toon, Sherina dan yang lainnya dengan mengadakan sebuah projek untuk menciptakan lagu anak-anak seperti yang dikutip dari m.cnnindonesia.com (24 agustus 2016), akan tetapi hal tersebut akan sulit mencapai tujuan kelita melihat kenyataan begitu banyaknya rintangan yang menghadang salah satunya adalah dari industri musik tanah air yang kurang memberi ruang karena memang lagu anak-anak tidak memiliki prospek yang dapat mendatangkan keuntungan yang besar secara materil bagi para pelaku di balik industri tersebut.

           Dengan kondisi yang demikian tidak ada cara lain yang lebih efektif dalam memfilter lagu-lagu yang layak didengar oleh anak-anak, selain mngedepankan peran dari orang tua. Orang tua harus selalu mengawasai anak-anaknya dalam memilih tontonan di TV agar kemudian mereka tidak mendengarkan lagu-lagu yang tidak sesuai dengan usianya, bukan malah mengajak sang anak untuk menonton tayangan yang berisi lagu dewasa yang ia sukai yang memang banyak di tawarkan oleh stasiun TV swasta.

Post a Comment

Previous Post Next Post