Manusia dengan segala daya yang dimilikinya, merupakan mahluk yang
paling sempurna dibandingkan dengan mahluk-mahluk lainnya yang ada di dunia
ini. Di samping daya akal pikiran yang
menjadikannya sebagai spesies yang paling unggul, secara biologis ia juga
merupakan mahluk hidup yang memiliki
daya adaptasi yang luar
biasa, di mana pada satu sisi
mahluk yang disebut manusia ini dapat bertahan hidup di daerah kutub yang
memiliki suhu dingin yang ekstrem seperti suku
Eskimo. Dan sisi lain ia juga dapat bertahan hidup di daerah gurun dan
padang pasir yang super panas.
Namun dengan kondisinya itu, mahluk yang dapat berfikir ini dan beserta
semua keunggulan yang melekat pada dirinya sejak awal peradabannya telah
menyadari akan sesuatu yang jauh lebih unggul, sesuatu yang memiliki
kekuatan maha besar yang berada di luar
dirinya dan mempercayai jika segala sesuatu yang ada di alam semesta
dipengaruhi oleh sesuatu yang kemudian disebut sebagai “Tuhan” ini. Dengan
demikian maka tepatlah apa yang dinyatakan oleh paara ahli yang menyebutkan bahwa
manusia merupakan Homo Religion, mahluk yang tidak pernah bisa lepas dari
sesuatu yang bersifat spiritual. Senada dengan para ahli, Karen Armstrong
dalam karyanaya “Sejarah Tuhan” menuliskan jika ada alasan kuat untuk berpendapat bahwa Homo
Sapien juga merupakan Homo Religious, ia berpendapat bahwa sejak maahluk yang
dapat berfikir ini menyadari hakikat dirinya sebagai manusia maka sejak itu
mereka menciptakan agama-agama sebagai jalan untuk mencari makna dan nilai
kehidupan, pada tahap ini manusia mulai menyembah dewa-dewa .
Point terpenting dari pernyataan
Karen Armstrong bukan terletak pada ukuran benar atau salah berdasarkan perspektif agama-agama yang
kita kenal sekarang, atas tindakan manusia pada saat itu yang menyembah dewa-dewa yang mereka ciptakan
sendirinya, yang terdengar tidak masuk akal bagi sebagian penganut agama
tertentu, di mana dalam bahasa
keimanan mereka, manusia harus
menyembah Dzat yang menciptakan mereka bukan
sebaliknya di mana manusia menyembah ciptaannya sendiri. Namun point
adalah, setidaknya penjelasan dari Karen
Amstrong menunjukan jika manusia pada hakikatnya merupakan mahluk spiritual
yang mempercayai sesuatu seperti Tuhan yang dengan kondisinya ini mereka
menjadi manusia-manusia yang beragama.
Sejauh yang tercatat dalam peradaban umat manusia, agama merupakan
bahasa yang paling umum dan dominan yang digunakan dalam upaya untuk memahami Tuhan dan semua
hal yang bersifat spiritual lainnya (akhirat, surga-neraka dan sebagainya).
Namun dengan berjalannya waktu yang membawa kita pada era kemapanan ilmu
pengetahuan dan teknologi (Iptek) ini, telah pula menjadi faktor utama yang
membawa sebagian manusia-manusianya mendewakan proses berfikir rasional yang
bertumpu pada akal fikiran mereka, sehingga berdamfak langsung pada berkurangya
presentase orang beragama dan orang yang menjadikan agama sebagai pedoman hidup
metreka dari seluruh populasi penduduk dunia yang telah mencapai 7 miliar
lebih. Meski orang yang tidak beragama bukan berarti mereka ateisme, namun dengan
pemahaman bahwa agama merupakan jalan yang paling utama untuk mengimani dan
emahami Tuhan (pengecualian untuk agama BUDHA), maka akan ada kecendrungan
anngapan jika mereka yang tidak beragama berarati mereka tidak meyakini adanya
Tuhan.
Dalam konteks manusia sebagai Homo Religious atau mahluk spiritual,
fenomena ateisme sebagai bentuk penolakan akan keyakinan terhadap eksistensi
Tuhan tentu dapat dilihat sebagai penyimpangan akan hakikat dirinya sebagai
mahluk spiritual karena keyakinan akan Tuhan merupakan pondasi sekaligus
menempati posisi tertinggi dalam spiritualitas itu sendiri. Di jelaskan bahwa
sebagai mahluk hidup manusia selain membutuhkan sesuatu yang bersifat materi,
juga membutuhkan sesuatu yang bersifat rohani seperti,kebutuhan akan rasa aman,
kebutuhan untuk menjalankan ibadah, kebutuhan akan agama atau kepercayaan
tertentu untuk dianut serta yang lainnya. Dan penjelasan seperti ini dapat kita
jumpai dalam ilmu ekonomi yang diajaran di tingkat SMA, dari sini dapat dilihat bahkan dalam
disiplin ilmu yang berkembang pada abad ke 18 ini mengakui jika manusia sangat
membutuhkan sesuatu yang bersifat rohani, yang itu arinya sangat membenarkan
sebuah penjelasan manusia sebagai mahluk spiritual yang kemudian akan menjadi
keliru dan kelauar dari hakikat kemanusianya jika ia menolak pondasi dan hal
yang paling sacral dalam spiritual yakni meyakini akan adanya Tuhan.
Sesuatu yang kita anggap sebagai penyimpangan ini, baik di belahan dunia
bagian Timur maupun Barat serta belahan dunia bagian Selatan maupun Utara,
sama-sama mengalami peningkatan, dan memiliki tingkat kecendrungan yang tinggi
untuk negara-negara yang relatif maju
dengan budaya berfikirnya yang ilmiah dan masyarakatnya yang mulai bersifat
materialsentris, beberapa negara di antaranya adalah, Inggris dengan presentase
31-44% dari polulasi keseluruhan, Jerman 41-49%, Prancis 43-34% dan Jepang
dengan presentase 64-65%, , apalagi kondisi ini didukung oleh poisis HAM dan
kebebasan individu yang ditunjung tinggi.
Sebagai catatan yang terkait dengan hal ini, , lebih jauh lagi teerdapat banyak
sekolah di inggris yang tidak mengajarkan pelajaran agama karena menganggap
pelajaran agama akan membelenggu para peserta didik dalam doktrin-doktrin yang
ada di dalamnya, dan mereka lebih percaya untuk mengembangkan pendidikan yang
kaitannya dengan pembentukan moral peserta didik di luar dari apa yang
diajarkan agama, dan sayangnya tentu hal ini seolah menjadi pembenaran bagi
para ateisme bahwa pengingkaran terhadap keberadaan Tuhan adalah sikap yang
beradab dan ilmiah, karena mengenali Tuhan dengan cara melalui perantara serta
tidaak dapat dibuktikan dengan panca indra adalah tidak masuk akal, beberapa
tokoh terkenal yang ateis diantaranya adalah, Samuel Benyamin Haris,
seorang filsuf dan neuroscientist, Alan Turing, pendiri Ilmu Komputer dan
kecerdasan buatan yang terkenal dengan karyanya di Bletchley Park, dan Stephen
Hawking, salah satu fisikawan teoritis terbesar dunia.
ATEISME DI INDONESIA
Dengan melihat pancasila sebagai hasil konsensus seluruh rakyat Indonesia
dan merupakan kristalisasi nilai-nilai otentik yang tumbuh dari lulur kita
manusia-manusia Indonesia, yang sekaligus juga mengandung cita-cita kolektif
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, jika kita melihat dari piagam dasar
kita bernegara ini, perihal ateisme yang sangkut paunya dengan masalah
Ketuhanan maka dengan sangat jelas dapat kita lihat dari sila pertama yang
berbunyai “Ketuhanan Yang Maha Esa” menunjukan bahwa pijakan kita sebagai
manusia Indonesia yang paling pertama dan utama adalah keimanan akan eksistensi
Tuhan, butir ini secara tegas menjelaskan jika sekulerisme adalah bagian dari
bentuk penolakan atau anti-pancasila. Kendati demikian, jumlah ateisme di
negeri yang beragama ini berdasarkan Laporan Jakarta Globe telah mencapai satu
persen dari jumlah penduduk yang pada saat itu mencapai 235 juta yang berasal
dari berbagai kalangan. 1 persen dari 235 juta jiwa, itu berarti ada sekitar
2,35 juta jiwa masyarakat ateisme di
idnonesia yang tentunya identitasnya sebagai seorang ateisme tidak diketahui
atau secara sembunyi-sembunyi mengingat setiap warga negara dwajibkan untuk
beragama.

Post a Comment