Kasus
korupsi mega proyek E-KTP yang masih
bergulir sejak beberapa tahun yang lalu
telah menyisakan banyak cerita. Kasus yang berlahan namun pasti, kini mulai
kembali menyeret nama-nama anyar tokoh politik elit dalam negeri ini, telah
memasuki babak baru. Layaknya sebuah adikarya prosa dengan sejuta penikmatnya,
kasus korupsi E-KTP telah sampai pada salah satu bab paling menarik yang
mengisahkan lakon dengan petualangan dan kegigihannya dalam memperjuangkan apa
yang menjadi haknya, setidaknya itu pandangan sang lakon dalam kisah ini. Dan
sampai sekarang , alur kisah ini terus berlanjut, meningalkan rasa penasaran
dan geram yang penuh prasangka terhadap sepak terjang lakon utamanya ini.
Beberapa waktu yang
lalu, perhatian publik tersedot oleh kasus korupsi E-KTP yang menyasar ketua
umum partai pohon beringin sekaligus ketua DPR, Setya Novanto. Menariknya
meskipun KPK telah melayangkan dua kali pangggilan pemeriksan, dua kali itu
juga Setya Novanto dengan bandelnya memilih tidak hadir dengan alasan yang sama
yaitu sakit. Pada panggilan yang pertama sebagaiaman yang dikutip dari
Kompas.com (19/09/2017),Setya Novanto tidak dapat hadir karena berhalangan
sakit Vertigo lalu di susul sakit jantung pada panggilan ke dua yang
menetapkannya sebagai tersangka.Faktanya, SetNov Sejak panggilan pertama memilih
tidak hadir seolah telah mengetahui strategi penyidik KPK jika semuanya pada
akhirnya akan membawanya pada posisi tersangka.
Namun menariknya, entah bermaksud untuk
meyakinkan pihak KPK atau pun bermaksud mencari simpati dari masyarakat luas,
pihak dari Setya Novanto mengunggah foto kondisi ketua DPR yang sedang dirawat
tersebut ke media sosial dalam menyikapi panggilan pemeriksaan kedua . Dan
dalam sekejap, sejuta respon dari warga net langsung membanjiri media sosial
seperti facebook, twitter maupun yang lainnya. Seolah paham dengan prilaku para
politisi dalam negeri dalam bergelit saat mulai terjerat kasus korupsi dengan
cara-cara klasik, sebaliknya bukan simpatin yang di dapat, justru sindiran
serta olok-olok yang membahana, dimana
kesemuannya itu mengandung makna bahwa “kami sudah muak dan bosan menyaksikan
alur kisah yang sama untuk tema ini (baca:kasus korupsi).
Bukan
tanpa alasan, jika kemudian netizen mengolok-olok foto tersebut di media
sosial.Terdapat kejanggalan mencolok yang ada dalam foto tersebut, yaitu alat
pembantu pernafasan yang seharusnya
terpasang dimulut, akan tetapi tidak terpasang sesuai dengan prosedur
yang ada, dan itu membuat netizen menganggapnya sebagai upaya yang konyol
karena itu serupa drama atau mungkin layaknya sinetron-sinetron tanah air yang
berisi pembodohan. Dan memang pada kenyataannya sebagaimana disampaikan oleh Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo, bahwa menurut dia, motif sakit itu sia-sia karena bukan rasa iba dan
simpati yang didapatkan melainkan kecaman dari masyarakat, dikutip dari
Kompas.com (19/09/2017).
Bentuk benci dan kemuakan masyarakat terhadap terhadap pelaku
tindak pidana korupsi bisa kita lihat dari bagaimana mayoritas tanggapan
masyarakat terhadap kecelakaan kendaraan yang dialami tersangka Setya Novanto
yang terjadi pada kamis malam saat mobilnya menabrak tiang listrik,tak lebih
dari manuver yang sengaja dilakukan sebagai bagian dari skenario yang dipersiapkannya, untuk menghadapi kemungkinan
saat alibi sedang sakit sudah tidak efektif lagi untuk menghindar dari proses
hukum yang sedang menjeratnya. Tidak heran jika seiring dengan pemberitaan
media yang sangat intens sejak penjemputan langsung dari pihak KPK yang
mendatangi rumah Setya Novanto, muncul aksi Save Tiang Listrik yang disuarakan
di media sosial dan menjadi trending topic.
Save Tiang Listrik merupakan fenomena
unik dan bentuk sindiran warga net terhadap Setya Novanto yang dikemas dengan
kreatifitas dalam bentuk meme. Dan dari begitu banyaknya meme save tiang
listrik yang bertebaran, semuanya memiliki maksud dan tujuan yang serupa, bahwa
kendati sebuah kecelakaan menimpa Setya Novanto, akan tetapi selama status tersangka tindak pidana
korupsi masih di sandangnya, hal yang demikian itu akan tetap dianggap sebagai
upaya menghindar dari proses hukum yang sedang berlangsung. Dengan kejadian
yang terlalu dramatis, justru menambah stigma buruk dan pandangan skeptis
terhadapnya. Apa lagi, anehnya dibandingkan sopir dan ajudannya hanya Setya
Novanto yang mengalami luka parah.
Mengingat posisinya
sebagai pejabat tinggi dalam negeri, seharusnya ia lebih bisa memberikan contoh
kepada masyarakat bukan malah memicu timbulnya stigma buruk dari
masyarakat, hingga menghadirkan
kemungkinan bahwa pada titik tertentu apa yang sedang terjadi sekarang bisa
menjadi semacam generalisasi jika semua pejabat tinggi memiliki prilaku yang
sama, dimana ia akan sangat berkelit
saat dijerat kasus korupsi ketika bahkan semua bukti telah nampak jelas dan
nyata, terlebih lagi menjadikan alasan sakit untuk menghambat proses hukum
bukanlah kali ini saja digunakan elit politik saat tersandung kasus korupsi,
itu adalah lagu lama dan masyarakat telah bosan mendengarnya.
. Jabatan yang
diembannya sebagai ketua DPR sekaligus ketua umum dari salah satu partai
politik besar tanah air, tentu saja membuatnya memiliki tanggung jawab moral
lebih besar untuk memberikan pendidikan politik kepada publik. Dan untuk yang
kesekian kalinya, publik kembali diperlihatkan akan ironi bahwa hukum yang ada
seolah tidak memiliki kekuatan yang sama untuk semua warga negara, khususnya
para elit. Bagaimana tidak jika kemudian mereka bersikap seolah tidak menghormati hukum bahkan terkesan
melawannya. Tindakan tidak kooperatif terhadap proses hukum yang sedang
berjalan, tidak sepantasnya dilakukan oleh para pejabat yang seharusnya tidak hanya cerdas, akan tetapi telah sampai
juga pada tingkatan sadar hukum.
Dan dengan adanya aksi
save tiang listrik dan semua bentuk sindiran sekaligus kecaman, sejatinya adalah
bagian dari sanksi sosial bagi para pelaku pelanggar hukum khususnya dalam
kasus korupsi, yang kemunculannya setidaknya memberikan tanda bahwa segenap rakyat mendukung KPK dalam membrantas
korupsi sehingga tidak perlu ragu dalam langkahnya, bukankah kedaulatan ada di
tangan rakyat.Semoga ini menjadi pelajaran bagi semuanya dan ke depannya tidak
ada lagi hal yang demikian.

Post a Comment