Ketika Masa-Masa ORBA Menemui Titik Baliknya


Apa jadinya sebuah negara yang sedang menggalakan upaya  dengan penuh kesungguhan untuk satu jalan yakni pembangunan, namun pada saat yang sama masyarakatnya (meski hanya sebagian) sebagai salah satu komponen yang penting dalam negara itu sendiri, justru terlalu sibuk memberi perhatian untuk mengomentari dan
mengkritisi yang bersifat  cendrung tidak posisif, di mana mereka lebih cendrung menyerang serangkain upaya pemerintah tersebut yang dalam pandangan mereka masih jauh dari kata ideal.

Dengan dasar pandangan politik yang sempit, mereka lebih memilih untuk mengambil sikap seolah acuh tak acuh terhadap kinerja pemerintah, dibandingkan berjalan beriringan dalam satu sinergi dan mendukung setiap kebijakan pemerintah dengan kesadaran serangkain kebijakan tersebut akan berjalan dengan maksimal, hanya jika masyarakatnya ikut serta terlibat di dalamnya, bukan malah menjadi warga negara yang bersikap pesimistis terhadap pemerintahannya sendiri dan berakhir pada understimate atau meremehkan segala pencapaian yang diraih oleh pemerintahan, yang tetap kecil dalam kriteria atau standar mereka.

Di lihat dari gambaran di atas, mirisnya fenomena yang demikian telah dengan nyata serta jelas terjadi di tanah air kita tercinta, Indonesia. Dan kecendrungan ini semakin vocal ketika diakomodasi selebar-lebarnya oleh media sosial. Tidak sulit bagi kita untuk menemukan ujaran-ujaran yang terlampau mendiskreditkan ketercapaian kebijakan-kebijakan pemerintah, tak jarang pula dengan sangat ekstrem mereka menghina presiden sebagai kepala negara mereka sendiri, yang seharusnya mereka hormati sebagaimana mestinya, karena bagaimana mungkin masyarakat dunia akan menghormati negara kita melalui simbolnya (presiden) jika warganya sendirinya enggan untuk melakukan hal yang demikian. Anehnya, Bapak Jokowi sebagai Presiden kita yang ke tujuh ini, mendapat tidak sedikit pujian dari negara-negara lain ketika banyak warganya sendiri yang menghina beliau.
          Sikap kritis dalam kehidupan bernegara memang  diperlukan, dan memang harus dimiliki warga suatu negara, kkhusususnya di Indonesia. Terlebih hal yang demikian telah dijamin  oleh undang-undang terkait kebebasan berpendapat, namun hal yang kemudian harus ditekankan di sini adalah bahwa kritik yang dimaksud adalah kritik yang tetap mengacu pada kontruksi positif yang sifatnya membangun bukan malah sebaliknya yang justru berpotensi memecah belah bangsa. Melihat kondisi ini yang sedang menyelimuti tanah air, bertolak dari kenyataan ini sejatinya  kita sedang menyaksikan era-era di mana masyarakat kita larut dalam euforia kebebasan berpendapat sebagai titik balik dari masa-masa saat suara rakyat dibungkam di rezim orde baru, sehingga ada aggapan potensial yang mengatakan bahwa siapa pun presidennya, ia tidak akan luput dari kritik pedas bahkan caci maki dari rakyatnya sendiri.

Sejak pemilu 2014 yang lalu, seharusnya segenap rakyat Indonesia dapat bersatu dalam upaya membangun negeri yang perlu banyak pembenahan ini, dan hal yang demikian dapat diimplementasikan minimal melalui dukungannya terhadap program serta kebijakan dari pemerintah, bukan malah terlalu sibuk mengorek-ngorek kesalahan pemerintah dengan nuansa politik yang begitu kuat  tanpa mau menunjukan sikap sebagai warga negara yang baik dengan bersikap positif terhadap pemerintah.

 Dalam pesta demokrasi, orientasi serta haluan partai politik kita boleh beda, entah itu hitam, hijau, biru maupun jingga sekalipun bendera yang kita kibarkan dalam pemilu, akan tetapi ketika pentas politik yang diselenggarakan setiap 5 tahun ini berakhir dan menghasilkan sebuah keputusan (pemenang), maka sebagai warga negara yang baik dan memiliki rasa nasionalisme, sudah sewajibnya melupakan warna bendera yang pernah kita kibar-kibarkan Karena pada akhirnya  tidak ada bendera yang lebih tinggi dan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita, selain bendera merah putih. Sehingga dengan pemahaman seperti ini, siapa yang akan terpilih untuk memimpin kita semua, kita akan mendukung setiap langkanya selama itu demi kebaikan segenap manusia Indonesia, tidak peduli dari partai mana pun.

Perang tagar sebagai mana yang dikutip dari berbagai sumber,  yang sempat memanas antara kubu yang pro dan kontra terhadap pemerintah, terlebih fenomena ini juga tak luput dari aksi-aksi persekusi seperti yang dialami oleh seorang ibu beserta anaknya dalam CFD yang viral di media sosial beberapa waktu lalu, menjadi indikasi tersediri bahwasanya masih banyaknya warga kita yang kurang dalam pemahaman bagaimana seharusnya menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Mirisnya sentiment berbau politik yang masih terbawa sejak berakhirnya pemilu, tidak hanya mengerucut pada kelompok elit yang memiliki kepentingan politik, namun juga menyentuh pada tataran masyarakat, sehingga fenomena-fenomena seperti perang tagar yang berisi seruan untuk mengganti presiden pada 2019 nanti yang dilawan dengan seruan presiden sedang sibuk berkerja,ini tidak seharusnya terjadi.

Post a Comment

Previous Post Next Post