Dalam semua hal, dibutuhkan percontohan dan kemudian menjadikannya sebagai pedoman
atau panutan agar memudahkan kita menuju ke arah yang diharapkan. Panutan atau
teladan ini dapat meliputi dalam aspek-aspek kehidupan seperti dari aspek
keilmuan, aspek moralitas maupun aspek-aspek yang lainnya. Dengan meneladani
aspek keilmuan seorang tokoh diharapkan dapat menciptakan kemajuan dalam bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang dapat memberikan sumbangsih yang
bermanfaat bagi kehidupan dalam masyarakat luas, sedangkan meneladani seorang
tokoh dari sisi moralitasnya diharapkan dapat membawa perdamaian dan
ketentraman bagi lingkungan masyarakat dalam hal pergaulan dan interaksi di
dalamnya.
Para tokoh atau figure dari berbagai
kalangan serta latar belakang seperti
para selebriti, para elit politik, para tenaga pengajar dan bahkan para pemuka
agama, dewasa ini tak sedikit dari kalangan yang demikian, dengan
tindakan-tindakan serta tingkah laku mereka menjadikannya sangat tidak patut
untuk dijadikan contoh teladan atau panutan namun kendati seperti itu
keadaannya mereka tetaplah individu-individu yang berada pada posisi yang
sangat mudah menarik perhatian masyarakat luas dalam tatanan kehidupan sosial
yang dapat dengan mudah memepengaruhi individu-individu yang berada pada pase
imitasi (anak-anak).Apa yang tampak dihadapan publik secara luas tak jarang
menimbulkan stigma, sebegitu bobrok-kah keadaan moral orang-orang yang
seharusnya menjadi panutan bagi masyarakat luas.
Keadaan Indonesia beberapa waktu lalu
yang diwarnai kriminalitas berupa aksi-aksi pembunuhan dan bentuk kriminal
lainnya adalah salah satu akibat dari kurangnya tokoh-tokoh yang dapat
memberikan teladan ideal dalam dunia nyata, sbagaiamana yang dijelaskan oleh Erlangga Masdiana ,Kriminolog Universitas Indonesia
(UI) dilansir dari Okezone,ia mengatakan bahwa maraknya pembunuhan sadis yang
terjadi belakangan ini, disebabkan kurangnya tokoh ideal yang memberikan contoh
teladan di dalam masyarakat.
"Sosial kita
mengalami fragmentasi, terpecah-pecah sistem nilai agama dan prilaku. Harusnya
ada tokoh ideal yang bisa menjadi contoh. Tapi kita kini kekeringan model
tersebut. Krisis model," kata Erlangga, Kamis (23/10/2014).
Para generasi bangsa ini selain
diserang oleh pengaruh buruk dari tokoh-tokoh yang bersikap amoral dari
kalangan selebriti dengan keglamoran
dunianya yang sangat dekat dengan obat-obatan terlarang dan tokoh yang
lainnya, kita dihadapkan Pada realitas bahwa para pemimpin negeri ini yang
seharusnya hadir sebagai tokoh yang menjadi teladan sangat jarang ditemukan,
sebaliknya tak jarang mereka memperlihatkan tindakan-tindakan yang sangat
bertentangan dengan salah satu tugasnya yang duduk di kursi kepemimpinan yaitu
sebagi teladan. Tindakan-tindakan yang tidak pantas yang dilakukan para pejabat
di negeri ini di antaraanya adalah aksi mesum yang dilakuka oleh oknum bupati
dan tentunya tindaakan-tindakan korupsi para pejabat yang tidak dapat dihitung
jumlahnya.
Terkait dengan hal ini, Djarot
Saeful Hidayat yang saat itu masih menjadi wakil Gubernur DKI Jakarta seperti
yang dikutip dari Metrotvnews.com,menilai bahwa sekarang pemimpin yang
dapat memberikan teladan serta mengisnspirasi sangat sedikit jumlahnya.
"Sekarang ini, kalau kita mau jujur, kita
telah mengalami suatu defisit, defisit keteladan pada pemimpin. Sudah minus
ya," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat usai acara
Renungan Bersama dalam rangka haul Bung Hatta ke-114 sekaligus peringatan 71
tahun Kemerdekaan Indonesia di TPU Tanah Kusir, Jalan Bintaro Raya, Jakarta
Selatan, Jumat (12/8/2016).
Dia menilai pemimpin-pemimpin yang bervisi serta misi seperti Bung Karno dan Bung Hatta jumlahnya dapat dihitung dengan jari.
Dia menilai pemimpin-pemimpin yang bervisi serta misi seperti Bung Karno dan Bung Hatta jumlahnya dapat dihitung dengan jari.
Keadaan ini perlu mendapatkan perhatian serius dari kita semua karena
tidak menutup kemungkinan ketidak tersediaannya sosok-sosok yang memberi contoh
yang baik dapat mengancam pembangunan negara oleh generasi-generas penerus yang
sudah terlanjur rusak moralnya,terlebih lagi kemanjuan teknologi yang ada
memberi andil yang sangat berarti serta menjadi tantangan tersendiri dalam
membentuk moralitas di era modern .Jika kita melihat fakta yang terpampang
di depan mata, sejatinya kerusakan-kerusakan di tanah nusantara yang tak
terhitung jumlahnya adalah buah tangan dari mereka yang memiliki kecerdasan
serta keilmuan yang mumpuni namun kosong dari sisi moralitas, entah berapa juta
hektar kerusakan hutan yang diakibatkan oleh tangan-tangan yang tidak
bertanggung jawab .
Menghadapi krisis ini di tahun 2011, seperti yang dilansir daari
berbagai sumber, dengan tangggap sejumlah tokoh lintas agama berkumpul di
kantor Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU) dan menyatakan bawa Indonesia
krisis keteladanan dan harus terus dicarikan jalaan keluarnya.
"Maraknya
korupsi itu bukan penyebab, tapi akibat dari rendahnya keteladanan dari
pemimpin. Itu juga akibat dari masih belum sempurnanya sistem politik yang
mengakibatkan mereka (pemimpin) tidak memberikan teladannya," ujar Ketua
Umum PBNU KH Said Aqil.
Para tokoh lintas agama dalam hal ini
berkomitemen untuk terus mengawal jalannya pemerintahan dan akan memberikan masukan-masukan
serta kritikan yang membangung jika itu memang diperlukan.

Post a Comment