LAKON SETYA NOVANTO DALAM ADIKARYA KASUS E-KTP

        

           Kasus korupsi  mega proyek E-KTP yang masih bergulir sejak beberapa tahun  yang lalu telah menyisakan banyak cerita. Kasus yang berlahan namun pasti, kini mulai kembali menyeret nama-nama anyar tokoh politik elit dalam negeri ini, telah memasuki babak baru. Layaknya sebuah adikarya prosa dengan sejuta penikmatnya, kasus korupsi E-KTP telah sampai pada salah satu bab paling menarik yang mengisahkan lakon dengan petualangan dan kegigihannya dalam memperjuangkan apa yang menjadi haknya, setidaknya itu pandangan sang lakon dalam kisah ini. Dan sampai sekarang , alur kisah ini terus berlanjut, meningalkan rasa penasaran dan geram yang penuh prasangka terhadap sepak terjang lakon utamanya ini.
        Saat masyarakat telah sangat geram serta di ujung rasa kesal, menanti kejelasan akhir dari kasus korupsi mega proyeks E-KTP. Memang masyaraktlah pihak yang paling dirugikan dalam hal ini, dimana karena kasus ini secara langsung menimbulkan masalah-masalah bagi masyarakat seperti misalnya mereka kesulitan dalam memperoleh hak pilih dalam pemilihan kepala daerah karena belum memiliki KTP sebagai salah satu syaratnya, belum lagi mereka yang terkendala dalam mencari pekerjaan karena ketiadaan KTP sebagai identitas primernya. Dan saat intitusi KPK sedang gencar-gencarnya membersihkan korupsi di bumi nusantara ini, lembaga anti rasuah ini dibuat gregetan oleh prilaku-prilaku orang yang telah menjadi target sasarannya.
Beberapa waktu yang lalu, perhatian publik tersedot oleh kasus korupsi E-KTP yang menyasar ketua umum partai pohon beringin sekaligus ketua DPR, Setya Novanto. Menariknya meskipun KPK telah melayangkan dua kali pangggilan pemeriksan, dua kali itu juga Setya Novanto dengan bandelnya memilih tidak hadir dengan alasan yang sama yaitu sakit. Pada panggilan yang pertama sebagaiaman yang dikutip dari Kompas.com (19/09/2017),Setya Novanto tidak dapat hadir karena berhalangan sakit Vertigo lalu di susul sakit jantung pada panggilan ke dua yang menetapkannya sebagai tersangka.Faktanya, SetNov Sejak panggilan pertama memilih tidak hadir seolah telah mengetahui strategi penyidik KPK jika semuanya pada akhirnya akan membawanya pada posisi tersangka.
 Namun menariknya, entah bermaksud untuk meyakinkan pihak KPK atau pun bermaksud mencari simpati dari masyarakat luas, pihak dari Setya Novanto mengunggah foto kondisi ketua DPR yang sedang dirawat tersebut ke media sosial dalam menyikapi panggilan pemeriksaan kedua . Dan dalam sekejap, sejuta respon dari warga net langsung membanjiri media sosial seperti facebook, twitter maupun yang lainnya. Seolah paham dengan prilaku para politisi dalam negeri dalam bergelit saat mulai terjerat kasus korupsi dengan cara-cara klasik, sebaliknya bukan simpatin yang di dapat, justru sindiran serta olok-olok  yang membahana, dimana kesemuannya itu mengandung makna bahwa “kami sudah muak dan bosan menyaksikan alur kisah yang sama untuk tema ini (baca:kasus korupsi).
         Bukan tanpa alasan, jika kemudian netizen mengolok-olok foto tersebut di media sosial.Terdapat kejanggalan mencolok yang ada dalam foto tersebut, yaitu alat pembantu pernafasan yang seharusnya  terpasang dimulut, akan tetapi tidak terpasang sesuai dengan prosedur yang ada, dan itu membuat netizen menganggapnya sebagai upaya yang konyol karena itu serupa drama atau mungkin layaknya sinetron-sinetron tanah air yang berisi pembodohan. Dan memang pada kenyataannya sebagaimana disampaikan oleh Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo, bahwa menurut dia, motif sakit itu sia-sia karena bukan rasa iba dan simpati yang didapatkan melainkan kecaman dari masyarakat, dikutip dari Kompas.com (19/09/2017).
        Bentuk benci dan kemuakan masyarakat terhadap terhadap pelaku tindak pidana korupsi bisa kita lihat dari bagaimana mayoritas tanggapan masyarakat terhadap kecelakaan kendaraan yang dialami tersangka Setya Novanto yang terjadi pada kamis malam saat mobilnya menabrak tiang listrik,tak lebih dari manuver yang sengaja dilakukan sebagai bagian dari skenario yang  dipersiapkannya, untuk menghadapi kemungkinan saat alibi sedang sakit sudah tidak efektif lagi untuk menghindar dari proses hukum yang sedang menjeratnya. Tidak heran jika seiring dengan pemberitaan media yang sangat intens sejak penjemputan langsung dari pihak KPK yang mendatangi rumah Setya Novanto, muncul aksi Save Tiang Listrik yang disuarakan di media sosial dan menjadi trending topic.
        Save Tiang Listrik merupakan fenomena unik dan bentuk sindiran warga net terhadap Setya Novanto yang dikemas dengan kreatifitas dalam bentuk meme. Dan dari begitu banyaknya meme save tiang listrik yang bertebaran, semuanya memiliki maksud dan tujuan yang serupa, bahwa kendati sebuah kecelakaan menimpa Setya Novanto, akan tetapi selama status tersangka tindak pidana korupsi masih di sandangnya, hal yang demikian itu akan tetap dianggap sebagai upaya menghindar dari proses hukum yang sedang berlangsung. Dengan kejadian yang terlalu dramatis, justru menambah stigma buruk dan pandangan skeptis terhadapnya. Apa lagi, anehnya dibandingkan sopir dan ajudannya hanya Setya Novanto yang mengalami luka parah.
Mengingat posisinya sebagai pejabat tinggi dalam negeri, seharusnya ia lebih bisa memberikan contoh kepada masyarakat bukan malah memicu timbulnya stigma buruk dari masyarakat,  hingga menghadirkan kemungkinan bahwa pada titik tertentu apa yang sedang terjadi sekarang bisa menjadi semacam generalisasi jika semua pejabat tinggi memiliki prilaku yang sama, dimana ia  akan sangat berkelit saat dijerat kasus korupsi ketika bahkan semua bukti telah nampak jelas dan nyata, terlebih lagi menjadikan alasan sakit untuk menghambat proses hukum bukanlah kali ini saja digunakan elit politik saat tersandung kasus korupsi, itu adalah lagu lama dan masyarakat telah bosan mendengarnya. 
. Jabatan yang diembannya sebagai ketua DPR sekaligus ketua umum dari salah satu partai politik besar tanah air, tentu saja membuatnya memiliki tanggung jawab moral lebih besar untuk memberikan pendidikan politik kepada publik. Dan untuk yang kesekian kalinya, publik kembali diperlihatkan akan ironi bahwa hukum yang ada seolah tidak memiliki kekuatan yang sama untuk semua warga negara, khususnya para elit. Bagaimana tidak jika kemudian mereka bersikap seolah  tidak menghormati hukum bahkan terkesan melawannya. Tindakan tidak kooperatif terhadap proses hukum yang sedang berjalan, tidak sepantasnya dilakukan oleh para pejabat yang seharusnya  tidak hanya cerdas, akan tetapi telah sampai juga pada tingkatan sadar hukum.

Dan dengan adanya aksi save tiang listrik dan semua bentuk sindiran sekaligus kecaman, sejatinya adalah bagian dari sanksi sosial bagi para pelaku pelanggar hukum khususnya dalam kasus korupsi, yang kemunculannya setidaknya memberikan tanda bahwa  segenap rakyat mendukung KPK dalam membrantas korupsi sehingga tidak perlu ragu dalam langkahnya, bukankah kedaulatan ada di tangan rakyat.Semoga ini menjadi pelajaran bagi semuanya dan ke depannya tidak ada lagi hal yang demikian.

Post a Comment

Previous Post Next Post