MENGGALI NILAI-NILAI DALAM PERISTIWA 10 NOVEMBER


        
Artikel ini telah dimuat di Kabar Cirebon pada 12 November 2018
   
                    Surabaya dan 10 november akan selalu memiliki arti penting dalam catatan sejarah Indonesia terkait bagaimana dengan penuh susah payahnya bangsa ini mempertahankan kemerdekaan yang harus dibayar tidak hanya oleh tetesan keringat, melainkan juga dengan cucuran air mata serta tumpahan darah yang telah membasahi bumi pertiwi ini. Kini setelah 73 tahun waktu telah berlalu, peristiwa 10 november yang sampai detik ini selalu diperingati sebagai hari pahlawan adalah momentum untuk mengingatkan kembali bahwa ada banyak pelajaran dan pembelajaran yang dapat kita semua ambil dibalik peristiwa 10 november tersebut, sehingga kemudian arti penting dari peringatan ini dapat memiliki manfaat secara nyata bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini.


         Dengan melihat kondisi dalam negeri belakangan ini, sangat tepat kiranya jika kita kembali merenungkan makna dari peringatan hari pahlawan, karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat relevan jika kita ambil sebagai pelajaran  untuk menuju Indonesia yang lebih baik. Nilai-nilai yang tanpa keberadaannya saat itu, maka peristiwa yang fenomenal berupa peristiwa perlawanan atas sekutu tidak akan pernah terjadi. Dan peringatan yang senantiasa dilaksanakan setiap tahunnya, selain untuk mengingat kembali sejarah bagaimana bangsa ini terbentuk sebagai upaya untuk semakin memperkokoh identitas ke-Indonesia-an kita, juga untuk kembali menggali nilai-nilai di dalamnya yang menjiwai berkobarnya 10 November di Surabaya kala itu.

       Nilai pertama yang dapat kita ambil sebagai pelajaran adalah nilai perjuangan. Bagaimana rakyat Indonesia saat itu berjuang dengan segala daya dan upaya untuk dengan lantang menolak segala bentuk kolonialisme dan imperialism. Dengan segala keterbatasan persenjataan rakyat Indonesia saat itu, menghadapi peralatan modern yang digunakan oleh sekutu tidak menjadikannya begitu saja menyerah walau Surabaya kala itu harus di bombardir baik dari darat, laut bahkan dari udara yang menyebabkan tidak sedikit korban berjatuhan di pihak Indonesia. Tanpa rasa perjuangan yang tertanam kuat di sanubari para pejuang kita saat itu, tidak mungkin kiranya Surabaya menjadi medan tempur yang berat bagi pihak sekutu.

       Dan sekarang sudah menjadi kewajiban kita bersama sebagai rakyat Indonesia, untuk meresap nilai perjuangan tersebut dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan kondisi zamannya. Jika para pahlawan dahulu berjuang dengan mengangkat senjata dan turut serta dalam medan laga, maka kita sekarang juga harus turut serta berjuangan tentu dalam medan laga yang berbeda. Kita sekarang harus berjuang dengan jalan saling bahu-membahu untuk menciptakan Indonesia yang penuh dengan kemajuan.

             Contoh perjuangan yang bisa dilakukan Jika kita seorang pelajar maka bentuk paling nyata perjuangan kita untuk bangsa ini adalah dengan  belajar sehingga mencapai prestasi yang akan berguna bagi kelangsungan bangsa Indonesia ke depannya, dan jika kita seorang Guru maka bentuk paling nyata perjuangan kita adalah dengan mengajar dengan penuh pengabdian untuk membentuk para generasi bangsa yang unggul. Jalan perjuangan seperti itulah yang saat ini bisa kita lakukan dalam upaya meresapi makna dari nilai perjuangan di balik peristiwa 10 November.




        Nilai yang kedua adalah nilai persatuan. Sangat tepat jika sebuah pepatah mengatakan “bersatu kita teguh, bercerai kita berantakan”. Sebagaimana dalam peristiwa 10 November 1945 yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat Indonesia baik dari kalangan santri maupun dari kalangan rakyat biasa, semuanya menyatu menjadi satu kekuatan untuk melawan upaya pihak sekutu yang berusaha didirikan kembali  di negeri Indonesia. Dengan segala kekurangan dari segi persenjataan di pihak Indonesia, faktor yang memberikan kontribusi terbesar dalam perlawana rakyat Indonesia tersebut adalah persatuan diantara mereka yang menciptakan kekuatan yang tidak mudah dihancurkan oleh pihak sekutu, meski mereka jauh lebih unggul dari segi teknologi persenjataan maupun strategi.

     Ironis memang melihat apa yang terjadi di masyarakt kita sekarang ini, di mana mereka saling menghujat dan menyudutkan satu sama lainnya dan terjebak ke dalam perseteruan yang tiada akhirnya Karena perbedaan haluan kelompok politik seolah sudah tidak ada lagi rasa  persatuan di hati mereka.  Rasa persatuan sebagai satu bangsa yang besar, harus senantiasa di rawat dengan penuh kesadaran bahwa kondisi yang demikian merupakan sumber kekuatan kita bersama. Perbedaan kelompok yang terdapat dalam masyrakat kita, baik kelompok agama yang berbeda, kelompok atau halua partai politik yang berbeda maupun perbedaan kelompok dalam aspek yang lainnya, jangan sampai mencerai-beraikan rasa persatuan kita yang sangat berharga.

       Nilai yang ketiga yang dapat kita gali dari peristiwa 10 November 1945 adalah nilai nasionalisme. Bagaimana pun juga peristiwa 10 November merekam, bagaimana segenap rakyat Indonesia dengan penuh kesadaran tidak ingin tanah airnya yang tercinta di injak-injak lagi oleh bangsa asing seperti yang telah terjadi selama berabad-abad lamanya dan menyisakan penderitaan, dan ini mengilhami mereka untuk berdiri melawan ketika para penjajah hendak menginjak-injak kembali bumi pertiwi yang baru beberapa saat kemerdekaannya telah digenggang. Tanpa dijiwai oleh rasa nasionalisme, 10 November akan menjadi sebuah tanggal biasa setelah tanggal 9 dan sebelum tanggal 11 dalam kalender, tanpa tercatat sebagai salah satu bentuk perlawanan paling legendaris rakyat Indonesia.  

            Rasa nasionalisme ini sangat penting untuk tetap dipertahanka keberadaannya, apa lagi ketika di hadapkan perkembangan zaman yang semakin mengaburkan rasa nasionalisme di hati para generasi muda zaman sekarang. Adalah sangat keliru anggapan dari suatu kelompok seperti misalnya HTI yang beberapa waktu lalu secara resmi dibekukan badan hukumnya yang mengatakan bahwa nasionalisme tidak diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana dikutip dari detiknews.com (10 Mei 2018), penolakan atas aspek penting dari nasionalisme ini secara nyata merupakan bentuk ketidak mampuan atau keengganan untuk melihat fakta sejarah bangsa Indonesia yang panjang dalam perjuangan meraih kemerdekaan, di mana rasa nasionalisme memainkan peranan yang sangat penting dan terciptanya NKRI ini, lalu bagaimana mungkin mereka dengan semudah itu menyatakan nasionalisme tidak penting.

        Demikianlah nilai-nilai yang dapat kita gali dari peristiwa 10 November ini 1945, untuk kemudian tidak hanya sekedar diperingati sebagai agenda rutin tahunan belaka, melainkan setelah itu dapat mendorong dan mengilhami lahirnya sebuah aksi, karena hanya dengan demikian arti penting peringatan 10 November memiliki ruh yang merupakan semangat dari peristiwa yang hari ini dikenal sebagai hari pahlawan.

Post a Comment

Previous Post Next Post