Di
katakan jika filsafat merupakan induk dari semua ilmu pengetahuan seperti
matematika, logika, geometri dan yang lainnya. Dengan demikian dapat kita
artikan jika filasafat merupakan sebuah metode yang sudah sangat tua atau kuno
dan masih bertahan sampai saat ini dengan berbagai tahapan metamorphosis mengikuti
arah perkembangan zaman. Membahas filsafat Yunani,sebagai tempat yang menjadi pusat perkembangan filsafat,kita tentu
tidak bisa begitu saja mengabaikan peran dari Aristoteles, Socrates dan Plato merupakan tiga tokoh yang tidak
salah jika di sebut sebagai salah satu tonggak
terkuat dunia filsafat yunani, dimana
pemikiran tiga filsuf brilan tersebut menyebar luas ke seluruh dunia, dan tidak
disangkal telah mempengaruhi semua cabang ilmu filsafat yang menyebar keseluruh
duni, ,sebagai peletak dasar-dasr ilmu filsafat, tiga tokoh pemikir yang
memiliki ikatan guru dan murid ini juga merupakan orang-orang yang dianggap
sebagai peletak metode ara berpikir secara ilmiah.Dengan tokoh-tokoh seperti
merekalah filsafat mengalami perkembangan yng cepat meski kelahiran filsafat
yang sebenarnya bukan dari negeri Yunani melainkan berasal dari negeri Asia, dan alasan kenapa filsafat berkembang pesat di Yunani, hal itu disebabkan oleh faktor sosial-budaayaa bangsa Yunani yang lebih ruang lebar bagi masyarakatnya secara bebas untuk mengembangkan fikirannya.
Di
sisi lain, agama sebagai objek lain dalam bahasan ini, adalah seperangkat peraturan
yang harus dijalankan pengangutnya sebagai pedoman hidup, dan merupakan sebuah peraturan yang sangat tua yang dikenal
umat manusia, dari agama dengan ruang lingkup yang sederhana sampai dengan
agama yang ruang lingkupnya kompleks. Sejarah awal kemunculan agama-agama
yang paling dikenal, sama seperti filsafat yang berasal dari benua asia,
seperti agama Islam, Kristen, Budha dan
agama-agama besar yang lainnya, namun demikian sebagaimana filsafat, agama pun
melalui berbagai tahapan metamorphosis, misalnya agama Kristen lebih hidup dan
berkembang di negara-negara barat, dibandingkan di benua asalnya. Yang pasti agama
telah menjadi sesuatu yang sangat
penting keberadaannya sejak awal mula kemunculannya dalam peradaban umat
manusia, hingga sampai detik ini.
Agama
apa pun itu, baik yang samawi maupun agama Ardhi. Dan baik agama yang terbentuk dari
akumulasi budaya maupun agama yang membentuk suatu budaya, semuanya memiliki
satu hal esensial yang menjadikannya satu sama lain sama dalam hal subtansi
yakni fakta jika agama adalah suatu sistem yang di dalamnya bertumpu pada
keyakinan (hati) dalam mencari maupun memaknai suatu kebenaran, kendati
rasionalotas yang bersumber dari akal pikiran tetap memiliki ruang dalam ajaran
agama namun tetap saja jatung dari sebuah agama adalah sistem keyakinannya.
Barang kali hal inilah yang kemudian menjadi hal yang mendasar antara agama dan
filsafat yang berorientasi secara mutlak pada akal pikiran dalam mencari dan
memaknai sebuah kebenaran. Perbedaan pendekataan lah yang menjadi jurang
pemisah antara keduanya walaupun objek dari keduanya adalah sama yakni
“kebenaran”, cara berpikir filsafati tentu saja akan dengan keras menentang dogma-dogma
tentang konsep kebenaran yang diajarkan di dalam agama, dan sebaliknya filsafat
yang hanya berpijak pada akal pikiran manusia dan cendrung mendewakannya
sebagai sumber kebenaran, menjadi sesuatu yang tak luput dari kritik dan
koreksi dalam sudut pandang agama mengingat keterbatasan akal pikiran manusia.
Persetruan
di antara keduanya bagaimana pun juga telah tergambarkan dengan sangat jelas
oleh Imam Al-Ghozali dan Ibnu Rusyd. Di mana dua tokoh tersebut saling
mengkonter satu sama lain dengan dua pendekatan yang berbeda. Melalui kaaryanya
yag berjudul “Tahafutul Falasifa” (Incoherence of the Philosohers) “ Al-Ghozali
memulai konflik dengan maksud mengkritisi sesuatu yang menurut Al-Ghozali
keliru dari para filsuf. Al-Ghozali dengan sangat jelas dan tegas menunjukan
kekliruan pemikiran filsafat yang menurutnya sesat dan menyesatkan. Dan
perdebatan ini semakin menarik dan memanas serta menarik perhatian di
kalangan masyarakat luas bahkan bukan
hanya dari kalangan muslim saja namun masyarakat barat juga, saat para filsuf
membantah argument-argumen Al-Ghozali yang menyerang mereka dengan terang-terangan.Dengan
karyanya yang berjudul”Tahafutul Tahafut(Incoherence of Incoherence) ” Ibnu Rusyd yang mewakili para filsuf membantah
argument-argumen dari Al-Ghozali yang tercantum dalam karyanyatersebut.
Meskipun
dua tokoh besar tersebut sama-sama berasal dari kaum muslim, namun mereka
memiliki dasar pemikiran yang sangat radikal dari sisi perbedaannya. Ada pun
menjadi perdebatan keduanya, yang paling terkenal dan paling pokok adalah
perbedaan pandangan terkait Ketuhanan dan Alam Semesta. Ibnu Rusyd dan kalangan
filsuf mendukung pandangan Aristoteles yang beranggapan jika sifat Tuhan yang
maha mengetahui, hanya mencangkup sesuatu yang universal dan bukan pada hal-hal
detailnya, hal ini dikarenakan menurut para filsuf tersebut pengetahuan tuhan
adalah bentuk pengetahuan tertinggi, dan pengetahuan tertingi hanya layak untuk
mencangkup hal-hal yang tinggi pula bukan pengetahuan yang tidak penting. Tentu
saja hal demikian ditentang keras oleh Al-Ghozali, karena menurutnya informasi
Tuhan yang mengetahui diterangkan dengan jelas di dalam kitab Suci (Al-quran)
yang merupakan sumber hukum primer . Al-Ghozali mengkritik dengan keras para
filsuf yang mencoba memahami konsep ketuhanan hanya menggunakan akal. Selain
konsep tentang pengetahuan Tuhan yang menjadi perdebatan antar Al-Ghozali dan
Ibu Rusyd, adalah perdebatan tentang “Alam Semseta”. Berawal dari sebuah
pertanyaan tentang hakikat Alam Semesta, apakah ia memiliki permulaan atau
tidak?. Menyikapi hal ini, Ibnu Rusyd berpandangan bahwa alam semestra bersifat
Azali, ia tanpa permulaan da nada dengan sendirinya tanpa ada zat yang
mengadakannya. Akan tetapi meskipun begitu, Ibnu Rusyid mengakui jika keazalian
alam semesta berbeda dengan keazalian Tuhan. Menyikapi pandangan para filsuf terkait alam
semesta ini, Al-Ghozali, ia mengatakan “ Apa yang mereka sebutkan itu adalah
buatan mereka sendiri, bahkan pada hakikatnya merupakan kegelapan di atas
kegelapan”. Menurutnya alam semseta berasal dari ketiadaan menjadi ada karena
ada yang mengadakannya sebagai mana yang termaktub di dalam al-quran, alam
semesta ada karena iradat Tuhan untuk mengadakannya dan tidak mungkin ada
dengan sendirinua.
Demikianlah
sedikit pembahasan tentang agama dan filsafat. Semoga bermanfaat

Post a Comment