Dalam segala hal, sebagai bagian dari
upaya untuk mencapai sesuatu dengan gemilang dan hasil yang sangat maksimal,
diperlukan sebuah comparasi atau perbandingan dengan sesuatu atau orang lain
dalam konteks persaingan atau rivalitas yang tetap sehat. Hal ini sangat
penting untuk diperhatikan karena akan menjadi bagian dari evaluasi dan tolak
ukur yang akan semakin meningkatkan kualitas diri kita.
Rivalitas akan mendorong setiap orang yang terlibat di dalamnya untuk terus meng-upgrade diri mereka melampaui standar dari rivalnya masing-masing, dan ketika rivalnya melakukan tindakan yang sama untuk meng-upgrade dirinya, maka ia pun kembali akan berusaha keras meng-upgrade dirinya melampaui dirinya yang sebelumnya. Dan begitu lah seterusnya, dan dari proses demikianlah karakter yang unggul dengan jiwa seorang petarung akan tercipta.
Rivalitas akan mendorong setiap orang yang terlibat di dalamnya untuk terus meng-upgrade diri mereka melampaui standar dari rivalnya masing-masing, dan ketika rivalnya melakukan tindakan yang sama untuk meng-upgrade dirinya, maka ia pun kembali akan berusaha keras meng-upgrade dirinya melampaui dirinya yang sebelumnya. Dan begitu lah seterusnya, dan dari proses demikianlah karakter yang unggul dengan jiwa seorang petarung akan tercipta.
Terkait dengan hal ini, ada sepotong
kisah yang menggambarkan bagaimana arti yang tidak bisa kia sepelehkan dari
atmosfir yang tercipta dari lingkar rivalitas. Terdapat dua orang siswa, yaitu budi dan
tono yang sejak kelas 1 smp relatif memiliki kemampuan yang sama. Mereka berdua
duduk di kelas yang berbeda, si Budi di kelas A dan si Tono di kelas B, dan
mereka masing-masing memiliki capaian nilai akademik yang sama.
Berjalannnya waktu, mereka berdua lulus dan keduanya melanjutkan di sekolah yang berbeda. Si Budi melanjutkan ke SMA Bunga bangsa dan Si Tono melanjutkan ke SMA Bakti Bangsa. Berbeda dengan si Tono, Budi masuk SMA dengan budaya rivalitas yang tinggi di mana setiap siswa tidak ingin kalah dari siswa yang lainnya. Selama sekolah Budi memiliki banyak rival di kelasnya yang selalu ingin ia kalahkan dalam capaian prestasi, ia selalu berusaha meng-upgrade kualitas dirinya dan capaian terbaik yang pernah ia capai hanya sampai peringkat 3 di kelasnya.
Sedangkan Si Tono, masih tetap dengan predikat peringkat satnya sama seperti waktu SMP dulu. Lalu pertanyaannya, apakah kualitas Budi dan Tono yang sekarang masih pada level yang setara seperti dulu, tentu sekarang kondisinya sudah jauh berbeda, meskipun Budi hanya meraih peringkat ke 3 dan Tono meriah peringkat 1-nya, akan tetapi standar kualitas Budi telah jauh di atas Tono.
Berjalannnya waktu, mereka berdua lulus dan keduanya melanjutkan di sekolah yang berbeda. Si Budi melanjutkan ke SMA Bunga bangsa dan Si Tono melanjutkan ke SMA Bakti Bangsa. Berbeda dengan si Tono, Budi masuk SMA dengan budaya rivalitas yang tinggi di mana setiap siswa tidak ingin kalah dari siswa yang lainnya. Selama sekolah Budi memiliki banyak rival di kelasnya yang selalu ingin ia kalahkan dalam capaian prestasi, ia selalu berusaha meng-upgrade kualitas dirinya dan capaian terbaik yang pernah ia capai hanya sampai peringkat 3 di kelasnya.
Sedangkan Si Tono, masih tetap dengan predikat peringkat satnya sama seperti waktu SMP dulu. Lalu pertanyaannya, apakah kualitas Budi dan Tono yang sekarang masih pada level yang setara seperti dulu, tentu sekarang kondisinya sudah jauh berbeda, meskipun Budi hanya meraih peringkat ke 3 dan Tono meriah peringkat 1-nya, akan tetapi standar kualitas Budi telah jauh di atas Tono.
Selang beberapa tahun kemudian, Budi berhasil
melanjutkan kuliah di salah satu universitas bergengsi di tanah air meskipn
selama sekolah di SMA dulu ia tak pernah meraih peringkat pertama, sedangkan
Tono yang selalu meraih peringkat pertama di SMA-nya dengan budaya rivaitas
yang sangat kurang, pada akhirnya hanya bisa masuk universitas yang tidak
begitu di kenal.
Dengan memperhatikan cerita di atas ,
dapat menjadi gambaran jika rivalitas adalh salah satu katalisator untuk kita
semakin melecut diri dalam meningkatkan kualitas diri kita pada level yang
lebih tinggi. Mulai dari sekarang
buatlah daftar orang-orang yang akan kamu jadikan sebagi rival yang harus kamu
lampaui, tapi harus diingat pula bijaklah dalam memilih rival karena kadang kita
juga harus mengukur kemampuan diri kita saat ini, mulailah memilih seorang
rival yang kemampaunnya tidak telampau jauh dari kita, jangan tiba-tiba kita
yang berada di level 10 langsung ingin melampui orang berada di level 1.
Semua butuh proses, mulailah step by step, jika kita sudah melakukan upgrade diri ke tingkat yang lebih tinggi barulah kita bisa memilih rival yang lebih berkualitas dari sebelumnya.
Semua butuh proses, mulailah step by step, jika kita sudah melakukan upgrade diri ke tingkat yang lebih tinggi barulah kita bisa memilih rival yang lebih berkualitas dari sebelumnya.

Post a Comment