“Orang yang
malas telah membuang kesempatan yang diberikan Tuhan, padahal Tuhan tidak
pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia.”
(Mario Teguh)
“Salah satu
pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang
menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.”
(Buya Hamka)
Kanker yang
sebagai momok menakutkan merupakan suatu penyakit yang sangat mengerikan,
bagaimana tidak jika kemudia dikatakan berdasarkan ilmu medis bahwa sampai
detik ini obat yang benar-benar dapat menyembuhkannya belum ditemukan, penyakit
yang mengerogoti seluruh sel di dalam tubuh manusia ini semakin hari semakin
meningkat angka penderitanya dan mereka yang divonis telah terkena kanker
seolah sama artinya menerima vonis mati, apa lagi jika sudah pada tahapan
stadium akhir yang dalam banyak kasus, usia sang penderita sudah dapat
diperkirakan berdasarkan iktisar ilmu medis, meskipun hanya sekedar iktisar
namun setidaknya hal demikian menunjukan betapa mengerikan dan berbahayanya penyakit
mematikan di era milenia ini. Pada dasarnya setiap orang di bumi memiliki sel
kanker dalam tubuhnya, akan tetapi seseorang baru dikatakan telah mengidap
kanker jika sel kanker di tubuhnya telah melampaui ambang batas dari yang bisa
ditoleransi tubuh, dan dengan lifestyle yang terus berkembang justru
meningkatkan resiko terkena penyakit ini, maka tidak lah mengherankan jika kemudian
angka penderitannya menunjukan grafik yang terus menanjak, berdasarka data dari
WHO menunjukan pada tahun 2008 sampai 2012 penderita kanker meningkat dari
1,4 juta menjadi 12,7 juta.
Dan malas sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk
menunjukan sifat dan suatu kondisi, dengan memperhatikan akibat buruk yang
dapat ditimbulkannya maka tidak berlebihan kiranya jika penulis
mengilustrasikannya lewat penyakit kanker sebagai momok yang mengerikan,
sebagai himbauan bagi kita semua untuk
terhindar dari penyakit yang disebut malas ini. Sebagai mana sel kanker
yang terdapat di dalam tubuh setiap
orang, maka demikian juga lah keadaanya kondisi kelemahan hati yang enggan
untuk melakukan sesuatu atau disebut malas yang menghinggapi seluruh hati
manusia tanpa terkecuai selama ia masih sebagai seorang manusia, baik laki-laki
maupun perempuan, tua atau pun muda, belia atau pun renta, dan tak melihat
strata sosial mau pun ekonomi hanya saja setiap orang tentunya memiliki ukuran
yang berbeda dalam kadarnya, baik kualitas maupun rentan waktunya.
Seorang pelajar di suatu sekolah SMA menjalani
kegiatan belajar setiap harinya sebagai seorang siswa dengan bermalas-malasan,
sebenarnya saat ia pertama kali masuk sekolah di kelas 10 ia memulainya dengan
penuh semangat karena ia memiliki motivasi yang kuat untuk melanjutkan jenjang
pendidikannya setelah SMA akan tetapi semangatnya untuk belajar berubah menjadi
rasa malas saat ia masuk di kelas 11 disebabkan oleh banyak faktor dan kondisi
ini pada kenyataannya banyak dialami oleh pelajar kita.
Rasa malasnya terus berlanjut hingga ia berada di
penghujung semester pertama, maka berakhirlah peringkat pelajar tersebut
terdampar di peringkat ke 24 dari jumlah seluruh siswa yang tidak lebih dari 40
anak, berbeda jauh keadaanya saat ia berada di kelas 10 yang selalu masuk dalam
10 besar di kelasnya untuk dua semester ketika bahkan ia masih sangat aktif
dalam kegiatan ekstrakulikuler, ia sendiri menyadari rasa malas yang
menyelimutinya dan sepenuhnyaa sadar dampak buruk apa yang akan menimpa jika ia
terus dalam keadaan yang demikian, akan tetapi sayangnya ia tidak memiliki
kekuatan yang cukup untuk mengusir rasa malas tersebut. Waktu terus berjalan
dan ia tak menunjukan perkembangan yang positif justru di semester kedua, pencapaian akademiknya lebih buruk dari
semester sebelumnya akibat rasa malas. Memang ia merasakan sendiri bagaimana
rasa nyamannya terperangkap rasa malas, selalu menunda-nunda tugas dan
mengabaikan belajar saat di rumah dan puncak dari akumulasi rasa malasnya sejak
menginjak kelas 11 sampai lulusnya, adalah rasa penyesalan yang tidak
berkesudahan saat ia tidak dapat melanjutkan kuliah dengan opsi tanpa tes
karena nilai akademisnya di bawah standar, ia bukannya tidak memilih opsi lain
untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, ia sudah mencoba berusaha masuk melali
jalur tes akan tetapi waktu yang diberikan untuk mempersiapkan materi tes
tersebut sangat terbatas sedangkan ia yang sebelumnya terbiasa dengan rasa
nyamannya rasa malas tentunya kelabakan, maka berakhirlah ia dengan derai air mata
bersama kegagalan untuk melanjutkan pendidikannya.
Demikianlah
berbahayanya malas yang sering tidak kita sadari atau mungkin sebenarnya kita sadari namun tidak memiliki kekuatan
yang cukup untuk mengusirnya seperti kutipan crita di atas, karena bagaimana
pun juga kita akan benar-benar tahu akibat buruk dari malas hanya ketika sudah
dalam bentuk bencana, jika sudah seperti ini maka hanya tinggal penyesalan. Kita
harus berhati-hati terhadap bahaya malas karena seperti seorang pelajar yang
diceriakan di atas, jika malas memiliki perangkap berupa kenyamanan sehingga
akan sulit bagi kita untuk keluar jika sudah terjebak terlalu dalam. Sebagaimana
cerita diatas menggambarkan jika dampak buruk dari kebiasaan malas memang lah tidak secara instan terjadi, ia menipu
kita hingga tak terasa dalam rentan waktu yang tidak sebentar kemalasan itu
menghadirkan penyesalan.
Lalu bagaimana cara terbaik untuk keluar jika sudah
terlanjur terperangkap di dalamnya, maka cobalah tanam kembali semangat dalam
dada dengan motivasi-motivasi berupa impian atau cita-cita dan bisa juga
membaca atau mendengarkan kisah-kisah menggugah hati tentang akibat buruk dari
rasa malas, coba renungkan telah berapa banyak kegagalan yang kita alami karena
rasa malas yang menyelimuti kita, ingat kembali seberapa banyak rasa malas itu
telah menyebabkan kita gagal misalnya dalam pencapaian nilai ulangan, renungkan
dengan dalam-dalam sudah berapa banyak target yang bisa kita raih sekarang jika
kita tidak berteman akrab dengan kemalasan.
Memang tak dapat dipungkiri jika pada realitanya
setiap orang memiliki kecendrungan untuk bermalas-malasan karena inj manusiawi
artinya semua orang memilikikecendrungan ini, setiap orang pasti pernah
mencapai pada titik jenuhnya, yaitu suatu kondisi saat kita tidak bergairah
ntuk melakukan sesuatu pun, seperti seorang pelajar yang sewajibnya belajar
dengan baik bagaimana pun juga pasti ada titik dimana ia merasa malas akan kewajibannya
tersebut atau seperti juga seorang guru yang ada saaatnya ia menemui titik
jenuhnya atas kewajibannya untuk mengajar para muridnya, karena bahkan pasti
ada saatnya kita terserang rasa malas untuk melakukan sesuatu yang menjadi
kesenangan atau hobi kita dikarenakan suatu keadaaan tertentu, akan tetapi hal yang harus kita perhatikan
adalah jangan sampai kita berlarut-larut dalam titik tersebut.
Sejalan dengan kanker yang dewasa ini semakin
meningkat kasusnya karena didukung oleh faktor-faktor berupa gaya hidup yang
tidak sehat seperti terlalu sering mengkonsumsi makanan cepat saji atau jonk food,
kurangnya berolahraga, terlalu sering terpapar radiasi atau yang lainnya, maka
dapat kita lihat betapa rasa malas yang melanda khususnya pada kalangan pelajar
remaja disebabkan oleh berbagai faktor
yang sifatnya relatif baru (dalam ruang lingkup gadget) seperti media sosial
dan game online yang sedang marak. Dampak yang sangat merugikan dari kebiasaan
malas yang berjalan terus dan terakumulasi akan benar menjadikan pelakunya
terjatuh dalam kubangan penyesalan yang sangat dalam suatu hari nanti, sebagaimana
faktor penyebab timbulnya kanker adalah sekumpulan atau akumulasi dari berbagai
hal buruk yang berjalan terus dalam waktu yang lama, hingga berakhir pada fase
menjadi kanker lalu mematikan si penderitannya.
Kita harus bijak dan pintar mengambil pelajaran yang
terjadi pada diri orang lain sebagai nasehat, telah banyak orang memiliki
potensi namun sayang potensinya tersebut
tidak bisa membawa ia pada kesuksesan dikarenakan malas dan telah banyak orang
dengan kemampuan yang biasa saja akan tetapi meraih pencapaian hidup yang
gemilang karena ia giat dan tidak bermalas-malasan.

Post a Comment