Peringatan hari lahir merupakan momentum
yang sangat tepat untuk dijadikan titik pijakan dalam merefleksikan rasa
nasionalisme dan patriotisme dalam perenungan yang berorientasi pada pemikiran
“apa yang bisa dan telah kita berikan untuk negeri ini”. Indonesia kita
tercinta adalah negeri dengan sejarahnya yang dibalut oleh perjuangan para
kusuma bangsa yang dengan gagah berani menghantarkan bangsa ini untuk dengan
lantang memproklamirkan diri ke seluruh penjuru semesta sebagai bangsa yang
merdeka meski harga yang harus dibayar untuk hal itu adalah dengan segenap
usaha jiwa dan raga sekaligus kucuran darah
serta tetetasn air mata.
Memang
telah berpuluh-puluh tahun negeri ini telah bebas dari momok kolonialisme dan
imprealisme, bertitik pada 17 Agustus
1945 sejak proklamasi kemerdekaan tanah air ini menggema ke seluruh
penjuru semesta maka sudah 72tahun lamanya negeri ini menggenggang kemerdekaan.
Merdeka berarti bebas berdiri dan merdeka merupakan keadaan serta kondisi di
mana itu terleas dari belenggu-belenggu yang menjerat gerak, akan tetapi benarkah demikian kenyataan kemerdekaan milik
kita (Indonesia). Kita memang telah bebas dari penjajahan secara fisik namun
kita kemudian tidak bisa menutup mata atau menyangkal kenyataan bahwa sejatinya
negeri ini masih terjajah oleh sesuatu yang lebih berbahaya dari sekedar
senjata.
Kemiskinan,
keterbelakangan, budaya dan yang lainnya, adalah beberapa hal yang menunjukan
betapa negeri ini masih terperangkap dalam penjajahan di era modern ini.
Berdasarkan data dari BPS sebagaimana dikutip dari bps.go.id disebutkan bahwa ditahun
2016 tercatat 28,01 juta orang (10,86 persen), dari masyarakat kita masih berada dalam
kubangan kemiskinan,kondisi ini tak pelak menjadi faktor sekaligus indikator
betapa masih tingginya tingkat kesenjangan
strata sosial dalam masyarakat. Kesenjangan strata sosial menciptakan
keniscayaan fenomena si kaya-si miskin, kaum terpelajar-kaum terbelakang serta
kaum elit-kaum terpinggirkan, karena bagaimaana pun juga kemiskinan adalah akar
dari permasalahan yang akan melahirkan masalah-masalah yang lainnya terlebih
lagi di era modern seperti sekarang ini, yang segala sesuatunya seolah mengarah
pada siap materialistis sebagai tuntutan zaman.
72 tahun Indonesia sejak memproklamirkan
diri untuk berdaulat adalah 72 tahun Indonesia yang masih penuh dengan
permasalahan-permasalahan yang perlu untuk di evaluasi karena bagaimana pun
juga 72 tahun adalah masa yang tidak sebentar dalam rangka mengisi kemerdekaan
untuk menuju cita-cita bangsa seperti yang telah digaung-gaungkan sejak dahulu
kala yang pada realitanya masih jauh untuk digenggam. Berbagai permasalahan
yang bermunculan dan kemudian mengancam eksistensi dari kehidupan berbangsa dan
bernegara yang belandaskan pancasila serta mengancam kesatuan dan persatuan
bangsa telah banyak tumbuh serta berkembang sepanjang 72 tahun ini,dimulai dari
G30S/PKI hingga hadirnya ideologi-ideologi dengan warna agama yang bergaris
radikal yang baru-baru ini terjadi.
Di
tanah nusantara yang bernafaskan demokrasi dengan sisitem politiknya yang
menganut sistem Trias Politica, adalah menjadi sesuatu yang menarik untuk
kemudian mengamati bagaimana hiruk pikuk atmosfir kehidupan berpolitik di
Indonesia ketika mendapati kenyataan ketidak teraturan di dalamnya yang dikatakan
masih belum mencapai kedewasaan dalam berdemokrasi.
Untuk segala permasalahan yang ada,
pemerintah bukan berarti diam tanpa melaksanakan sesuatu sebagaimana fungsinya,
pemerintah telah berupaya dalam memberikan solusi untuk permasalahan yang menjerat
bangsa seperti masalah kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan masalah-masalah
pada bidang yang lainnya, hanya saja hal yang perlu kita pahami dan kita sadari
adalah bahwa upaya dalam mewujudkan Indonesia yang berjaya dan Indonesia yang
bermartabat di mata dunia adalah upaya yang tidak serta merta hanya di titik
beratkan pada penyelenggara negara yaitu pemerintah melainkan harus dilakukan
bersama-sama. Adalah menjadi keliru ketika pemikiran-pemikiran yang menunggu
sesuatu yang dapat diberikan oleh negara untuk kita bukan malah sebaliknya,
masih berkembang di masyarakat kita.
Dengan demikian maka marilah kita bahu
membahu serta rangkul merangkul dalam satu semangat untuk meuju masa depan indonesia
yang lebih baik sebagaimana hal ini senada dengan tema yang diambil dalam
peringatan HUT RI yang ke 72 tahun ini yakni KERJA BERSAMA, tugas membangun
negeri ini adalah kewajiban seluruh komponen bangsa dari aparat hingga rakyat
biasa bukan melulu tertumpu pada lembaga-lembaga negara.

Post a Comment