RESOLUSI DAN REFLEKSI HARI RAYA IDUL FITRI




                  Fitri merupakan kata yang berasal dari kata fitrah serta memiliki fungsi untuk menjelaskan tiga hal sekaligus, yang pertama yakni fitrah yang bermakna suci, kemudian fitrah yang bermakna sifat bawaan atau bisa dikatakan sebagai naluriah dan yang terakhir fitrah sebagai makna yang merujuk padaagama. Fitrah sebagai makna sifat bawaan atau naluriah seorang manusia dapat menjadi dasar atau pondasi untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan negara Indonesia karena sebagaimana yang telah disampaikan oleh Quraish Shihab selaku khotib dalam sholat ied beberapa waktu yang lalu di masjid Istiqlal seperti yang dilansir dari Liputan6.com, bahwa cinta air adalah bagian dari fitrah manusia.
.Karena manusia diciptakan oleh Allah dari tanah maka,maka tidak heran jika nasionalisme, patriotisme, cinta tanah air, merupakan fitrah yakni naluri manusia” jelasnya di masjid istiqlal di hadapan ribuan jamaah termasuk Presiden jokowi beserta para pejabat lainnya saat sholat ied Minggu 25 Juni 2017.
          Hari raya idul fitri yang merupakan hari kemengan dan juga saat yang selalu dinantikan   khususunya bagi umat muslim di seluruh dunia adalah momentum yang menandakan puncak dari ibadah puasa selama sebulan penuh yang sarat dengan perjuangan dalam melawan diri sendiri, dan terlepas dari semua permasalahan yang mengikutinya layaknya kenaikan harga di berbagai sektor khususunya bahan pangan, permasalahan terkait penentuan waktu awal bulan puasa juga penetuan 1syawal serta permasalahan-permasalahan yang lainnya, hari raya idul fitri selalu memiliki arti tersendiri dengan berbagai hal yang jarang dijumpai selain di momen ini seperti tradisi mudik, berbagai makanan khas dan lain sebagainya.
      Hari raya idul fitri yang notabe-nya adalah hari kemenangan, harus dimaknai secara luas hingga melingkupi di luar dari umat islam itu sendiri, dengan kata lain semangat kemenangan di momen ini harus di sebarkan hingga ke seluruh dunia khususnya di seluruh tanah nusantara dengan meresapi islam yang rahmatan lil alamin.Memandang hari raya idul fitri sebagai hari kemenangan bagi semuanya adalah dengan pemahaman dan kesadaran bahwa umat beragam di Indonesia masih menjunjung tinggi toleransi sehingga acara keagamaan seperti hari raya idul fitri, hari raya natal,hari raya waisak serta hari raya-hari raya agama yang lainnya masih dapat berjalan sebagaimana mestinya.
     Sejatinya rangkaian ibadah selama bulan ramadhan dengan berbagai keutamaannya adalah perjalanan menuju pada kemenangan di hari raya yang menandakan proses perjalanan manusia menuju fitrahnya layaknya seorang bayi yang baru lahir ke dunia secara spiritual dengan keadaaan suci dan bebas dari segala dosa. Di hari ini segala hirup pikuk kehidupan seorang insan dengan berbagai kesalahan sera kekhilafan menemui titik baliknya, yakni dengan di bukanya lembaran baru sebagaimana seorang individu yang baru menghirup udaranya dunia, bersih dan jernih. Menuju fitrah adalah tujuan yang akan diraih saat mencapai penghujung bulan suci bagi setiap individu yang berjuang melawan kendak-kehendak negatif yang muncul dari dalam hasrat dirinya yang tidak dapat di benarkan berdasarkan syar’i.
        Momentum yang sangat istimewa dan sakral ini juga harus dimaknai dengan menjadikannya bukan hanya sekedar angin lalu saja dimana tidak memiliki dampak yang berarti bagi pribadi setelah berlalunya, sebaliknya sudah sepatutnya kita menjadikan hari kemenangan ini sebagai titik awal untuk merangkai resolusi dalam mengisi lembaran baru yang akan kita tulis agar lebih baik dari sebelumnya. Dengan membuat resolusi di hari yang fitri tentunya akan mendorong kita semua untuk tetap menjaga kefitrian diri dan mencapai kemenangan-kemenangan lain setelah berlalunya. Menjadikan semangat hari raya idul fitri sinkron dengan semangat memperbaiki diri akan menjadikan hari raya itu sendiri lebih bermaslahat bagi diri individu.
          Namun resolusi yang dibuat tentunya dengan penggalian intropeksi diri terlebih dahulu sehingga resolusi menjadi terfokus dan efektif. Kesalahan serta kekhilafan yang terlanjur telah ada serta telah terjadi harus menjadi motivasi untuk kemudian menghilangkannya meskipun dengan melihat secara realistis kita hanya dapat menguranginya semata. Hari raya idul fitri hakikatnya bukan hanya sekedar tentang berakhirnya berhaus-haus kering dan berlapar-lapar lemah melainkan sebuah puncak pencapaian dalam ibadaah penyucian, baik penyucian lahir maupun batin yaitu puasa dengan menekan lebih keras hawa nafsu lebih dari biasanya. Dan intropeksi, adalah langkah yang tepat sebelum merangkai resolusi untuk kemudian ditindak lanjuti.
           Perancangan resolusi untuk menyongsong hari esok yang lebih baik, justru akan menjadi sangat tepat dirancang saat dimomen hari raya, dimana ketika hari ini tiba dikatakan bahwa kita kembali suci. Dengan pertimbangan kondisi spiritual sudah selayaknya menjadikan hari raya idul fitri sebagai awal dalam membuat langkah selanjutnya dalam hidup dengan membuat resolusi, bahkan jauh lebih baik Jika dibandingkan  dengan memilih moment di tahun baru masehi meskipun pada kenyataannya, menjadikan hari raya sebagai titik awal dengan membuat resolusi sangat jarang dilaukan oleh oraang-oraang namun marilah kita memulainya sejak saat ini karena Pembuatan resolusi di moment yang bernuansa keagamaan ini tentunya jauh lebih dekat dengan nilai religi dan lebih menekankan pada etika serta moralitas.
          Hari kemenangan harus memiliki makna yang berpengaruh terhadap prilaku pada setiap individu, sejalan dengan kesucian di dalamnya adalah dengan merefleksikan estetika prilaku dalam kehiduan sehari-hari. Resolusi yang dibuat tentunya merupakan bentuk koreksi-koreksi terhadap rencana pencapaian yang tidak bersesuaian dengan kenyataan serta sebagai bentuk optimisme dalam mengisi lembaran yang bersih nan suci, dan berharap dengan melakukan hal yang demikian akan menjadi jalan agar pencapaian setelah ini menjadi lebih baik. Meresapi makna kefitrian hari raya ini harus meninggalkan bekas yang menstimulus untuk semakin mendorong setiap individu agar selalu memiliki peran yang bermanfaat bagi lingkungan sosialnya.



Artikel ini telah dimuat pada harian Rakyat Cirebon edisi Selasa, 4 Juli 2017












Post a Comment

Previous Post Next Post