THE ROBIN HOOD OF HACKING


Wikileaks menjadi sebuah fenomena yang sangat bertenaga dalam menarik perhatian dunia, bagaimana tidak jika kemudian ia merupakan situs yang telah membeberkan dokumen-dokumen rahasia di hadapan umum dari berbagai negera tidak terkecuali Indonesia. Dengan semangat keterbukaan informasi, wikileaks telah membeberkan banyak informasi rahasia suatu negara yang menurut mereka itu adalah sesuatu yang patut diketahui oleh masyarakat negera itu sendiri. Negara adidaya Amerika Serikat, dalam hal menjadi negara yang paling banyak ditelanjangi oleh Wikileaks dengan pembocoran dokumen-dokumen yang diantara meliputi wajah sebenarnya AS dalam perang Afganistan dan Irak, perintah untuk para dilomatnya agar menjadi mata-mata negara lain tidak terkecuali terhadap PBB, upaya untuk menututp-nutupi pelanggaran HAM, dan bocoran-bocoran dokumen rahasia dari negeri paman sam lainnya, yang kesemuanya itu menunjukan kesewenang-wenangan dan ambisi untuk menguasai dunia.

        Indonesia pun tak luput dari aksi pembocoran oleh wikileaks yang merupakan kasus pembocorn terbesar yang pernah ada dalam sejarah dunia. Dari semua dokumen yang terkait Indonesia secara keseluruhan  ada 3.059, yang 98 di antaranya termasuk dalam kategori secret. Dalam salah satu dokumen tersebut terdapat gambaran sikap AS yang tidak suka terhadap Wiranto sehingga muncul dugaan jika kemenangan SBY dalam pemilu 2004 yang mempertemukan Wiranto dan SBY, karena ada campur tangan dari asing (AS), selain itu terdapat pula dokumen yang berisi tentang kasus tentang salah satu skandal terbesar di Indonesai yakni kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia, Munir yang meninggal dalam keberangkatannya menuju Amsterdam, belanda. Di sana dijelaskan fakta kasus yang menjadi misteri ini.

       Namun kali ini saya tidak akan membahas panjang lebar tentang perang raya wikileaks melawan negara-negaraa yang tertutup dan korup di dunia, melainkan menelusuri sisi lain dari wikileaks yakni tentang siapa sosok di balik dari situs fenomenal ini, seseorang dengan tangan dinginnya yang menjadikan kecanggihan teknologi informasi sebagai jalan sarana untuk membawa perubahan bagi dunia. Namanya mencuat kepermukaan dan menjadi buah bibir di kalangan masyarakat dunia setelah Wikileaks situs yang ia ciptakan melancarkan aksinya dengan membeberkan dokumen-dokumen yang berisi dosa-dosa pemerintahan-pemerintahan yang tiran di seluruh dunia. Dialah the robin hood of hacking yang selama hidup ia dedikasikan untuk menuju dunia dengan keterbukaan informasi bagi seluruh orang di dunia.

              Julian Paul Assenge lahir pada tahun 1971 di kota Townsville, Autralia. Sejak kecil assenge sudah terbiasa dengan hidup berpindah-pindah bersama dengan ibunya, dan karena alasan inilah yang membuat ia tidak bisa menjalani pendidikan formalnya, tak terhitung banyaknya berapa kali ia harus keluar masuk sekolah., selain memang Cristine Assenge selaku ibunya tidak menghendaki pendidikan formal bagi anaknya tersebut karena menganggap pendidikan formal hanya akan merusak Assenge dengan sikap menghormat secara berlebihan terhadap kekuasaan akibat dari sistem pendidikan formal. Namun meskipun begitu, assenge memiliki kecintaan teramat tinggi terhadap buku dan tipe orang yang dengan cepat belajar mandiri dengan caranya sendiri. Itu bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena dikatakan jika IQ yang dimilikinya mencapai 170 tentu dapat kita perkirakan sendiri betapa jeniusya Assenge ini.

        Assenge merupakan seorang hacker ulung, ia mengakui jika ketertarikannya terhadap dunia computer sudah ada sejak kecil. Sebagai seorang maniak computer, riwayat sejarah aktivitas hackingnya sudah dimulai sejak usia 13-14 tahun dengan meretas berbagai situs dan karena kegiatannya tersebut sempat pula karena aksinya tersebut membuat kediamannya harus di grebeg oleh polisi setempat lalu menyita peralatan komputernya meski pada akhirnya dikembalikan kembali karena terbukti tidak bersalah. Memasuki tahun 1991, aktivitas peretasannya semakin menjadi-menjadi yang mana sebelumnya assenge yang memiliki nama samara sebagai Mandex tergabung dalam komunitas hacker internasional,hingga akhirnya berujung dengan pendakwaan terhadap dirinya atas tuduhan peretasan ratusan situs, dengan ancaman 10 tahun penjara.

             Dalam diri assenge mengalir dari seorang pemberontak yang diwarisi dari ibunya, dan karena faktor ini pulalah yang menjadikannya pribadi yang sangat membenci pemerintahan yang korup dan tiran. Tidak terlalu banyak yang diketahui terkait kehidupan pribadinya, namun yang pasti Assenge memilih untuk menikah di usia muda, yakni pada usia 16 tahun dengan seorang gadis yang memikat hatinya tepat pada tahun 1987.Namun sayang pernikahannya tersebt tidak dapat bertahan lama dan membawanya dalam persengketaan dengan mantan istriya tersebut untuk memperebutkan hak asuh anakn hasil pernikahan mereka  berdua.  Meski Assene pada akhirnya berhasil memenangkan perebutan hak asuh tersebut dengan perjuanagn sekuat tenaga dan tingkat depresi yang menyiksa, sampai-sampai ia harus membutuhkan bantuan psikiater, akan tetapi sangat disayangkan ketika kemudian dia dan anaknya tersebut tidak memiliki hubungan yang harmoni layaknya hubungan ayah dan anaknya.

       Sebagaimana karakter Roobin  Hood dalam cerita rakyat populer dari britania, sosoknya yan dijuluki The Roobin Hood Of Hacking, begitu dieluh-eluhkan oleh masyarakat dunia. Tidak berbeda dengan karakter dari urban legend britania tersebut yang membela kaum lemah dan kaum dhuafa, assenge juga melakukan hal yang demikian, bedanya Julian Paul Assenge merupakan pri berambut pirang ini benar-benar ada di dunia nyata bukan sosok yang lahir dari fiksi belaka dan dia menolong kaum dhuafa dengan cara “mencuri” dokumen rahasia dari pemeintahan suatu negara dan dibeberkan ke masyarakatnya dan masyarakat dunia umumnya, karena  menurut Assenge masyarakat seharusnya tahu rahasia-rahasia tersebut.

Sosoknya menjadi idola baru bagi mereka yang mendambakan sebuah sistem transparansi antara rakyat dan negaranya, namun tentu saja sosoknya juga begitu sangat dibenci oleh banyak kalangan yang kepentingan-kepentingannya terganggu oleh tindakan-tindakan Assenge dengan Wikileaksnya. Sebut saja AS, salah satu negara yang banayak ditelanjangi oleh Wikileaks dihadapan masyarakat dunia bahkan Hilary Clinton selaku MenLu AS pada saat itu dengan lantang menyerukan untuk memburu Assenge sama seperti keseriusan AS dalam memburu pemimpin AL-Qaedah, Osama Bin Laden, lebih jauh lagi Assenge di tuduh telah melakukan pemerkosaan saat di Swedia pada 2010 terhadap dua wanita dan telah menyebabkannya kembali berjibaku dengan hukum dan serangkaian prosedur rumit saat menghadapi tuntutan negara Swedia yang menurutnya hal yang demikian itu syarat dengan motif politik berkaitan dengan kiprah Wikileaks.
 
Praktis setelah debutnya bersama situs ciptaannya yang fenomenal, yang bahkan haris Priyanyo (Penulis buku “Wikileaks, Situs Paling Berbahaya Di Dunia)) menyebutnya sebagai situs paling berbahaya di dunia, di samping namanya menjadi begitu populer hingga menghantarkannya meraih meraih penghargaan The Person Of The Yaer pada 2010 dari majalah Time yang terkenal. Sebelum akhirnya namanya dibatalkan meraih penghargaan tersebut dan digantikan oleh Mark Zukerberg sang pendiri facebook yang juga tersohor namun banyak yang dugaan yang mengatakan jika hal demikian terjadi karena adanya tekanan dari AS (Mark hanya berada pada ranking 9 dari polling yang dilakukan majalah Time dan berada jauh di bawah Assenge yang duduk diperingkat pertama). Segera saja namanya terdaftar dalam dalam deretan orang-orang paling dicari di dunia, karena kondisinya yang demikian menjadikannya seorang pengembara yang selalu berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaraan pihak-pihak yang mengincarnya. Bahkan sebagai upayanya ini, dalam masa  persembunyiannya Assenge tidak pernah menetap di suatu tempat lebih dari dua hari dan ia juga selalu bergonta-ganti nomor ponsel sesering ia menganti baju.

sampai dengan tulisan ini dibuat, Informasi terakhir tentang Assenge yang penulis dengar, adalah terkait buntut dari tuduhan Swedia yang mendakwa Assenge atas tindakan pemerkosaan yang memaksanya harus tinggal di kedutaan Ekuador di London sebagai tahanan luar. Upaya Ekuador untuk membebaskan Assenge yang telah tinggal di kedutaan tersebut selama 5 tahun sejak 2012 untuk keluar dari Inggris dengan memberikannya kewarganegaraan Ekuador pada 11 Januari 2018, seolah menjadi sia-sia ketika dihadapkan dengan sikap keukeuh Inggris yang bersikeras akan menangkap Assenge setelh sebeumnya Inggris juga menolak pemberian status bagi Assenge sebagai Diplomat dari Ekuador.


Post a Comment

Previous Post Next Post