Kita
sering terkesima dengan orang yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan
sesuatu di hadapan orang banyak dengan cara mengesankan, baik itu teman kita
sendiri, guru maupun orang lain. Kemampuan berbicara di depan kalayak atau
istilah lainnya disebut publik speaking merupakan skill yang tidak bisa
dipisahkan dari karakteristik seorang pemimpin, maka dari itu tidak heran bila
kemudian salah satu syarat dalam kemimpinan harus memiliki skill ini tidak
boleh tidak karena bagaimana pun juga skill publik speaking sangat menunjang
kapasitas seorang leader dalam hal memepengaruhi orang lain, karena tidak
mungkin seseorang dapat mempengaruhi pikiran orang lain jika ia tidak piawai
dalam memaparkan gagasan-gagasan secara verbal.
Dalam
hal kemampuan public speaking kiranya tidak perlu jauh-jauh kita
mencontohkannya melalui tokoh-tokoh luar negeri seperti king luther atau nelson
mandela
yang pidato dan orasi-orasinya penuh nyawa hingga mampu memgema
keseluruh dunia karena kita mengenal sang bapak proklamator, yakni Soekarno
sebagai seorang narator ulung yang
kemampuan publik speakingnya telah mencapai level yang berbeda, setelah itu ada
juga bung tomo yang tentu kita ingat, bagaimana semangat juang rakyat Surabaya pada
waktu itu berhasil di bakar hingga membara untuk mengangkat senjata melawan
para sekutu setelah sebelumnya mendapat ultimatum dari pihak sekutu berkat
pidatonya yang heroic, tanpa suntikan semangat yang dilakukan bung tomo melalui
pidatonya tersebut ,sejarah yang kita lihat hari ini pasti akan berbeda, tanpa
aksi perlawanan dari masyarakat Surabaya kala itu maka 10 November tak lebih
sebagai tanggal setelah 9 November dan sebelum 11 November bukan sebagi hari
pahlawan Indonesia, tidak kurang dan tidak lebih. Public speaking bukan hanya
terbatas tentang berbicara (speaking) di depan banyak orang (public), melainkan
juga penyampaian gagasan-gagasan yang dapat menyakinkan orang-orang tersebut
terkait sesuatu.
Meski penyampaian pesan dalam bentuk kata-kata secara verbal sedikit
berbeda dengan bahasa dalam bentuk tulisan, namum tetap masih dalam satu ruang
lingkup fungsi yakni menyampaikan sekumpulam informasi. Lebih jauh lagi, bahasa
secara verbal memiliki kelebihan yang tidak dimiliki saat kita menggunakan
bahasa tulisan, seperti misalnya kedalaman makna kata-kata saat diucapkan
sehingga mudah mempengaruhi pikiran orang lain dengan pengaruh nada dan juga
ekspresi.
Saya sendiri menyaksikan secara langsung
bagaiamana di dalam satu kelas, terdapat si A dan si B yang keduanya merupakan
dua siswa yang paling menon jol dalam kelasnya.
Si A merupakan siswa yang pandai dalam hal ilmu eksak yang kaitannya
dengan angka-angka atau perhitungan, kemampuannya tersebut diakui guru-gurunya
bahkan tak jarang guru-gurunya tersebut memuji akan kepandaiannya.
Pelajaran-pelajaran yang bisa dikatakan momok bagi sebagian siswa seperti
pelajaran fisika dan kimia karena dianggap susah, namum justru bagi si A itu
seperti permainan puzzle yang mudah dan menyenangkan baginya, dan hampir
pencapaian nilai sempurnanya saat ulangan untuk mata pelajaran perhitungan
sejak kelas 10 hingga kelas 12 hampir mencapai presentase 100%, namun seperti
yang kita semua yakini bahwa Tuhan itu maha adil, jika seseorang kurang dalam satu hal maka ia akan memiliki
kelebihan dalam hal yang lainnya dan itu sama maknanya jika seseorang yang
memiliki kelebihan dalam satu hal maka ia memiliki kekurangan dalam hal yang
lainnya. Si A yang memang pintar dalam hal pelajaran perhitungan, memiliki kelemahan
dalam hal public speaking. Ia kurang bisa dalam kaitannya memaparkan sesuatu di
depan siswa-siswa yang lainnya, seperti misalnya dalam pembelajaan dimana siswa
maju ke depan baik secara kelompok maupun individu untuk mempresentasikan
materi pelajaran.
Sedikit berbeda keadaanya dengan si B yang tidak terlalu menguasai dalam
pelajaran perhitungan seperti si A, ia tergolong siswa yang berada dalam
rata-rata dalam pelajaran eksak (perhitungan), bahkan ia pernah beberapa kali
tidak lulus dalam ulangan mata pelajaran fisika yang dikenal horror bagi banyak
siswa. Si B dikenal di kelasnya sebagai seorang siswa yang pandai ber-verbal,
ia memiliki kelebihan dalam hal menyampaikan sesuatu di depan anak-anak yang
lainnya. Bahkan tak jarang teman-temannya mengatakan jika si B sudah sekompeten
seorang guru saat menjelaskan di depan. Ia aktif dalam hal berdiskusi, saat
sesi tanya jawab tidak hanya terbatas dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
namun tak jarang ia juga menyanggah jawaban yang di kemukakan sang pemateri
dengan argument yang logis. Dan pada kenyataannya dibandingkan si A, dalam
lingkungan sekolah tersebut secara luas (tidak terbatas pada satu kelas) si B
justru cendrung lebih dikenal jika dibandingkan
dengan si A, ya kepopuleran si B lebih terang gemilang jika dibandingkan si A yang ahli dalam
pelajaran perhitungan.
Lalu
pertanyaannya adalah mengapa kemampuan
bahasa secara verbal yang di miliki si B sebagai kelebihannya menjadikannya
lebih populer ketimbang si A yang ahli dalam mata pelajaran perhitungan, maka
yang harus kita pahami bersama terlebih dahulu adalah bahwa bahasa sebagai alat
atau media komunuikasi yang paling utama merupakan kemampuan yang dipraktikan
setiap waktu selama kita melakukan interaksi, kemampuan bahasa seseorang sangat
mudah kita lihat,caranya adalah hanya dengan melakukan beberapa kali dialog
dengan seseorang tersebut, jadi mereka yang memiliki kemampuan verbal tentu sangat
mudah diketahui karena hal itu terpancar dari bagaimana caranya berbicara (berinteraksi),
berbeda dengan si A yang meskipun ia pintar dalam pelajaran perhitungan, namun
kita hanya akan tahu jika ia memiliki kempuan itu saat ia dihadapkan dengan
soal-soal yang mengandung angka-angka sedangkan dalam kehidupan sosialnya kita
susah menebak-nebak apakah ia memang ahli dalam ilmu eksak (perhitungan) atau
tidak.
+ HAL YANG IDENTIK
Memang benar sebagaimana kita sering
lihat di layar TV, orang yang memiliki kemampuan yang lebih dalam hal publik
speaking lebih banyak yang terjun ke dunia perpolitikan yang akrab dengan aksi sikut-menyikut, dunia
yang abu-abu dimana teman yang di hari ini belum tentu teman di hari esok, akan
tetapi profesi seorang guru yang notabe-nya merupakan pekerjaan mulia juga
dituntut memiliki kemampuan yang mumpuni dalam hal memaparkan atau menjelaskan
sesuatu di depan murid-muridnya dengan bahasa verbal, bahkan skill ini dalam
sudut pandangan keguruan merupakan salah satu komponen dasar yang harus ada
pada diri seorang guru. Meraka yang memiliki skill ini, tidak kemudian melulu
sebagai seorang yang suka serta lihai untuk menipu orang lainnya , karena
semuanya kembali lagi pada pribadinya masing-masing, sebagaimana yang telah
disebutkan di atas bahwa bahasa hanya sebatas alat atau media komunikasi yang
baik buruknya tergantung dari tujuan yang menggunakannya.
Di era seperti sekarang dimana kebebasan
menyuarakan pendapat di depan umum begitu di dewakan dan tak jarang disikapi
dengan radikal sehingga bermunculan opini-opini tak bertanggung jawab yang
bermunculan, public speaking menjadi komponen yang begitu penting untuk di
miliki seorang individu dalam hal menyikapi persaingan yang semakin ketat,
bukan melulu sebagai bekal untuk melakukan orasi di jalan-jalan menuntut
sesuatu karena ketidak puasa akan kinerja pemerintah atau demonstrasi,
melainkan sebagai kompetensi dalam hal berorganisasi atau yang lebih penting
adalah sebagai kompetensi yang sangat bermanfaat saat terjung di masyarakat,
dengan adanya kemampuan ini kita tentunya akan lebih mudah untuk mengayomi
masyarakat.
Seperti kemampuan yang lainnya, public speaking juga dapat kita
kembangkan dengan pembiasaan-pembiasaan yang dapat kita lakukan sejak sekarang,
maka dari itu mulai sekarang hilangkan alasan-alasan seperti malu, minder atau
merasa tidak mampu saat ada kesempatan untuk unjuk gigi di depan anak-anak yang
lain.

Post a Comment