MEREKONSTRUKSI PERSPEKTIF TENTANG POLITIK


Kita telah memasuki musim politik, sebuah musim yang identik dengan suhu panasnya yang diakibatkan oleh manuver-manuver politik yang menimbulkan ketegangan antar kelompok yang saling berhadapan untuk mencapai tampuk kekuasaan, musim politik juga bisa dikatakan sebagai musim hujan yang banjirnya diisi oleh agenda-agenda baik yang dilakukan kelompok maupun individu yang sarat dengan muatan politik. Seiring dengan semakin dekatnya pemilu serentak yag akan dilaksanakan perdana dalam pemilihan anggota legislatif dan presiden pada tahun 2019,  namun sebelum itu pemilu serentak untuk menentukan kepala daerah akan di gelar di berbagai wilayah Indonesia pada April 2018 mendatang,tidak terkecuali untuk provinsi Jawa Barat.

Menariknya ditengah-tengah perkembangan zaman yang semakin membuka peluang publik untuk menumbuhkan budaya berpolitik dan ditengah-tengah kenyataan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dapat terlepas dari ranah politik, terdapat kelompok-kelompok yang melihat dunia politik terlalu tendensius pada sisi negatifnya. Anggapan yang memandang politik mutlak hanya sebagai sesuatu yang kotor dan berlendir, sangat tepat jika hal yang demikian dikatakan sebagai langkah mundur dalam kehidupan bermasyarakat, jika kita amati proses kehidupan kita dari mulai anak-anak sampai dengan dewasa tidak luput dari proses pembelajaran politik, sebagai contohnya kita telah distimulus berpolitik saat di sekolah dan di lingkungan keluarga dan akhirnya sampai pada lingkungan masyarkat sebagai lingkungan real.
Sebagai langkah untuk menuju bangsa dan negara yang lebih baik, harus ada rekonstruksi perspekstif politik yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat  kita.  Di mana politik yang selama ini ada dan terjadi hanya disorot dari visi sempitnya belaka, yakni perilaku para politisi yang menyimpang dari etika seorang negarawan, lalu hal ini dijadikan semacam generalisasi terhadap seluruh orang yang berkecimpung secara aktif di dunia perpolitikan, bukan melihat dari fungsi esensial  dari sistem politik yang berperan dalam mengatur bagaimana suatu negara dapat berjalan dengan stabil.
Sikap impulsif yang berkembang dalam masyarakat khususnya ikhwal politik, bisa jadi dikarenakan media yang masih kurang dalam menyajikan pembelajaran politik yang memadai. Media dirasa terlalu tendensius dalam menyajikan pemberitaan politik. Di mana, Media terlalu sering menggambarkan kebobrokan para politisi tanpa diselingi pendidikan politik yang menggambarkan sisi positif dari politik itu sendiri.
Sikap alegri terhadap politik, tentu saja akan menghambat terbentuknya masyarakat Madani, sebuah masyarakat yang memiliki budaya kesadaran politik yang tinggi, sehingga akan mengaburkan hak-hak politik masyarakat pada umumnya yang justru pada giliran selanjutnya memberikan dampak kerugian bagi masyarakat luas. Sebaliknya, sebagaimana menurut pendapat Aristoteles yang menyebutkan jika manusia adalah “anima politicon’, yang itu artinya politik adalah bagian dari hakikat kita sebagai seorang manusia selama kita hidup, seperti penulis singgung di atas jika politik adalah sesuatu yang telah kita hadapi secara alami bahkan sejak kita anak-anak. Dibandingkan kita sibuk dengan menunjukan sikap antipati kita terhadap segala sesuatu yang berbau politik, tentu akan lebih baik jika kita memahami bahwa kesadaran akan pentingnya pemahaman politik itu sangat dibutuhkan, mengingat kita semua dalam bahasa Aristoteles adalah anima politicon, yang sedang dan akan selalu bergelut dengan politik baik sebagai objek maupun sebagai subjek.
Selain itu memahami dan menyadari pentingnya pemahaman politik akan semakin menguatkan control pengawasan yang dilakukan oleh publik terhadap pejabat negara, sehingga masyarakat dikemudian hari tidak mudah dikelabui oleh para ulah-ulah pejabat yang sudah banyak terjadi. Sehingga dinamika politik yang belakangan ini sedang bergeliat dengan segala bumbu-bumbunya, semakin mendorong masyarakt untuk memahami politik dari sisi yang bersifat konstruktif bukan melulu dari sisi sebaliknya. Sebagai negara yang demokratis keikut sertaan masyarakat dalam ranah politik khususnya dalam partisipasi politik secara konvensional memang harus ada sebagai pengokoh ke-demokratis-an di Indonesia itu sendiri, dan kondisi ini tidak akan terwujud jika kita bersikap “persetan dengan politik”.
Memang benar, politik dalam gambaran Said Nursy Badiuzzaman, dilukiskan dengan kalimat terkenalnya yakni “A'udzu billāhi min asy-Syaithāni wa min as-Siyasah (Aku berlindung kepada Allah dari setan dan dari politik)”, yang dengan jelas menunjukan betapa politik itu adalah sesuatu yang sepatutnya kita jauhi, namun kembali lagi dari mana dan bagaimana cara kita melihatnya. Jika kita memang benar memiliki keperdulian terhadap sesamadan jika kita memang ingin adanya sebuah pembaharuan di masyarakat, maka jalan yang paling ideal untuk mewujudkan itu adalah dengan melalui ranah politik.
Jika kita ingin membantu banyak orang maka cara yang paling efektif adalah dengan terjun ke dunia politik, karena dengan terjun ke dunia politik ini akan ada banyak hal yang bisa kita lakukan demi kemaslahatan bagi banyak orang, sebagaimana apa yang pernah disampaikan oleh Basuki Tjahja Purnama atau yang lebih akrab disapa Ahok, "Saya belum mampu membantu orang sakit maupun sekolah. Kalau saya jadi pejabat semua orang miskin bisa saya bantu. Kalau pakai duit pribadi saya enggak mampu," demikian ucap mantan orang nomor wahid di DKI Jakarta, yang menyadari bila media politik adalah media untuk membantu orang banyak seperti dikutip dari Merdeka.Com (Sabtu, 1 Maret 2014).

Kita juga harus melihat secara cermat, bagaimana pun pembentukan gambaran politik yang negatif pada kenyataannya disebabkan oleh masyarakat itu sendiri. Politik Money, tentu tidak akan tumbuh sumbur jika masyarakatnya dengan tegas menolak praktek politik money pada masa kampanye. Sehingga pada giliran selanjutnya, potik money akan melahirkan korupsi sebagai jalan yang ditempuh untuk mengembalikan secara cepat modal akibat dari politik money  yang dilakukannya tersebut.
Dalam menyambut tahun politik ini, sekiranya perlu ditekankan lagi bahwa harus ada  rekonstruksi perspektif tentang apa itu politik yang sudah terlanjur diartikan sebagai sesuatu yang negatif  karena bagaimana pun juga politik tidak melulu dengan kompetisi perebutan kekuasaan dengan segala hal-hal negatifnya, ada sisi lain dari politik seperti misalnya tentang kepemimpinan yang memang wajib ada dalam kehidupan berbangsa dan negara, agar terciptanya budaya politik yang tinggi dalam bentuk partisipasinya demi kebaikan bersama . Politik itu ada sebagai akibat dari adanya interaksi antar manusia sebagai mahluk sosial, kita tidak bisa menghindarinya karena memang poltik itu adalah sesuatu yang dibutuhkan, dan yang harus kita lakukakn adalah berusaha menciptakan budaya politik sebagaimana masyarakat madani.






Post a Comment

Previous Post Next Post