LDKO atau
kepanjangan dari Latihan Dasar Kepemimpinan Osis merupakan sebuah kegiatan yang
dilaksanakan sebagai bentuk pengukuhan sekaligus pelantikan bagi seluruh
anggota pengurus osis yang baru. Jika di lihat dari nama kegiatannya mungkin
hal pertama yang terbayangkan di dalam kepala atas kegiatan tersebut adalah
sebuah kegiatan yang berisi hal-hal yang akan membentuk karakter-karakter yang
diperlukan oleh seorang pemimpin, namun miris, dalam prakteknya di lapangan LDKO
tak ubahnya dengan serangkaian kegiatan yang sarat dengan aksi perploncoan yang
sangat kental dengan nuansa senioritas dan penekanan.
Alih-alih para
peserta LDKO diberi pembekalan tentang jiwa leadership, serangkaian kegiatan
yang ada di dalamnya lebih dominan di isi dengan kegiatan yang cendrung
memposisikan para peserta menjadi tertekan, baik stimulus yang diberikan dalam
bentuk verbal maupun dalam bentuk fisisk berupa hukuman-hukuman yang di berikan
bagi mereka yang melakukan kesalahan atau bagi mereka yang tidak mengindahkan
instruksi dari petugas yang notabene seniornya. Pemberian materi yang berkaitan
langsung dengan leadership memang ada, namun dalam porsi yang sangat sangat
sedikit jika dibandingkan dengan kegiatan yang lainnya.
Dalam
prakteknya, setiap peserta seperti dalam perploncoan murid baru masuk sekolah, dalam
LDKO setiap dari mereka diwajibkan membawa sesuatu baik yang sifatnya peorangan
maupun per-regu. Layaknya penggemblengan dalam suatu pelantikan dalam ekstra
kulikuler yang jamak terjadi khususnya di ekstrakulikuler pramuka, maka
didesign lah sedemikian rupa keadaan tegang dengan tujuan untuk membentuk
mental para peserta agar bermenta tahan banting, setidaknya itulah peniaian
mereka (orang-orang yang membenarkan LDKO dengan model perploncoan), kebanyakan
dari mereka yang melaksanakan model LDKO seperti ini, adalah mereka yang telah
menjadi bagian dari tradisi dalam aksi-aksi yang penuh nuansa senioritas dan
telah mengakar sejak mereka berada di bangku SMP.
Setelah semua
kegiatan yang telah menguras banyak waktu dan tenaga sejak sore hari, tepat
sekitar pukul 12 malam setelah para peserta istirahat timur kilat selama hanya
1 jam, setiap peserta dibangunkan untuk melaksanakan kegiatan selanjutnya yang
merupakan kegiatan yang menjadi puncaknya, yakni kegiatan mengelilingi setiap
pos yang telah disebarkan disekitar lingkungan sekolah. Pos-pos tersebuat yang
terbagi ke dalam berbagai jenis pos yang juga akan memberikan tugas yang
berbeda pada setiap regu sesuai dengan jenis posnya, pos-pos tersebut ada yang
ditempatkan di pinggir jalan, pinggir sawah, bahkan pinggir kuburan dengan
tugasnya mencari sebuah tanda ditengah-tengah kuburan yang harus ditemukan
untuk melanjutkan ke pos selanjutnya.
Dan akhir dari
rangkaian mengelilingi setiap pos ini, disiapkan sebuah rintangan yang telah
dibuat dan dirancang sedemikian rupa, di mana setiap peserta harus melewati
rintangan yang dibuat diatas sawah yang penuh lumpur dengan berjalan merangkak
layaknya latihan fisik seorang tentara seperti dalam film-film, dan biasanya
kegiatan bagian ini berlangsung saat menjelang shubuh. Tidak cukup sampai di
situ, mereka juga telah menyiapkan sebuah jembatan bambu yang sengaja dibuat
sedemikian licin agar tidak mudah dilalui oleh semua peserta.
Serangkaian
kegiatan perploncaan dalam kegiatan LDKO tersebut terus terjadi dan tetap
keukeuh dilaksanakan dengan cara demikian, bukan karena keefektifan dengan cara
yang seperti itu akan membentuk individu-individu berjiwa pemimpin yang kuat.
Omong kosong belaka jika aksi-aksi perploncoan tersebut memiliki keterkaitan
dengan pembentukan karakter yang berjiwa leadership yang tinggi, jika pun
selama ini LDKO bernuansa senioritas yang kuat tersebut tetap dapat berjalan
itu tak lebih karena tradisi, tradisi yang berusaha untuk tetap dihidupkan
tidak peduli itu memiliki manfaat secara langsung atau tidak dalam kaitannya
dengan pembentukan karakter yang berjiwa leadership.
Sayangnya
kegiatan dengan model seperti ini masih
banyak diterapkan dibanyak sekolah, tanpa mau melihat bahwa dasar dari
pelarangan perploncoan untuk siswa baru, sama sekali tak berbeda dengan
perploncoan yang mereka laksanakan dengan atas nama LDKO atau apa pun itu
namanya.

Post a Comment