NASKAH THEATER PERNIKAHAN DINI



BABAK

 Narator:Di hening seper tiganya malam, di antara masih banyaknya manusia terlelap dengan mimpi dan selimut penghangat yang masih melekat. Ada sedikit di antara manusia yang menjadikan waktu itu sebagai tempat berkeluh-kesahnya, tempat mencurahkan segala beban yang ditanggung, dan sebagai tempat memohon pertolongan dari-NYA.

Nala   : (membaca doa setelah tahajud)

Nala   : Ya allah Ya Rabbi, Ya allah Ya Kholik. Hamba yang penuh dengan segala
Dosa, penuh dengan segala noda, penuh dengan segala nista dan segala
Kelemahan lainnya sebagaimana fitrah manusia yang tak luput dari dosa
serta lupa, memohon dengan segala kefanaan hamba.

Nala   : berikanlah hamba kemudahan dalam menuntut ilmu, tambahkan lah ilmu yang bermanfaat bagi hamba, dan berilah hamba kesempatan untuk melanjutkan pendidikan hamba hingga ke jenjang yang lebih tinggi lagi, sebagaimana tuntutan agama untuk menuntut ilmu yang engkau wajibkan untuk seluruh umat nabi-MU.

Nala   : Ya allah (mulai menangis), lunakkan-lah hati kedua orang tua hamba agar memberikan restu untuk melanjutkan pendidikan hamba di perguruan tinggi, lunak-kan lah hati mereka sebagaimana engkau lunakan hati para orang-orang sholeh, sebagaimana engkau melunakkan hati  Nabi Muhammad saw untuk bersikap sabar terhadap umatnya, dan sebagaimana engkau melunakkan hati orang-orang kafir untuk menerima ajaran nabi-Mu.

Nala   : sesungguhnya telah engkau jadikan ridhonya sebagai perantara ridho-Mu, hamba sangat ingin berlayar ke luasnya samudera ilmu tanpa harus kehilangan kepatuhan terhadap kedua orang tua, maka kabulkanlah doa hamba ya Rabbul Alamin, lunakkan-lah hati mereka berdua, lunakkan-lah ya allah ya rabbi, lunakkan-lah. Amiin,amiin, ya rabbal alamin.

Nala    : (membaca doa sapu jagad)



BABAK 2 (IBU-IBU NGERUMPI)

Narator             :  Di suatu pagi di desa Pantang Maju, tempat tinggal Nala. Berkumpul lah ibu-    ibu termasuk  ibunya Nala, asyik bergosip ria menceritakan berbagai hal.

Tukang Sayur   : Yur sayur,…Yur sayur  Ibu-Ibu  sayurnya Bu
Ibu Izah            : Mang Juned, sayurnya  mang.
Tukang sayur   : Iya bu.

Ibu Izah           : Mang  ini sayurnya  masih seger-seger ngga nih, jangan-jangan sayur sisa     kemarin.

Tukang            : Masya allah Bu, ya masih seger lah, tuh bisa lihat sendiri kan masih fresh-fresh kaya gini.

Ibu Marni        : (Berjalan mendekati Bu Izah), Bu Izah mau masak apa nih hari ini buat mantu barunya.

Ibu Ijah           : Iya nih bu,mau masak sayur asem sama asinan balado buat anak sama mantu yang baru nikah, yahhh tahu sendirilah gimana orang baru nikah, ya itung-itung manjain mantu sebelum berngkat lagi ke korea sebulan lagi.

Ibu Marni        : ohhh, jadi mantu Bu Izah itu ngambil cuti ya.
Ibu Marni        : ehhh Bu udah tahu belum kabar terbaru yang lagi ramai beredar??
Ibu Izah           : apaan-apaan (ekspresi penasaran), kabar tentang istri ke dua pak Darto??

Ibu Marni        : Ihhh bukan.

Ibu Izah           : Tentang Ibu Leha yang menggugat cerai Pak Husen??

Ibu Marni        : Bukan Bu.

Ibu Izah           : Terus apa Ibu Marni??

Ibu Marni        : Ihhh, Ibu Izah ini kurang up to date deh, itulah loh kabar  anak perawannya pak Yudi yang kabur karena ga mau dinikahkah.

Ibu Izah           : Itu sih anaknya aja yang bodoh, dikasih hidup enak langsung nikah biar ada yang menjamin kehidupannya malah gak mau,  pake kabur-kabur segala kaya di sinetron,dasar anak ga tahu diri.

Ibu Izah           : oh iya bu, anak ibu yang di Jakarta jadi Babysister gimana kabarnya??
Ibu Marni          : kabarnya baik,malahan sekarang gaji-nya naik jadi 4 juta per tahun, tapi setengah tahun lagi mau pulang kampung, soalnya udah ada yang mau ngelamar bu.

Ibu Fatimah       : Lagi ngobrolin apa nih ibu-ibu, kayanya seru banget.

Ibu izah +Marni : Ini biasa lah Bu.

Ibu Izah              : Bu, si Nala setelah lulus mau ke mana nih, kalo perempuan si pendidikannya ga usah tinggi toh pada akhirnya dunianya untuk di Dapur dan ranjang kasur, ya di situlah tempat kita. Hati-hati loh Bu, ntar si Nala bisa jadi terpengaruh sama dunia luar.

Ibu Fatimah        : Si Nala, setelah lulus mau ikut kerja sama pamannya di Jakarta.

BABAK 3

Narator              : suatu ketika sekolah tempat Nala belajar kedatangan Mahasiswa dari UI untuk mensosialisasikan semua hal tentang perkuliahan khususnya untuk  kelas 12.

Ibrahim            : selamat adik-adik, udah pada tahu kami dari mana??

Kelas                : udahhhh.

Ibrahim            : Ya kami dari Universitas Indonesia, sebelum itu perkenalkan nama saya Ibrahim, dari jurusan psikologi.

 Novi                : saya Novianti apriani, dari jurusan Kedokteran.

Budiman          : saya Budiman, dari jurusan teknik computer.

Ikah                  : dan saya Ikah Nur Izzati, dari jurusan HI atau Hubungan Internasional.

Novi                 : jadi bagi kalian yang udah berada di ujung perjuangan di SMA, kaian harus punya planning yang sudah dipersiapkan sejak dari sekarang. Minimal kalian harus punya arah mau ke mana nih setelah lulus.

Novi                 : mau lanjut kuliah itu yang lebih baik, mau lanjut kerja tapi inget loh lulisan SMA ini lapangan kerjanya selain sedikit juga di posisi tidak strategis dan yang terakhir memilih untuk menikah, itu pilihan yang ga sepenuhnya salah tapi ya kalian tahu sendiri pernikahan dini itu udah bukan zamannya lagi, pernikahan dini udah ga relevan dengan perembangan zaman ini.

Novi                 : di sini ada yang mau langsung nikah????

Egi                   : kalo saya sih siap-siap aja, tinggal mba-nya aja gimana??

Kelas                : (ketawa)

Novi                 : Emang kamunya udah punya apa berani ngajak mba buat ituan.

Egi                   : Ya kalo saya sih udah punya 2 mobil ditambah sama satu toko.

Ibrahim            : eh kalo kamu mau sama mba Novi ada syaratnya loh, syarat apa mba nov, oh iya Mba Nov kan dari fakultas kedokteran jadi kamu harus jago fisika sama matematika.

Egi                   : kalo itu sih ga usah ditanya lagi, saya kan jago di dua pelajaran,sampai-sampai kalo ulangan selalu ga cukup satu kali saking pinternya saya.

Novi                : ohh maksudnya di remedial terus tah?

Kelas               : (ketawa)

Ibrahim            : ok, jadi bagi kalian yang udah mau lulus kalo bisa harus bisa lanjut kuliah, seperti yang udah disampaikan mba Novi tadi kalo ruang lingkup lapangan pekerjaan lulusan SMA itu selain minim juga kurang strategis, selain itu pendidikan yang tinggi juga akan membentuk pola pikir dan cara pandang kita berbeda dibandingkan mereka yang tidak.

Ibrahim            : coba siapa aja yang ada niat buat melanjutkan kuliah, coba angkat tangan.

Ibrahim            : Nala, kamu gak mau ngelanjutin kuliah.

Ikah                  : Ciehhhh, kok kak Ibrahim tahu sih kalo namanya Nala, jangan-jangan,           ada jangan-jangan nih.

Ibrahim             : jadi perlu diketahui juga khususnya buat kakak-kakak mahasiswa kalo Nala ini salah satu juara dalam lomba menulis essay skala nasional yang mengangkat tema “PENDIDIKAN DALAM FENOMENA GENDER DAN EMANSIPASI WANITA” yang diadakan oleh UI dan kebetulan saya jadi salah satu panitia dalam lomba tersebut, dan Nala ini orang Cirebon pertama loh yang jadi juara selama 3o tahun penyelenggaraan lomba tersebut.

Ikah                  : wuihh, keren. Na kamu harus lanjutin kuliah sayang loh kamu udah punya potensi, kamu harus kembangin potensi tersebut, kamu harus lanjut kuliah.

Nala                 : ehhhmmm, ini kak saya belum ngobrolin sama orang tua kak.

Budiman          : ada banyak jalan buat kuliah apa lagi buat anak yang memiliki prestasi, beasiswa bertebaran dimana-mana yang terpenting kita harus benar-benar punya niat buat lanjut kuliah.


BABAK 4

Narator            : akhirnya karena mengetahui permasalah Nala,salah satu siswa terbaiknya yang tidak diizinkan oleh orang tuanya untuk melanjutkan kuliah, pihak sekolah pun mencoba untuk membujuk kedua orang tuanya tersebut agar memberikan izin dengan mengundang mereka datang ke sekolah.

Guru bk 1        : sebelumnya kami minta maaf telah menyita waktu bapak dan ibu, ada pun tujuan dari kami mengundang bapak-ibu untuk membicarakan terkait masa depan De Nala yang diharapkan ada masukan bagi ibu bapak yang dapat menjadi bahan pertimbangan.

Guru bk 2        : dari pengamatan kami guru-guru di sini selama kurang dari tiga tahun ini, melihat jika Nala memiliki potensi yang lebih di bandingkan anak-anak yang lainnya, Nala memiliki harapan cerah di masa depan jika potensinya tersebut dapat terus dikembangkan.

Guru bk 2        : sangat di sayangkan kalo Nala tidak melanjutkan pendidikannya setelah lulus dari sini, sekiranya lebih bijak kalo bapak dan ibu mempertimbangkan kembali keputusan bapak-ibu yang tidak mengizinkan Nala untuk lanjut kuliah, toh kalo nanti nala menjadi orang yang berhasil pasti akan mengangkat derajat ibu dan bapak.

Rifki               : setiap orang tua, tidak terkecuali kami sebagai ayah dan ibunya Nala pasti mengharapkan kebaikan untuk anaknya, sudah menjadi keputusan kami bersama untuk tidak mengizinkan Nala anak kami untuk kuliah, karena memang sejak awal Nala hanya kami cukupkan sampai SMA saja, tidak lebih. Kami telah memikirkan baik-baik segala kemungkinan dari keputusan  kami ini.

Guru bk 1        : tidak bisakah keputusan itu dipertimbangkan kembali demi masa depan Nala.

Fatimah           : buat apa seorang wanita ,memiliki pendidikan yang tinggi jika pada akhirnya dunia mereka hanya untuk dapur dan ranjang kasur,buat apa seorang wanita memiliki pendidikan tinggi jika dengan kondisinya tersebut membuat ia tidak menjalankan peran sepenuhnya jika sudah berkeluarga sebagai ibu rumah tangga, dan buat apa seorang wanita berpendidikan tinggi jika dengannya dia akan besar kepala dihadapan pintu surganya yaitu suaminya.

Miss Fina         : sebagai seorang wanita, saya secara pribadi tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibu, saya dan ibu Elia adalah contoh nyata kalo seorang wanita dapat melakukan hal lebih dengan adanya pendidikan yang pernah kami tempuh, kami bisa ikut mencerdaskan generasi bangsa.

Rifki                 : Saya tanya sama ibu berapa banyak jumah pengangguran di Indonesia yang bertitel sarjana, dan berapa banyak jumlah wanita zaman sekarang yang mulai lupa akan perannya dalam keluarga dengan alasan menjadi wanita karir.

Rifki                : kami yang lebih tua dari ibu bapak guru di sini lebih banyak makan asam garamnya kehidupan, dan sebagai orang tuanya Nala kami jelas lebih tahu apa yang terbaik bagi anak kami.

Pak Herman     : (dengan nada yang tinggi), jika bapak dan ibu tidak memberikan izin untuk nala melanjutkan pendidikannya berarti Ibu dan bapak telah menyia-nyiakan potensi yang telah tuhan berikan pada Nala, siapa yang tahu mungkin saja Nala akan menjadi orang besar yang akan memberikan kemaslahatan banyak orang suatu hari nanti.

 Pak Herman    : Tanpa mengurangi rasa hormat harus saya katakan pemikiran ibu dan bapak sangat sempit ditengah-tengah perubahan zaman yang nyata sedang terjadi.

Miss Fina         : Sabar pak, sabar.

Rifki                : memang kami tidak berpendidikan sepeti ibu dan bapak guru, tapi sebagai seorang yang berpendidikan seharusnya bapak bisa menghargai keputusan orang lain,dan sebagai orang yang berpendidikan seharusnya bisa menghargai orang yang lebih tua dari bapak. Jauh-jauh kami datang dari rumah karena kami menghormati ibu bapak sebagai gurunya Nala, tidak disangka akan seperti ini jadinya.

Fatimah           : udah sabar pak.

Rifki                : (Berdiri), ayo bu kita pulang.













BABAK 5 (PENGUMUMAN HASIL SMNPTN)

Narator            : beberapa bulan kemudian hasil dari SNMPTN di umumkan, yang disambut dengan rasa syukur dan juga tidak sedikit oleh rasa kecewa.

Guru bk 2        : Assalamualaikum.wr.wb.

Kelas               : walaikumsalam.wr.wb.

Guru bk 1         : hari ini, adalah pengumumn hasil dari SNMPTN, sebelum itu bagi kalian yang berhasil keterima ibu ucapkan selamat, dan bagi kalian yang belum beruntung jangan menyerah karena masih ada banyak cara, berikut saya umumkan nama siswa yang berhasil diterima melalui jalur SNMPTN (ibu bk meyebutkan nama-nama siswa yag diterima), bagi yang namanya tadi tidak disebutkan berarti belum beruntung.

Guru bk 2         : bapak ingatkan kembali, bagi yang belum beruntung untuk tidak putus asa dan menyerah, karena masih ada banyak jalan untuk kuliah, mislnya kan tidak ada salahnya untuk mengikuti SBMPTN, kalian tidak akan pernah tahu sebelum mencoba barang kali aja kita bisa keterima lewat jalur ini.

Salsa                : win, saya keterima win (berbinar-binar sumringah), Alhamdulillah ya allah.

Winda              : selamat ya sa, saya juga diterima (berbinar-binar sumringah).

Salsa                : selamat juga buat kamu win (berpelukan dan menangis terharu).

Eka                  : La, saya keterima (memeluk erat Nala)

Nala                 : selamat ya ka(mencoba tersenyum), semangat ya buat kuliahnya nanti, kamu beruntung mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan jadi jangan sia-sia kan.

Eka                  : kamu juga tetap semangat ya, saya yakin kamu pasti mendapatkan kesempatan buat kuliah, sangat tidak adil rasanya kalo temen saya yang seperti kamu tidak bisa melanjutkan pendidikan, jangan menyerah la kamu pasti bisa kuliah, percaya sama saya.

Nala                 : keadilan (bergumam sambil menundukan  kepala), semoga saja ka, semoga saj
a.
Eka                  : saya pasti doakan yang terbaik buat kamu la, jangan lupain pertemanan kita , jangan lupain saya ya.

Nala                 : pasti akan selalu saya ingat, kamu juga jangan lupain saya ya ka

BABAK 6 (IBRAHIM BERTEMU GURU BK)

Narator            : beberapa  hari kemudian Ibrahim bersama teman kuliahnya datang ke sekolah,  untuk melakukan penelitian tentang kondisi psikologis seorang pelajar dalam kegiatan belajar  sebagai tugas mahasiswa jurusan Psikologi.

Ibrahim            : jadi seperti ini pak, maksud dari kedatang kami adalah untuk meminta izin kepada bapak untuk melakukan penelitian di sini.

Guru bk 2        : tentu-tentu bapak izinkan, kalo boleh tahu permasalahan apa yang akan kalian teliti.

Ibrahim            : Kami akan melakukan penelitian tentang, seberapa besar kondisi psikologis siswa mempengaruhi dalam proses belajarnya, dan dikaitkan dengan pengaruh gadget di zaman sekarang.

Musa                : jadi ntar, kami akan mengadakan semacam kegiatan belajar layaknya kbm,dalam satu minggu selama satu bulan ini kami akan mengajar siswa sebanyak 2 kali seminggu.

Guru bk 2        : bagus-bagus, tapi kalo bapak boleh minta  sama nak Ibrahim dan nak Musa, gimana kalo kegiatan belajarnya membahas tentang materi untuk tes SBMPTN.

Ibra & Musa     : ..??????
Guru bk 2         : toh kan sama-sama belajar juga, ntar biar obyeknya anak-anak yang kebetulan kurang beruntung dalam jalur SNMPTN, jadi gimana,… bisa??  

Ibrahim             : kalo boleh tahu emang seberapa banyak pak  dari sini yang lulus jalur SMNPTN???

Guru bk 2          : dari sekitar  70 siswa hanya setengahnya saja yang diterima, ya jadi ada   sekitar 35 anak yang gagal, padahal keinginan mereka sangat tinggi untuk lanjut kuliah.

Ibrahim             : Si Nala, jadi lanjut ke mana, ia pasti ikut SNMPTN dan keterima kan??

Guru bk 2          : kamu udah kenal Nala??

Ibrahim             : ya, saya udah kenal Nala dalam satu tahun belakangan ini, kami sering sharing via wa dan facebook, dan terakhir kali kami berkomunikasi Nala bilang kalo ia lagi bingung tentang masalah mau lanjut kuliah atau tidak, tapi ia gak mau cerita detailnya seperti apa.

Guru bk  2        : mau gimana lagi, orang tuanya tidak mengizinkan buat Nala kuliah, kami sebagai guru-gurunya sudah mencoba berdialog dengan mereka, dan hasilnya nihil, yang pasti ini bukan masalah ekonomi atau biaya.

Musa                : terus masalahnya apa pak?

Guru bk 2         : ini masalah cara pandang orang tua Nala, ini masalah Ideologi mereka,.. bukan masalah ekonomi, karena kalo memang mereka ngga mampu membiayai, bapak  sendiri siap membiayai pendidikan Nala, termasuk biaya kehidupannya sehari hari.

Ibrahim            : masih ada aja ya, orang yang berpola pikir seperti itu di zaman sekarang.

BABAK 7 (IBRAHIM BERTEMU ORANG TUA NALA)

Narator             : Berhari-hari Ibrahim memikirkan cara yang dapat dilakukannya untuk membantu nala melanjutkan pendidikannya,akhirnya dia pun menemukan cara yang akan menjadi solusi bagi Nala, lalu ia memutuskan untuk mendatangi orang tua Nala.

Fatimah            : pak, ini gimana,udah 2 hari Nala mengurung diri dikamar, ntar ada apa-apa gimana (sembari menjahit baju).

Rifki                 : (sedang merokok dan mengopi) udah lah bu, ga usah terlalu dipikirin ntar juga pasti keluar juga,kalo menurut bapak kayanya anak kita memang udah banyak terpengaruh orang lain.

Rifki                 : kalo dia tetap ga nurut sama keputusan kita, kita nikahin aja,….. toh ibu juga waktu nikah masih seumuran sama Nala yang sekarang.
Fatimah            : (berdiri) saya mau ke kamar kecil dulu ya pa.


Ibrahim            : Assalamualaikum.

Rifki                 : walaikumsalam. (beranjak berdiri menuju pintu).

Ibrahim             : apa benar ini rumahnya Nala??

Ibrahaim           : saya Ibrahim mahasiswa dari UI (menyodorkan tangan untuk berjabatan), saya temannya Nala.

Rifki                 : ohhhh jadi ternyata kamu ya yang telah mempengaruhi pikiran anak saya (dengan mata melotot dan mengabaikan uluran jabat tangan Ibrahim).

Rifki                 : Bu,…ibu sini bu (dengan suara keras).

Ibrahim             : pa saya datang ke sini dengan niat baik, saya mau bicara sama Nala dan ibu-bapak.

Rifki                 : udahlah anak kota ga usah ikut campur urusan orang lain,…saya tahu apa yang mau kamu bicarakan, cepat sana pergi.

Ibrahim            : tapi pak, dengarkan dulu apa yang mau saya bicarakan.

Rifki                 : dasar keras kepala ( memukul Ibrahim hingga terjatuh)

Fatimah            : pa udah pa, malu dilihatin banyak orang (setelah berlari-lari kecil).

Rifki                 : biarkan semua orang tahu kejadian ini, biarkan semua orang tahu kalo tidak ada yang boleh ikut campur urusan keluarga kita bu.

Ibrahim              : Bu-pak saya datang ke sini (setelah berdiri dengan susah payah), uhuk-uhhuk, saya datang ke sini untuk melamar anak bapak, ya saya datang ke sini untuk menikahi putri bapak, Nala Nirmala Putri.

Rifki                 : apa kamu bilang anak muda..???

Fatimah            : pa jangan bilang seperti itu, keinginan pemuda ini ngga salah toh waktu bapak ngelamar saya,..waktu itu saya masih usia 16 tahunan.


BABAK 8 (IBU-IBU NGERUMPI 2)

Narator            : informasi tentang dilamarnya Nala oleh anak kota yang masih kuliah menyebar dengan cepat dan menjadi bahan gosipan ibu-ibu desa.

Bu Izah            : ehh ibu-ibu udah pada tahu belum berita terbaru kalo si Nala anaknya bu Fatimah  udah dilamar sama anak dari kota.

Bu Marni         :iya bu saya udah tahu beritanya 2 hari lalu dari bu Siti.
Bu Marni         : ihhh Bu fatimah beruntung ya dapat mantunya orang kota yang pasti kaya, selain itu mantunya juga gagah.

Bu Tuti           :  bener banget itu bu tuti, saya kemarin sempat lihat waktu lewat depan rumahnya, ternyata bakal mantu bu Fatimah memang gagah kaya bintang film, beda banget deh penampilannya sama mantunya bu Izah.

Bu Izah           : apa ibu bilang, sembarang aja kalo ngomong,…meskipun mantu saya kurus dan pendek, tapi dia udah bisa kerja di korea yang gajinya bisa 20 juta perbulan,sedangkan bakal mantu bu fatimah meskipun mahasiswa belum tentu dapat pekerjaan yang pasti, buktinya saja banyak orang-orang berpendidikan tinggi yang masih menganggur.

Bu tuti            : oh iya, denger-denger bakal mantnya bu fatimah ini udah punya usaha toko elektronik yang besar di ibu kota Jakarta,loh,….kayanya bu izah  udah kalah saing nih.

Bu marni       : udah-udah bu tuti, jangan ngomongin itu melulu.
Bu Izah         : Bu marni, Bu Tuti saya pulang dulu

BABAK 9 ( PERNIKAHAN NALA DAN IBRAHIM)

Narator          : akhirnya pernikahan Ibrahim dan Nala pun dilaksanakan, meskipun pada dasarnya  Ibrahim menikahi Nala agar Nala bisa melanjutkan kuliahnya akan tetapi jauh dilubuk hatinya Ibrahim telah jatuh hati pada perempuan berbakat tersebut sejak ia bertemu satu tahun yang lalu.

Penghulu       :sudah siap??

Ibrahim          :siap Pak (menganggukan kepala)

Penghulu         : kalo begiti saya akan mulai (menjabat tangan Ibrahim)

Penghulu        : (membaca ijab Kabul)

Ibrahim           : (menjawab ijab kabulnya)

Penghulu        : gimana para hadirin, syah???

Hadirin           : syahhhhh….

Penghulu         : (berdoa)

Musa               : selamat ya bro, selamat menempuh hidup yang baru (menyalami Ibrahim setelah berdiri), ntar saya nyusul kalo udah ada calon.

Eka                  : La, selamat ya (memeluk nala)

BABAK 10

Narator            : setelah menikah, akhirnya nala pun dapat melanjutkan pendidikannya, dan setelah 10 tahun berlalu kini dia telah berhasil menunjukan kepada semua orang bahwa seorang perempuan dapat berkiprah dan memberikan kemaslahatan bagi banyak orang.

Narator  2         : mari kita sambut, bu bupati Cirebon Ibu Nala Nirmala Putri.
Hadirirn            : (bertepuk tangan)

Nala                  : assalamu’alaikum wr. Wb (berpidato) ....walaikumsalam

Wartawan 1      : (berlari-lari kecil), ibu, benarkah ibu akan memperkarakan orang tua yang memaksakan anaknya yang masih belia untuk menikah.

Nala                  : itu tidak benar, yang benar kami akan menindak lanjuti orang tua yang melarang anaknya yang berprestasi untuk melanjutkan kuliah.

Wartawan 2      : jadi benar,…. ibu akan memberi sanksi bagi orang tua yang melarang anaknya yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikannya.

Nala                  : yang benar kami akan melakukan sosialisasi terhadap sekolah-sekolah dan pihak orang tua agat tidak melarang anaknya khususnya yang perempuan untuk berpendidikan tinggi,bukan memberikan sanksi.

Ajudan              : udah-udah ibu mau istirahat, nanti lagi-nanti lagi (memebrikan jalan untuk nala)

Wartawan 1& 2 : bu, bu.

Narator               : demikianlah akhirnya, Nala berhasil membuktikan jika peremuan pun bisa        memberikan arti yang lebih dari pada  apa yang umum di ketahui.  










Post a Comment

Previous Post Next Post