EKSISTENSI NIAT

EKSISTENSI NIAT


Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya,
ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk.
(Imam An nawawi)

Awal dari sebuah ilmu adalah niat, kemudian memperhatikan, kemudian memahami, kemudian mengamalkan, kemudian menjaga, kemudian menyebarluaskan.
(Abdullah bin al-Mubarak)

 Seberapa penting kondisi hati yang disebut niat? Jika kita analogikan  niat dalam suatu kontruksi bangunan,bangunan apa pun itu tanpa terkecuali baik sebuah rumah tinggal, rumah sakit, sekolah, perkantoran dan yang lainnya, merupakan pasak atau pondasi yang berfungsi untuk memastikan dan bertanggung jawab atas berdiri  tegaknya bangunan di atasnya.  Pasak yang besar dan tertanam dengan kedalaman yang lebih akan memiliki daya tahan  dan kekuatan  yang lebih terjamin, berbeda kondisinya dengan pasak yang ala kadarnya. Tentu  kondisi pasak yang ala kadarnya akan membuat bangunan yang bertumpu di atasnya akan mudah runtuh bahkan tanpa intervensi dari goncangan sekali pun, karena berjalannya waktu beban yang ada di atasnya menjadi cepat overload karena pondasi yang sejak awal tidak benar. Begitulah secara sederhana gambaran peran dari keberadaan niat dalam kehidupan seseorang.
Ada sebuah potongan cerita singkat yang cukup menarik untuk bahasan tentang niat. Dalam suatu organisasi di sekolah, di sebut organisasi karena memang ia belum atau tidak termasuk dalam ekstrakulikuler, organisasi tersebut bergerak dalam hal kepedulian dengan lingkungan. Suatu ketika ketua dari organisasi ini berniat untuk mengadakan suatu kegiatan di luar lingkungan sekolah. Niat baik tentunya, yakni akan mengadakan aksi peduli saluran irigasi yang menjadi penyebab air meluap dipemukiman warga saat musin hujan melanda, tak tanggung-tanggung saluran irigasi yang rencananya akan disisir sepanjang tidak kurang 100 meter dengan ukuran lebar 1,5 meter dan kedalaman 1 meter..
“Kita harus memulainya,.. kalo bukan ari kita lalu siapa lagi” ucap sang ketua dalam pertemuan rutin organisasi tersebut. Segera saja gagasan sang ketua disambut aneka ragam oleh seluruh anggota , ada yang menyambutnya dengan pandangan skeptis, namun lebih banyak yang menyambutnya penuh apresisai dan semangat serta tak luput juga dari respon aggota-anggota yang masa bodoh dan uring-uringan tak peduli. Yang pasti cara sang ketua yang menyampaikannya yang meyakinkan dan penuh rasa percaya diri lah yang membuat banyak anggota yang mendukung niatnya tersebut.
“Ini baru sikap seorang ketua, berani berinisiatif dalam hal-hal yang baru” ucap salah satu anggota kepadaa sesama anggota yang lainnya menilai ketua mereka saaat itu. Berjalannya waktu rencana tersebut menjadi tak lebih hanya sekedar cataatan agenda di atas meja yang tak pernah terlaksana. Dengan berbagai dalih sang ketua selalu melakukan manuver  saat anggota-anggotanya mulai sering bertanya terkait kepastian kegiatan tersebut, berbagai alasan ia kemukakan untuk berteduh dari kesalahan-kesalahan yang mungkin ditujukan kepadanya, keterbatasan dana untuk membeli peralatan yang di perlukan serta yang lainnya lah, tidak adanya waktu yang memungkinkan lah dan berbagai alasan yang lainnya. Rencana kegiatan itu pada akhirnya menguap ke atas langit lalu tersapu bersih oleh angin, benar-benar bersih tanpa sisi sedikit pun.
Lihatlah bagaimana cerita di atas berusaha menjelaskan betapa pun sebuah niat itu, tidak cukup jika hanya sekedar lebih dalam hal ukuran  semata, namun yang lebih penting adalah seberapa dalam niat tersebut menancap dalam dada. Boleh jadi siapa saja dapat memiliki niat atau rencana yang besar bahkan mulia akan tetapi jika niat atau rencana tersebut tidak terpatri dengan lekat dalam dada maka akan berakhir sama dengan niat atau rencana sang ketua dalam cerita di atas. Jika kondisi niat kondisi niat yang di kemukakan sang ketua tertanam dalam di sanubari dan seabsolut dengan caranya menyampaikan yang penuh keyakinan dan percaya diri sudah pasti alasan-alasan atau kendala seperti dana dan keterbatasan waktu yang ada serta hambatan-hambatan yang lainnya,akan di sikapi dengan mencari solusi dan alternatif-alternatif lainnya.
Pada tahapan selanjutnya, justru pandangan yang ditujukan kepada sang ketua oleh para anggotanya akan menilai negatif sang ketua sebagai “tong kosong nyaring bunyinya”, jika seperti ini maka hilanglah sudah wibawah sang pemimpin.
Niat dalam hati merupakan refleksi esensi dari sesuatu yang dikerjakan oleh setiap individu sebagaimana dijelaskan dalam bahasa agama. Maka dari itu mereka yang bijak akan menyematkan niat terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu,jika tidak demikian keadaannya, maka gerak raga hanya sekumpulan impuls syarat yang direspon oleh otot dan panca indra belaka dimana hal itu hambar dan tak bermakna.
Seorang anak yang pergi ke sebuah supermarket sudah pasti memiliki niat yang jelas dan pasti untuk membeli sesuatu,baik itu hendak membeli makan ringan,peralatan kebersihan daan lainnya. Coba kita bayangkan kasusnya jika anak tersebut masuk ke dalam supermarket tanpa niat yang jelas untuk membeli jenis barang apa, hal demikian bukan hanya janggal tapi bahkan sangat konyol. Niat adalah sekumpulan gerak hati yan berhasrat untuk melakukan sesuatu, sedangkan  impian, tuhjuan serta cita-cita itu sendiri adalah bentuk niat yang lebih tinggi dan kompleks,dan perlu adanya pembiasaaan diri untuk belajar memanage atau mengatur  niat dalam hati karena sering kali niat dalam hati kita berbelok arah saat menjumpai sesuatu yang sebelumnya tidak kita perkirakan, dan yang lebih penting bagaimana pun juga niat memiliki 2 sisi, yakni niat baik dan niat buruk.
Jauh lebih baik niat yang tertanam dalam serta kuat di sanubari sekali pun niat tersebut berada dalam skala ukuran yang sederhana bahkan kecil,dibandingkan dengan niat yang besar namun  mudah terombaang-ambing karena haanya mengambang dalam dada yang mudah tersapu angin waktu. Niat, lebih jauh lagi memiliki 2 dimensi,yaitu sebagai faktor dan juga sebagai indikator. Disebut sebagai faktor karena sudah jelas jika posisi niat menentukan pada tarapan sangat dalam hal tingkat keberhasilan suatu usaha yang dilakukan individu,dia yang memiliki niat yang mumpuni (bukan hanya besar namun juga tertanam kuat daalaam dada) sudah pasti akan mencari solusi alternatif ketika menjumpai hambatan di tengah maupun awal jalan sebagaimana sudah disebutkan di atas. Sedangkan niat sebagi indicator, dapat kita lihat bahwa orang yang melakukan seseorang yang melakukan sesuatu dengan penuh niatan dalam hatinya, akan menunjuka kesungguhan seseorang itu dalam menjalankannya.ibarat di dalam sebuah prosedur persayaratan maka dapat dikatakan niat adalah pra-syarat sebelum adanya kesungguhan.


    

Post a Comment

Previous Post Next Post