Nasionalisme sebagaimana yang kita semua tahu, bermakna suatu kondisi
dimana seseorang mencintai tanah airnya. Keberadaan nasionalisme di hati setiap
warga negara memiliki peranan yang sangat vital terhadap keberlangsungan negara
itu sendiri. Namun mirisnya kita tidak dapat menutup mata jika pada
kenyataannya banyak para generasi muda khususnya kalangan remaja yang minim
dalam hal nasionalisme. Dan hal ini mudah kita lihat dari begitu banyaknya
kalangan remaja hususnya para gadis yang hafal di luar kepala sederet nama
artis-artis dari negeri gingseng yang sebenarnya nama-nama tersebut bagi orang
Indonesia susah untuk dihafalkan, sedangkan remaja lelakinya begitu gandrung
terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan sepak bola.
Tidak ada yang salah ketika banyak dari remaja putri yang demam dan mengidolakan artis-artis dari
negeri ginseng, setidak salahnya remaja putra saat mereka memiliki kecendrungan
terhadap dunia si kulit bundar, dan tidak ada yang melaranag untuk hal itu.
Akan tetapi menjadi pantas untuk bersikap prihatin dan mengeryitkan dahi, saat
kondisi ini bertolak belakang dengan wawasan kebangsaan generasi muda ini,
contoh sederhananya dapat dilihat dari minimnya wawasan mereka yang begitu
terbatas tentang pahlawan-pahlawan nasional. Selain Ir.Soekarno, Moh.Hatta dan
R.A.Kartini, nama-nama pahlawan lainnya kalah melekat diingatan mereka
dibanding nama Lee jong suk, lee min ho maupun nama wayne rooney dan Bastian Schweinsteiger.
Transisi yang terjadi
di berbagai bidang sebagai akibat dari perubahan zaman yang ditopang oleh ilmu
pengetahuan dan teknologi,memang telah memberikan banyak manfaat bagi umat
manusia dan tidak ada yang menyangsikan akan fakta tersebut, akan tetapi hal
yang demikina pun tak luput dari dampak negatif yang menyertainya,salah satunya
adalah begitu mudahnya rasa nasionalisme tereduksi di kalangan generasi bangsa.
Interaksi yang terjalin dalam konteks globalisasi antar budaya satu dengan yang
lainnya dari bangsa-bangsa di dunia yang diberikan ruang selebar-lebarnya dalam
era banjir informasi ini, telah menjadi faktor dominan terkait kondisi minimnya
rasa nasioalisme di kalangan muda-mudi
dekade ini.
Memang zaman menuntut kita semua untuk
memposisikan diri sebagai warga dunia, akan tetapi ada nilai kebangsaan yang
sangat penting unuk tetap dijunjung tinggi keberadaannya. Sehinggga tetap akan
ada yang menjadi pembeda antara bangsa kita dengan bangsa yang lainnya, sebagai
sebuah bangsa yang bangga akan kekayaan budayanya sendiri dan sebagai bangsa
yang berkarakter.
Filterisasi terhadap
pengaruh budaya luar yang tidak bersesuaian atau bertentangan dengan
kepribadian bangsa harus benar-benar diperhatikan, sehinggga jangan sampai
hanya karena atas nama globalisasi, banyak dari generasi bangsa menjadi asing
terhadap corak dan kepribadian bangsanya sendiri.
Dan lebih jauh lagi,
terkait bagaimana kehidupan beragama penting kiranya ada penekanan pemahaman
bahwa nasionalisme sama sekali tidak bertentangan dengan doktrin atau ajaran
agama khususnya islam. Sebaliknya justru keduanya adalah satu kesatuan yang
berjalan beriringan dan saling bersinergi. Adalah terbelakang sebuah pandangan
yang menganggap cinta tanah air sebagai fitrah manusia bertentangan dengan
agama. Mengutip hikmah dari hadratus syaikh Hasyim Asy’ari, beliau menyatakan
“Hubbul Waton Minal Iman” yang artinya cinta tanah airadalah bagian dari iman,
dengan demikian dapat kita semua pahami bahwa cinta tanah air adalah refleksi
dari keimanan yang bersumber dari spiritualitas dalam agama.
Hanya sebuah kesempitan
berfikir dan kefanatikan yang melampaui batas yang menghasilkan pemikiran
jika menghormati bendera merah putih adalah
tindakan sesat dan kafir.

Post a Comment