BELAJAR TOLERANSI DARI GUS DUR SANG GURU BANGSA

    

     Di era modern seperti sekarang, pandangan akan pentingnya toleransi untuk menciptakan keharmonisan  di tengah-tengan pergaulan internasional, telah banyak dikampanyekan melalui banyak cara. Dan fenomena yang menjadi sorotan publik dunia berupa tragedi yang  timbul akibat dari sikap intoleran yang masih berlangsung sampai detik ini, adalah tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis rohingya di Myanmar. Tindakan kekerasan  yang dilakukan otoritas Myanmar bagaimana pun tidak dapat dibenarkan atas dasar apa pun, apalagi pada kenyataannya korban akibat serangan dari militer Myanmar tidak hanya memakan kelompok milisi bersenjata yang menurut pihak Myanmar sangat berpotensi untuk mengancam kedaulatan negara Burma tersebut, melainkan memakan korban warga sipil juga.


     Belajar dari sejarah dengan melihat berbagai kejadian yang timbul dari pergesekan dan perseteruan antara kelompok yang terjadi di tanah air pada masa lampau, tentu dapat disimpulkan bahwa kesemuaanya itu terjadi salah satunya sebagai akibat dari kurangnya rasa toleransi antar kelompok, baik agama, suku atau yang lainnya, yang memegang pembenaran menurut versi mereka masing-masing . Begitu penting kesadaran akan adanya rasa toleransi, terlebih lagi pengamalannya secara konkret dalam menyikapi keberagaman, sebagai upaya menjaga stabilitas serta satu kesatuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai negara dengan bentuk keberagamannya yang sangat kompleks, sudah barang tentu toleransi menjadi salah satu pilar yang harus berdiri tegak di tengah-tengah budaya dan masyarakat kita.

         Berbagai tragedi yang pecah serta dilatar belakangi oleh  intoleransi telah mewarnai kehidupan bangsa ini, baik konflik atas nama agama maupun kesukuan, beberapa contoh yang masih melekat kuat dalam ingatan masyarakat, adalah tragedi antar kelompok agama yang terjadi di poso, yakni perseteruan antar umat Islam dan umat Kristen, dan konflik kesukuan antar suku Dayak dan suku Madura yang terjadi di awal tahun 2001.  Era sentiment  antar kelompok di masa lalu membawa pandangan  radikal yang seharusnya menjadi salah satu unsur kekayaan tanah air ini, namun di masa-masa itu muncul putra bangsa yang menunjukan bagaimana seharusnya menjalankan kehidupan dalam keberagaman dengan menjunjung tinggi tolerasni.

Beliau adalah sang presiden ke 4, KH.Abdurahman wahid  yang biasa atau lebih akrab dikenal Gus Dur. Meskipun Indonesia dalam eranya selaku Presiden, beliau diserang oleh ribuan kritik akibat statement serta kebijakn-kebijakannya yang dianggap kontroversi kala itu,dan berjalannya waktu bahkan ke-kontroversiannya benar-benar dirindukan oleh banyak masyarakat, dan kondisi ini bukan tanpa alasan, pada kenyataanya kekontroversiannya lebih mengajak kita untuk berfikir kritis. Pemikirannya yang banyak ditentang saat itu, sejatinya adalah  demi bangsa Indonesia yang belum memiliki pijakan yang kuat setelah mengalami transisi dari orde baru menuju reformasi. Hal terpenting yang dilakukannya adalah mewujudkan secara konkret kehidupan berdemokrasi, sekaligus membawa ruh toleransi dalam sosial masyarakat.

Dengan dikeluarkannya keppres  RI no 6 tahun 2000 tgl 17 januari 2000 , adalah contoh paling nyata dan paling besar manfaat yang dirasakan oleh kalangan pemeluk konghucu, yang sebelumnya terbatasi dalam menjalankan kegiatan keagamaannya sebagai kelompok minoritas. Di mulai pada era Gus Dur lah etnis tionghoa dan pemeluk agama konghucu memiliki ruang untuk menjalankan kehidupan mereka sesuai dengan agama dan budaya yang mereka anut selama tidak bertentangan dengan pancasila tentunya, setelah secara resmi konghucu diakui sebagai salah satu agama yang ada di Indonesia, dan lebih jauh lagi Imlek yang notabenya sebagai hari besar dalam budaya tionghoa, ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Sikapnya  yang pro terhadap minoritas khususnya terhadap kalangan etnis Tionghoa, tak mengherankan jika kemudian beliau mendapat julukan sebagai Bapak Tionghoa. Dengan cara yang mungkin hanya dapat dilakukan oleh beliau, Presiden yang juga dikenal memiliki selera humor ini menunjukan bagaimana seharusnya toleransi itu diinternalisasi dalam setiap aspek kehidupan masyarakat pada waktu itu yang masih dalam masa transisi politik. Mungkin beliau sebagai sosok yang pernah memimpin negeri ini tidak lah meninggalkan sesuatu dalam bentuk fisik serupa bangunan megah layaknya yang ditinggalkan oleh Presiden Soekarno, namun apa yang ditinggalkan beliau adalah sesuatu yang berupa ruh tentang bagaimana cara menjalani hidup dan kehidupan  berbangsa serta bernegara di tanah yang penuh keanekaragaman ini.

Dan ketika kondisi dalam beberapa tahun belakangan kasus-kasus intoleransi di berbagai daerah mulai mencuat kembali ke permukaan khususunya yang berlatar agama, sebagaimana yang dikutip dari Kompas.com (05/01/2017),,bahwa kasus intoleransi mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, data yang dicatat oleh Komnas HAM menunjukan jika terdapat 87 kasus di tahun 2015yang itu berarti mengalami peningkatan yang sigmifikan dari 75 kasus di tahun sebelumnya . Jaya Damanik selaku Koordinator Desk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) Komnas HAM mengkawatirkan kondisi demikian terhadap kebhinekaan yang ada.

      Dengan melihat perkembangan yang ada maka perlu kiranya pubik di ingatkan kembali akan sosok yang terus hidup dengan  pemikiran-pemikirannya yang megajarkan akan pluralisme. Bagaimana beliau menyikapi kebhinekaan dengan toleransi dalam pluralitas adalah refleksi dari penghayatan  hidup berbangsa dan bernegara dalam naungan demokrasi yang berasaskan pancasila,harus kita jadikan landasan agar tidak untuk menuju keharmonisan hidup meski dalam ke-heteroge-an agama,suku, ras dan yang lainnya dan menghindari pergesekan-pergesekan yang tidak perlu serta merusak persatuan dan kesatuan sebagai satu bangsa.

      Marilah kita semua sebagai manusia yang disatukan atas nama bangsa, menanamkan rasa toleransi untuk menyikapi keberagaman yang ada di tengah-tengah kita demi menjaga keharmo nisan dalam persatuan. menghindari pergesekan yang meretakan persatuan hanya dapat dilakukan jika kesadarana akan arti penting toleransi benar-benar dihayati dan diamalkan dalam keberagaman sebagai bagian dari realitas bangsa yang , sebagai mana yang pernah dikatakn oleh Gus Dur bahwa “Keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya”.







Post a Comment

Previous Post Next Post