INDONESIA MINIM SOSOK TELADAN




        Dalam semua hal, dibutuhkan percontohan  dan kemudian menjadikannya sebagai pedoman atau panutan agar memudahkan kita menuju ke arah yang diharapkan. Panutan atau teladan ini dapat meliputi dalam aspek-aspek kehidupan seperti dari aspek keilmuan, aspek moralitas maupun aspek-aspek yang lainnya. Dengan meneladani aspek keilmuan seorang tokoh diharapkan dapat menciptakan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang dapat memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi kehidupan dalam masyarakat luas, sedangkan meneladani seorang tokoh dari sisi moralitasnya diharapkan dapat membawa perdamaian dan ketentraman bagi lingkungan masyarakat dalam hal pergaulan dan interaksi di dalamnya.
       
  Dan dalam kaitannya dengan teladan dari aspek moralitas, berdasarkan fakta sejarah yang ada dalam perjalanan zaman seolah menjadikan keilmuan dan moralitas serupa dua ujung mata panah yang menghadap pada arah yang saling berlawanan. Semakin berkembangnya zaman, teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang dengan kecepatan yang luar biasa mengagumkan dan ini menjadi bukti bahwa dari aspek keilmuan banyak tokoh yang dapat kita ambil sebagai panutan atau teladan namun tidak demikan keadaannya jika melihat dari aspek moralitas. Moralitas umat manusia mengalami reduksi seiring perubahan zaman dari waktu ke waktu, sehingga kemodernan zaman melahirkan individu-individu yang cakap dalam hal keilmuan namun  rapuh dari segi moralitas dan ini dapat berakibat buruk bagi kehidupan luas.
       Para tokoh atau figure dari berbagai kalangan serta  latar belakang seperti para selebriti, para elit politik, para tenaga pengajar dan bahkan para pemuka agama, dewasa ini tak sedikit dari kalangan yang demikian, dengan tindakan-tindakan serta tingkah laku mereka menjadikannya sangat tidak patut untuk dijadikan contoh teladan atau panutan namun kendati seperti itu keadaannya mereka tetaplah individu-individu yang berada pada posisi yang sangat mudah menarik perhatian masyarakat luas dalam tatanan kehidupan sosial yang dapat dengan mudah memepengaruhi individu-individu yang berada pada pase imitasi (anak-anak).Apa yang tampak dihadapan publik secara luas tak jarang menimbulkan stigma, sebegitu bobrok-kah keadaan moral orang-orang yang seharusnya menjadi panutan bagi masyarakat luas.
         Keadaan Indonesia beberapa waktu lalu yang diwarnai kriminalitas berupa aksi-aksi pembunuhan dan bentuk kriminal lainnya adalah salah satu akibat dari kurangnya tokoh-tokoh yang dapat memberikan teladan ideal dalam dunia nyata, sbagaiamana yang dijelaskan oleh Erlangga Masdiana ,Kriminolog Universitas Indonesia (UI)  dilansir dari Okezone,ia mengatakan bahwa maraknya pembunuhan sadis yang terjadi belakangan ini, disebabkan kurangnya tokoh ideal yang memberikan contoh teladan di dalam masyarakat.
"Sosial kita mengalami fragmentasi, terpecah-pecah sistem nilai agama dan prilaku. Harusnya ada tokoh ideal yang bisa menjadi contoh. Tapi kita kini kekeringan model tersebut. Krisis model," kata Erlangga, Kamis (23/10/2014).
            Para generasi bangsa ini selain diserang oleh pengaruh buruk dari tokoh-tokoh yang bersikap amoral dari kalangan selebriti dengan keglamoran  dunianya yang sangat dekat dengan obat-obatan terlarang dan tokoh yang lainnya, kita dihadapkan Pada realitas bahwa para pemimpin negeri ini yang seharusnya hadir sebagai tokoh yang menjadi teladan sangat jarang ditemukan, sebaliknya tak jarang mereka memperlihatkan tindakan-tindakan yang sangat bertentangan dengan salah satu tugasnya yang duduk di kursi kepemimpinan yaitu sebagi teladan. Tindakan-tindakan yang tidak pantas yang dilakukan para pejabat di negeri ini di antaraanya adalah aksi mesum yang dilakuka oleh oknum bupati dan tentunya tindaakan-tindakan korupsi para pejabat yang tidak dapat dihitung jumlahnya.
            Terkait dengan hal ini, Djarot Saeful Hidayat yang saat itu masih menjadi wakil Gubernur DKI Jakarta seperti yang dikutip dari Metrotvnews.com,menilai bahwa sekarang pemimpin yang dapat memberikan teladan serta mengisnspirasi sangat sedikit jumlahnya.
"Sekarang ini, kalau kita mau jujur, kita telah mengalami suatu defisit, defisit keteladan pada pemimpin. Sudah minus ya," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat usai acara Renungan Bersama dalam rangka haul Bung Hatta ke-114 sekaligus peringatan 71 tahun Kemerdekaan Indonesia di TPU Tanah Kusir, Jalan Bintaro Raya, Jakarta Selatan, Jumat (12/8/2016).
Dia menilai pemimpin-pemimpin yang bervisi serta misi seperti Bung Karno dan Bung Hatta jumlahnya dapat dihitung dengan jari.
          Keadaan ini perlu mendapatkan perhatian serius dari kita semua karena tidak menutup kemungkinan ketidak tersediaannya sosok-sosok yang memberi contoh yang baik dapat mengancam pembangunan negara oleh generasi-generas penerus yang sudah terlanjur rusak moralnya,terlebih lagi kemanjuan teknologi yang ada memberi andil yang sangat berarti serta menjadi tantangan tersendiri dalam membentuk moralitas di era modern .Jika kita melihat fakta yang terpampang di depan mata, sejatinya kerusakan-kerusakan di tanah nusantara yang tak terhitung jumlahnya adalah buah tangan dari mereka yang memiliki kecerdasan serta keilmuan yang mumpuni namun kosong dari sisi moralitas, entah berapa juta hektar kerusakan hutan yang diakibatkan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab .
           Menghadapi krisis ini di tahun 2011, seperti yang dilansir daari berbagai sumber, dengan tangggap sejumlah tokoh lintas agama berkumpul di kantor Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU) dan menyatakan bawa Indonesia krisis keteladanan dan harus terus dicarikan jalaan keluarnya.
"Maraknya korupsi itu bukan penyebab, tapi akibat dari rendahnya keteladanan dari pemimpin. Itu juga akibat dari masih belum sempurnanya sistem politik yang mengakibatkan mereka (pemimpin) tidak memberikan teladannya," ujar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil.
Para tokoh lintas agama dalam hal ini berkomitemen untuk terus mengawal jalannya pemerintahan dan akan memberikan masukan-masukan serta kritikan yang membangung jika itu memang diperlukan.
          
 
       



Post a Comment

Previous Post Next Post