INTERAKSI SOSIAL DAN FENOMENA PHUBBING


         


       Interaksi sosial antar individu, merupakan aktivitas alamiah manusia sebagai mahluk sosial. Sudah menjadi salah satu tabiat dasar manusia untuk menjalin kontak dengan manusia lainnya melalui berbagai cara,
 baik melalui simbol-simbol maupun melalui media yang lebih tinggi seperti bahasa. Namun demikian cara dan sifat dari interaksi ini pun tak lepas dari hakikat manusia sebagai mahluk yang menghasilkan kebudayaan, dengan kata lain kebudayaan akan memiliki peran sentral terkait akan seperti apa arah dari interaksi sosial dari suatu bangsa. Tanpa kita sadari, setiap hari kita melakukan interaksi sosial, namun yang perlu kita pahami adalah sebuah fakta bahwa dewasa ini kita telah kehilangan kualitas berinteraksi dalam lingkungan sosial kita.

      Sekiranya sudah sepatutnya kita bersyukur  telah hidup dan menjadi bagian  masyarakat modern seperti sekarang ini, di mana segala aktivitas yang kita lakukan dapat dibantu oleh produk kemajuan zaman berupa teknologi sehingga lebih ringan dan singkat, tidak terkecuali dalam kaitannya dengan interaksi  sosial kita. Sejak jaringan global yang disebut internet berhasil diciptakan, praktis dalam waktu yang relatif singkat telah mengubah dan mendorong kita semua sebagai warga dunia dalam hal cara berkomunikasi. Tak lama setelah itu, sejak dunia dikenalkan dengan E-mail, cara tradisional untuk berkomunikasi melalui surat-menyurat tergantikan oleh produk internet yang inovatif tersebut, yang dalam praktiknya memang jauh lebih efisien penggunaannya dibandingkan surat-menyurat dengan cara konvensional.

          Pada giliran selanjutnya, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang ada telah nyata membawa kita begitu  tergantung pada suatu perangkat yang disebut gadget yang notabene salah satu fungsinya untuk mengaksses layanan informasi dan komunikasi. Harus diakui, kehadiran teknologi yang ada khususnya yang tersemat dalam perangkat kecil ini telah mampu mendekatkan yang jauh antara individu satu sama lain, baik itu lintas kota, lintas negara bahkan lintas benua berkat internet sebagai jaringan global. Mendekatkan yang jauh, itulah sisi positif yang dihadirkan kemajuan di bidang IT deawasa ini, namun di saat yang sama aktivitas gadgeting sangat menguras waktu dan perhatian para penggunannya, hingga tak sadar berlahan kehidupan sosialnya teralihkan ke dalam dunia virtual, mereka hidup di sana dan menghabiskan banyak waktu untuk beraktivitas di sana daripada dipermukaan atau dua nyatanya.
        Menjauhkan Yang Dekat
     Inilah salah satu damfak negatif yang timbul dari aktivitas gadgeting yang sekaligus menjadi ironi tersendiri. Aktivitas gadgeting yang tdak bisa ditinggalkan oleh manusia-manusia modern telah menimbulkan implikasi yang secara nyata telah banyak terjadi. Aktivitas gadgeting yang mengalihkan perhatian individu hingga mengesampingkan interaksi sosialnya secara langsung saat beberapa individu berkumpul  karena terlalu terpaku dengan gadgetnya masing-masing di sebut “Phubbing”.

       Istilah phubbing yang berasal dari kata phone dan snubbing, meski masih terdengan asing bagi masyarakat umum, sebenarnya telah dikenalkan sejak beberapa tahun silam. Sebagaima dilansir dari m.cnnindonesia.com (14/07/2017), disebutkan bahwa istilah phubbing telah ada sejak tahun 2012 yang genjar dikampanyekan oleh agensi periklanan McCann dan kemudian ikut diramaikan oleh media-media. Dewasa ini, istilah tersebut kembali menjadi tren kembali berkay study yang dilakukan oleh James Robert dan Dr.Meredith david dari Baylor University di Texas. Dalam study yang mereka lakukan, dari 143 koresponden yang dijadikan sampel, yang postif mngalami ketergantungan terhadap gadget dan melakukan prilaku phubbing mencapai 70% dari jumlah keseluruhan.

        Prilaku phubbing menyebar sejalan dengan besarnya penyebaran gadget yang begitu tinggi di Indonesia. Telah tercatat, sebagai negara dengan jumlah pengguna smartphone di dunia, Indonesia menempati posisi peringkat ke 5 dengn jumlah penggunya mencapai 45 juta (m.detik.com, 30/02/2014) dan tentu jumlah ini akan terus meningkat. Tak ayal, fakta ini memberikan gambaran jika prilaku phubbing juga tentu sja menjamr di dalamnya. Phubbung sebagai fenomena prilaku masyarakat modern, tidak hanya menjangkiti kalangan usia remaja dan anak muda, karena orang dewasa yang telah berkeluarga sekali pun tak luput dar prilaku menyimpang ini. Dan perlu dicatat juga, jika prilaku ini tidak memiliki  perbedaan yang jauh antara di desa dan di kota.

       Prilaku individu yang menunjukan kecendrungan merasa lebih nyaman saat melakukan aktivitas gadgeting dibandingkan dengan aktivitas interaksi  secaralangsung dengan lingkungan sekitarnya, merupakan penyimpangan prilaku yang akan merusak kualitas hubungan antar individu. Media sosial yang merupakan tempat yang identik dengan dengan aktivitas gadgeting karena paling banyak diakses dengan perangkat ini, mirisnya telah menjadi sesuatu yang berlawanan dengan fungsi dan tujuan awal akan keberadaannya. Media sosial telah menjadikan begitu banyak penggunanya untuk lebih banyak hidup dan aktif di dunia maya. Kendati demikian media sosial tidak bisa disalahkan begitu saja mengingat ia hanyalah sebuah media atau alat belaka, yang baik dan buruknya tergantung dari penggunnya. Kuncinya terletak pada control dari kita sendiri selaku pengguna, namun kondisi ini memang mulai memburuk dengan semakin banyak penggunanya yang bertindak di luar control yang seharusnya.
       Megutip ungkapan dari ilmuwan terkemuka dunia pemilik formula E=M, Albert Einstein. Ia pernah berkata “I fear the day when technology will surpass ourhuman interaction. The world will have a generation ofidiot” (Saya takut hari di mana teknologi melampaui interaksi kemanusiaan kita,. Dunia akan memiliki generasi yang idiot), dan suka atau tidak, ungkapannya tersebut kini telah mulai nyata terjadi. Idiot di sini bukan merujuk pada makna secara harfiah, akan tetapi digunakan untuk menggambarkan kondisi penyimpangan dan premature dalam konteks interaksi sosial.

      Berangkat dari ungkapan ilmuwan jenius Albert Einstein tersebut, sekiranya kita bisa lebih bijak dalam menggunakan teknologi khususnya di bidang IT untuk tidak berada di luar kontrol yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dengan pemahaman bahwa bagaimana pun juga juga interaksi atau kontak secara langsung selalu lebih baik dan utama, terlebih lagi, kehadiran gadget dan layanan media sosialnya, sejatinya  untuk membantu komunikasi kita, mendekatkan yang jauh, bukan malah menjauhkan yang dekat marilah gunalkan gadget dengan bijak, marilah bermedia sosial dengan bijak.
        

Post a Comment

Previous Post Next Post