Negara sebagai sebuah komunitas yang
memiliki teritorial wilayah yang luas sekaligus sebagai sebuah organisasi yang dilengkapi
dengan serangkaian norma dan hukum yang kompleks, merupakan bentuk perwujudan
dari individu-individu yang penuh kesadaran memutuskan untuk membentuk suatu
kelompok besar demi mencapai kehidupan yang lebih aman, tentram dan sejahtera
karena sadar
bahwa hal yang demikian akan sukar tercapai jika tidak bersatu dalam suatu wadah yang disebut negara. Dengan demikian dapat dipahami bersama secara sederhana bahwa negara adalah media sekaligus kristalisasi hasrat dari segenap manusia yang mendambakan kehidupan yang ideal, yakni kehidupan yang aman, tentram dan sejahtera.
bahwa hal yang demikian akan sukar tercapai jika tidak bersatu dalam suatu wadah yang disebut negara. Dengan demikian dapat dipahami bersama secara sederhana bahwa negara adalah media sekaligus kristalisasi hasrat dari segenap manusia yang mendambakan kehidupan yang ideal, yakni kehidupan yang aman, tentram dan sejahtera.
Maka tumbuh dan berkembangnya rasa
nasionalisme di hati warga negara atas tanah airnya merupakan fitrah dari
hakikat manusia yang selalu mendambakan kehidupan yang ideal. Rasa nasionalisme
atau cinta tanah air sebagai tempat yang telah memberikan hidup dan
penghidupan, saat ini menghadapi era persaingan tak terkecuali persaingan di
bidang budaya, yang kondisi ini dapat menjadi faktor dominan yang dapat
mengaburkan orientasi nasionalisme generasi penerus bangsa. Dan pada
realitanya, kekhawatiran ini telah mulai tampak pada kehidupan generasi-generasi
muda saat ini, dilihat dari jumlah pemuda pemudi yang meniru lifestyle budaya
barat, baik dalam segi penampilan cara berpakaian maupun pola fikir yang
menyimpang dari ketimuran.
Transisi
yang terjadi di berbagai bidang sebagai akibat dari perubahan zaman yang
ditopang oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengtahuan, meski kita semua tidak dapat menampikan fakta akan segudang dampak
positif dari perubahan tersebut akan tetapi hal yang demikian pun tak luput dari dampak negatif yang menyertainya, salah
satunya adalah begitu mudahnya rasa nasionalisme tereduksi di kalangan generasi
bangsa. Interaksi yang terjalin dalam konteks globalisasi antar budaya dari
bangsa-bangsa di dunia yang diberikan ruang selebar-lebarnya dalam era banjir
informasi ini, telah benar-benar paling berperan terkait kondisi minimnya rasa
nasionalisme di dekade ini khususunya di kalangan muda-mudinya.
Globalisasi
memang telah membawa kita untuk menjadi masyarakat global yang secara otomatis
menuntut kita semua untuk selalu mengikuti segala perkembangan yang terjadi
dalam skala dunia. Dan globalisasi disamping menghadirkan berbagai keuntungan,
seperti keuntungna dalam bidang perdagangan, ilmu pengetahuan dan teknologi
serta keuntungan di bidang-bidang yang lainya, juga menawarkan tantangan.
Batasan-batasan antar satu negara dengan negara yang lainnya di belahan dunia,
dalam pandangan globalisasi seolah musnah sehingga terjadi arus persilangan
budaya yang mudah sekaligus cepat yang
tak jarang bertentangan dengan corak budaya bangsa kita dan hal ini
tentu dapat meracuni putra-putri bangsa yang masih belia.
Kita
dihadapkan dengan fenomenam miris dimana para generasi bangsa yang masih belia lebih
memilih menghabiskan waktunya untuk mengenal dan mengikuti trend dunia seperti
drama korea dan K-pop, dibandingkan
untuk menggali dan mempelajari kearifan-kearifan lokal yang ada di sekitarnya.
Dan hal ini, berkat arus globalisasi tidak hanya melanda remaja di kota-kota
besar saja melainkan hingga ke
pinggir-pinggir pelosok desa. Mereka lebih hafal dengan lagu-lagu asing yang
tentunya rumit untuk dihafal ketimbang lagu-lagu wajib nasional, dan hal yang
disayangkan adalah kenyatan bahwa televisi selaku media yang kini tidak hanya berperan sebagai tontonan melainkan
telah menjadi tuntunan, memberikan ruang untuk menjamurnya hal yang demikian
itu.
Filterisasi terhadap pengaruh budaya luar yang
tidak bersesuaian dengan kepribadian bangsa yang notabene telah terbentuk sejak
Indonesia belum meraih kemerdekaannya,harus benar-benar diperhatikan, sehingga
jangan sampai hanya karena atas nama globalisasi, banyak dari generasi bangsa
ini menjadi asing terhadap corak serta kepribadian bangsanya sendiri. Memang
zaman menuntut kita semua untuk memposisikan diri sebagai warga dunia, akan
tetapi ada nilai kebangsaan yang sangat penting untuk tetap dijunjung tinggi
keberadaannya, sehingga tetap akan ada yang menjadi pembeda antar bangsa kita
dengan bangsa yang lainnya,sebagai sebuah bangsa yang bangga akan kekayaan
budayanya sendiri dan sekaligus sebagai bangsa yang berkarakter.
Dan
televisi sebagai media yang di era ini memiliki peranan penting dalam kehidupan
masyarakat, harus bisa menjadi agen yang bisa menumbuhkan rasa kecintaan
terhadap tanah airnya sendiri di hati putra-putri bangsa ini, khususnya bagi
stasiun televisi swasta, dengan menampilkan tayangan-tayangan yang berbau
kekayaan budaya lokal. Tidak hanya mengincar keuntungan belaka tanpa
memperhatian efek yang dapat ditimbulkan bagi generasi bangsa. Karena sampai
saat ini, televisi khususnya stasiun televisi swasta lebih gencar menyuguhkan tayangan yang hanya
berorientasi pada rating sedang sisi nilai mendidik atau tidaknya seolah
dikesampingkan. Maka tak mengherankan, jika kemudian banyak kita jumpai
tayangan-tayangan yang ada saat ini miskin muatan edukasi.
Mungkin
kita bisa lihat, hanya beberapa stasiun televisi swasta yang secara rutin
setiap harinya menayangkan lagu kebangsaan seperti Indonesia raya cipta W.R.
Supratman atau pun tanah airku cipta Ibu Soed ,akan tetapi itu pun ditayangkan pada
jam-jam yang tidak efektif. Maka dengan budaya literasi yang masih rendah dan
tingginya budaya visual dan audio di kalangan masyarakat kita, menjadikan media
televisi sebagai salah satu faktor yang menciptakan fenomena sosial yang
bersifat negatif dan salah satunya adalah timbulnya kondisi generasi yang
kurang mencintai tanah airnya sendiri.

Post a Comment