Dalam pergaulan internasional,
negara-negara di dunia dipandang sebagai negara yang memiliki martabat diantara
yang negara lainnya karena dilihat dari kemajuannya, baik di bidang ekonomi, militer,
pendidikan, olahraga maupun dalam bidang-bidang yang lainnya. Tak diragukan
lagi jika kejayaan bidang olahraga memang mampu membawa nama sebuah bangsa
membumbung tinggi ke seluruh dunia khususnya untuk jenis-jenis olahraga yang
populer, seperti olahraga balap mobil F1 (formula 1) serta balap moto Gp,
olahraga basket dan tentunya olahraga sepakbola yang menduduki posisi sebagai
olahraga terpopuler dan paling digandrungi di jagat raya yang sampai saat ini
belum ada tandingannya.
Indonesia terkait dunia sepakbola,
merupakan negara dengan masyarakatnya yang cinta dan fanatik terhadap sepakbola
sehingga tidak mengherankan jika kemudian perubahan dunia sepakbola tanah air
menuju kemajuan menjadi harapan yang selalu disuarakan. Pada kenyatannya sampai
detik ini keikut sertaan Indonesia dalam laga piala dunia sebagai kejuaraan
tertinggi dalam sepakbola masih menjadi khayalan yang entah kapan akan menjadi
kenyataan. Namun dengan melihat fakta dan data di lapangan dengan rasa prihatin
memang pantas bila dikatakan bahwa dunia sepakbola tanah air masih jauh dari
kondisi yang tertata serta digerogoti oleh berbagai masalah baik yang berasal
dari dalam federasi yang menaunginnya (PPSI) maupun dari luar.
Kemelut dan carut marut adalah warna jelas
yang membumbui dunia persepakbolaan nasional di tengah-tengah masyarakatnya
yang bisa dikatakan gila bola, serta menjadi bahan pemberitaan di berbagai
media baik cetak maupun elektronik yang hilir mudik. Beberapa masalah yang
berlahan seolah menjurus pada keadaan yang lumrah terjadi adalah
fenomena-fenomena yang terlahir dari sikap para supporter atau pendukung
klub-klub sepakbola dalam negeri yang belum dewasa dimana mereka memiliki
kecendrungan untuk bersikap tidak tertib serta anarkis terlebih saat massa
supporter ini bertemu dengan supporter lain yang dianggap sebagai rival, contoh
jelasnya antara bobotoh sebagai
supporter persib dan the jak supporter persija yang tak jarang berakhir dengan
bentrok dan ironisnya tekadang memakan korban tewas pula.
Bentrok antar dua supporter ini
tercatat telah banyak terjadi dari yang berskala kecil sampai dengan jumlah
massa yang tidak sedikit dan tahun 2014 menjadi tahun terjadinya bentrok
terbesar antar bobotoh dan the jak mania
baik dalam hal jumlah massanya maupun jumlah korban jiwanya yang pada saat itu
memakan 3 korban meninggal dunia. Sebagaimana dilansir dari liputan6.com (09
Agustus 2014) , dalam aksi
konfrontasi yang terjadi tepat pada tanggal pada tanggal 27 Mei 2014 berawal
dari larangan masuk ke dalam stadion bagi para bobotoh yang kebetulan pada laga
tandang persib tersebut dari pihak kepolisaian.
Dan permasalahan dunia sepakbola yang
menyedot banyak perhatian publik tanah air yang terjadi beberapa tahun
belakangan khususunya dari internal PSSI itu sendiri beberapa di antaranya
adalah perebutan kursi ketua di federasi sepakbola tertinggi dalam negeri ini
di tahun 2014 yang terjadi secara berlarut larut serta penuh polemik klasik.
Terang saja geliat olahraga yang satu ini mengalami masa-masa kelamnya selain memang
sebelumnya telah tercecer banyak masalah di luar permasalah yang berasal dari
badan yang bertugas menaungi yaitu PPSI, yang salah satunya telah diterangkan
di atas. Sebagai mana yang dikutip dari berbagai sumber, disebutkan bahwa
perbutan tampuk kekuasaan di PSSI menambah warna baru dalam permasalah
persepakbolaan Indonesia.
Namun dari semua masalah yag merebak
beberapa tahun lalu, polemik terkait pembekuan PSSI oleh KEMENPORA yang tidak
terduga-duga, tentu menjadi permasalahan yang paling disoroti dimana bahkan
Presiden Jokowi harus turun tangan dalam kasus ini. Kisruh panjang antar kubu
Menpora dan PSSI dimulai pada tanggal 17 April 2015 dimana pada saaat itu pihak
Seperti yang dilansir oleh kompas.com (26/05/2015), Menpora mengeluarkan surat
keputusan yang isinya berupa pernayataan bahwa Menpora tidak mengakui segala
bentuk keolahragaan yang diselenggarakan oleh PSSI. Menpora melakukan tindakan
yang demikian karena Psi tidak mengindahkan tiga kali surat teguran yang
dikeluarkan oleh Menpora.
Dan itu hanyalah beberapa masalah
dari sekian permasalahan yang meng-absurb-kan sepakbola tanah air karena masih
banyak permasalahan selain yang telah disebutkan di atas seperti konspirasi
wasit, sanksi-sanksi dari FIFA.
Perlu adanya langkah nyata dalam
upaya menjadikan olahragaa kulit bundar
lebih baik denagn solusi-solusi yang memiliki relevansi serta berani. Aksi-aksi
brutal para suporter yang telah lama bercokol dalam kancah persepakbolaan tanah
air harus dihapus denga pembatasan-pembatasan
berupa regulasi yang tegas di samping dengan pemberian pemahaman. Dan di luar
dari permasalahan supporter, hal yang tak kalah penting dan bahkan yang paling
utama adalah harus adanya optimalisasi pengaplikasian regulasi dengan serius
untuk mengkondisikan agar atmosfer di dalamnya dapat merangsang peningkatan
kualitas para pemain asli dalam negeri, salah satu contohnya adalah dengan
pembatasan jumlah maksimal pemain asing yang merumput bersama klub tanah air,
memang regulasi model ini telah diberlakukan namun pada kenyataannya belum
mencapai titik maksimal.
Adalah wajar di tengah –tengah
masyarakat yang cinta sepakbola jika kemudian menaruh ekspektasi yang tinggi
agar suatu hari nanti persepakbolaan Indonesia dapat menunjukan taringnya.

Post a Comment