Sejarah peradaban umat manusia mencatat, jika
sastra adalah sesuatu yang sudah dikenal
lama oleh manusia beribu-ribu tahun yang lalu dan tersebar luas di segala
bangsa, karena setiap bahasa pasti memiliki sastra. Sastra sebagai hasil dari
daya cipta manusia dan menjadikannya sebagai bagian dari kebudayaan, tidak
berlebihan kiranya jika kemudian kita harus mengapresiasi dengan selayaknya.
Sehinga dengan sikap yang mengapresiasi ini akan mendorong para sastrawan tanah
air untuk menghasilkan karya-karyanya yang lebih baik lagi ke depannya, hingga
pada puncaknya membawa kesastraan Indonesia berjaya di pentas sastra dunia. Dan
secara bersamaan, dengan tumbuhnya tradisi sastra akan menumbuhkan pula cinta
terhadap bahasa yang menjadi medianya yakni bahasa Indonesia.
Menilik
sebentar beberapa tahun ke belakang, kita dihadapkan pada kenyataan jika dunia
sastra Indonesia sedang mengalami masa yang tidak mengggairahkan. Dan ini salah
satunya terlihat dari begitu sedikitnya para generasi muda yang tidak mengenal
karya-karya sastra Indonesia apalagi pada tingkatan apresiasi terhadapnya,
ditambah lagi kurangnya wadah bagi para peminta sastra khususnya di tingkat
daerah. Di sisi lain,anggapan yang mengatakan jika karya-karya sastra memiliki
strata jauh di bawah karya-karya ilmiah menjadi penyebab minimnya para peminat
sastra, hal ini dilihat karena karya-karya Ilmiah lebih memiliki manfaat yang
terlihat secara nyata serta terasa bagi kehidupan manusia.
Melihat
kondisi ini, PAC IPNU/IPPNU Pabedilan sebagai anak cabang dari organisasi
keagamana terbesar di tanah air yaitu Nahdatul Ulama, berinisiatif untuk
kembali mengenalkan sastra kepada para generasi muda melalui kegiatan “Kemah
Sastra”.Dengan harapan akan meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap
sastra dan menyaring mereka yang memiliki minat serta potensi di bidang sastra
untuk semakin mengasah kemampuannya, karena tidak menutup kemugkinan dari
mereka-mereka inilah akan lahir sastrawan-sastrawan sekaliber Pramoedya Ananta
Toer dengan karya-karya besarnya seperti “Bumi Manusia”, “Aanak Semua Bangsa”,
“Arok Dedes” dan karya-karyanya yang lainnya, dan Khairil Anwar dengan
sajak-sajaknya yang terkenal seperti sajak yang berjudul “Aku”,
“Krawang-Bekasi”, “Senja di pelabuhan kecil” Dan sajak-sajaknya yang lainnya.
Kemah
Sastra yang dilaksanakan pada 23-24 Desember 2017 bertempat di Aula Darma
bangsa desa Babakan yang mengangkat tema “Mengenal Bangsa Lewat Sastra” diikuti oleh sekitar 100 peserta meliputi
dari kalangan pelajar yang berasal dari sekolah di kawasan Cirebon Timur seperti
SMAN 1 losari, SMAN 1 Lemah Abang SMAN 1 Pabedilan, dan SMA ataupun MA Negeri
lainnya yang berada dikawasan Cirebon Timur maupun sekitarnya serta beberapa pelajar
SMP, juga diikuti oleh sejumlah mahasiswa dari IAIN Syekh Nur Jati Cirebon dan
para peminat sekaligus penikmat sastra kawasan Cirebon Timur. Dan hal ini
menunjukan tingginya antusias sastra di kawasan daerah khususnya Cirebon Timur.
Sebagai
upaya untuk menumbuhkan kembali gairah sastra di tanah air perlu kiranya
kegiatan serupa “Kemah Sastra” digalakan secara masif dan menyebar di seluruh
Indonesia. Meskipun kegiatan seperti ini tidak serta merta membawa kesastraan
Indonesia melambung tinggi sebagai mana fenomena “El Boom” yang terjadi di
Amerika latin di tahun 1960-1970 yang membawa kesastraannya berdiri
membanggakan di kancah dunia. Akan tetapi kegiatan Kemah Sastra merupakan salah
satu langkah awal dan sederhana sebelum menginjak tahap-tahap lainnya seperti
memperbanyak terjemahan karya-karya sastra terkenal dunia dalam bahasa
Indonesia ataupun sebaliknya, untuk merangsang minat bagi generasi muda yang
akan memberi nafas baru bagi sastra tanah air.
Lalu
apa manfaatnya belajar sastra secara nyata bagi kita. Jika kita mengamati ada
banyak hal yang bisa kita dapatkan dengan mempelajari sastra, contohnya nyata
pengaruhnya terhadap psikologis dan emosionl bagi seseorang. Belajar sastra
memiliki pengaruh yang tidak sedikit dalam membentuk karakter seseorang,mengutip
apa yang pernah disampaikan oleh Khalifah besar umat Islam Umar bin Khotob sang
penakluk, Ia pernah berkata “Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah
anak yang pengecut menjadi pemberani”.
Dan sebagai mana yang dijelaskan oleh Asef
Saeful Anwar, sastrawan dan orang dibalik novel yang berjudul AlKUDUS yang
menjadi salah satu pemateri dalam acara kemah sastra ini, ia menjelaskan jika
kondisi emosional seseorang yang belajar dan suka membaca karya sastra memiliki
kecendungan emosional yang lebih stabil
dari pada mereka yang tidak mempelajari dan tidak suka membaca karya
sastra.Dengan begitu secara tidak langsung sastra berhubungan erat dengan
kesehatan seseorang, karena orang yang memiliki emosional yang stabil tentu
berpengaruh terhadap sistem imunitas tubuhnya.
Dan
lebih jauh lagi, berbicara tentang seberapa pentingnya belajar sastra. Hal yang
paling mudah untuk dipahami, Ia adalah salah satu media untuk menanamkan rasa nasionalisme
karena sastra berupa karya yang bermedia bahasa. Dan sebagaimana kita tahu jika
bahasa Indonesia merupakan salah satu identitas dari bangsa. Dengan belajar dan
mencintai sastra maka secara otomatis akan membuat semangat sumpah pemuda yang
berbunyi “kami putra-putri bangsa Indonesai berbahasa yang satu, bahasa
Indonesia” tetap hidup. Dan penting diketahui juga, jika teks yang tertuang
dalam sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal berdirinya negara Indonesia merupakan
sebuah karya sastra berupa sajak dengan pola rimanya yang a-a-a.
Dalam
acara kemah sastra yang dilaksanakan pertama kalinya di kawasan Cirebon Timur dan
menjadi awal pembentukan Komunitas Sastra Cirebon Timur ini juga berhasil
menghadirkan para sastrawan Cirebon seperti Asef Saeful Anwar, Astrajingga
asmasubrata, Wahyudi dan yang lainnya. Meskipun Charly berhalangan hadir
sebagaimana jadwal semula namun tidak mengurangi kemeriahan acara tersebut. Acara
kemah sastra sendiri selain memiliki manfaat dalam memberikan pengetahuan
tentang sastra bagi para peserta, ia juga memiliki manfaat sebagai media untuk
memperluas pergaulan dan menjadi wadah untuk kegiatan-kegiatan yang positif
saat pengaruh-pengaruh negatif menyebar luas di kalangan generasi muda.
Semoga
ke depannya kegiatan-kegiatan seperti Kemah Sastra dapat terlaksana lebih rutin
dan lebih baik lagi untuk menumbuhkan tradisi sastra. Dan sebagai mana yang
disampaikan oleh ketua panitia dalam pelaksana kemah Sastra ini, Jamaludin,
S.Hum, ia mengharapkan semoga ke depannya pelaksanaan kegiatan semacam ini
dapat dijalankan secara lebih meriah lagi dengan dukungan oleh para pejabat
terkait di tempat pelaksanaan kegiatan tersebut.

Post a Comment