LDKO YANG 80% PERPLONCOAN


Gambar hanya ilustrasi


           LDKO atau kepanjangan dari Latihan Dasar Kepemimpinan Osis merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan sebagai bentuk pengukuhan sekaligus pelantikan bagi seluruh anggota pengurus osis yang baru. Jika di lihat dari nama kegiatannya mungkin hal pertama yang terbayangkan di dalam kepala atas kegiatan tersebut adalah sebuah kegiatan yang berisi hal-hal yang akan membentuk karakter-karakter yang diperlukan oleh seorang pemimpin, namun miris, dalam prakteknya di lapangan LDKO tak ubahnya dengan serangkaian kegiatan yang sarat dengan aksi perploncoan yang sangat kental dengan nuansa senioritas dan penekanan.


       Alih-alih para peserta LDKO diberi pembekalan tentang jiwa leadership, serangkaian kegiatan yang ada di dalamnya lebih dominan di isi dengan kegiatan yang cendrung memposisikan para peserta menjadi tertekan, baik stimulus yang diberikan dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk fisisk berupa hukuman-hukuman yang di berikan bagi mereka yang melakukan kesalahan atau bagi mereka yang tidak mengindahkan instruksi dari petugas yang notabene seniornya. Pemberian materi yang berkaitan langsung dengan leadership memang ada, namun dalam porsi yang sangat sangat sedikit jika dibandingkan dengan kegiatan yang lainnya.

        Dalam prakteknya, setiap peserta seperti dalam perploncoan murid baru masuk sekolah, dalam LDKO setiap dari mereka diwajibkan membawa sesuatu baik yang sifatnya peorangan maupun per-regu. Layaknya penggemblengan dalam suatu pelantikan dalam ekstra kulikuler yang jamak terjadi khususnya di ekstrakulikuler pramuka, maka didesign lah sedemikian rupa keadaan tegang dengan tujuan untuk membentuk mental para peserta agar bermenta tahan banting, setidaknya itulah peniaian mereka (orang-orang yang membenarkan LDKO dengan model perploncoan), kebanyakan dari mereka yang melaksanakan model LDKO seperti ini, adalah mereka yang telah menjadi bagian dari tradisi dalam aksi-aksi yang penuh nuansa senioritas dan telah mengakar sejak mereka berada di bangku SMP.

         Setelah semua kegiatan yang telah menguras banyak waktu dan tenaga sejak sore hari, tepat sekitar pukul 12 malam setelah para peserta istirahat timur kilat selama hanya 1 jam, setiap peserta dibangunkan untuk melaksanakan kegiatan selanjutnya yang merupakan kegiatan yang menjadi puncaknya, yakni kegiatan mengelilingi setiap pos yang telah disebarkan disekitar lingkungan sekolah. Pos-pos tersebuat yang terbagi ke dalam berbagai jenis pos yang juga akan memberikan tugas yang berbeda pada setiap regu sesuai dengan jenis posnya, pos-pos tersebut ada yang ditempatkan di pinggir jalan, pinggir sawah, bahkan pinggir kuburan dengan tugasnya mencari sebuah tanda ditengah-tengah kuburan yang harus ditemukan untuk melanjutkan ke pos selanjutnya.

        Dan akhir dari rangkaian mengelilingi setiap pos ini, disiapkan sebuah rintangan yang telah dibuat dan dirancang sedemikian rupa, di mana setiap peserta harus melewati rintangan yang dibuat diatas sawah yang penuh lumpur dengan berjalan merangkak layaknya latihan fisik seorang tentara seperti dalam film-film, dan biasanya kegiatan bagian ini berlangsung saat menjelang shubuh. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga telah menyiapkan sebuah jembatan bambu yang sengaja dibuat sedemikian licin agar tidak mudah dilalui oleh semua peserta.

         Serangkaian kegiatan perploncaan dalam kegiatan LDKO tersebut terus terjadi dan tetap keukeuh dilaksanakan dengan cara demikian, bukan karena keefektifan dengan cara yang seperti itu akan membentuk individu-individu berjiwa pemimpin yang kuat. Omong kosong belaka jika aksi-aksi perploncoan tersebut memiliki keterkaitan dengan pembentukan karakter yang berjiwa leadership yang tinggi, jika pun selama ini LDKO bernuansa senioritas yang kuat tersebut tetap dapat berjalan itu tak lebih karena tradisi, tradisi yang berusaha untuk tetap dihidupkan tidak peduli itu memiliki manfaat secara langsung atau tidak dalam kaitannya dengan pembentukan karakter yang berjiwa leadership.

       Sayangnya kegiatan dengan model seperti  ini masih banyak diterapkan dibanyak sekolah, tanpa mau melihat bahwa dasar dari pelarangan perploncoan untuk siswa baru, sama sekali tak berbeda dengan perploncoan yang mereka laksanakan dengan atas nama LDKO atau apa pun itu namanya.  


Post a Comment

Previous Post Next Post