EKSISTENSI PERMAINAN TRADSIONAL DI ERA MODERN
Sebagai salah satu hak dasar
seorang anak, bermain merupakan bagian tak terpisahkan bagi dunia mereka yang
memiliki peranan dalam setiap pase tumbuh kembangnya dan kondisi berupa
kelainan dalam prilaku anak dapat timbul akibat tidak terpenuhinya seorang anak
akan kebutuhan alaminya untuk bermain. Bermain yang sejatinya merupakan bentuk
interaksi antara seorang anak dengan lingkungannya dan dengan anak lain atau
bahkan dengan objek lain yang identik dengan kegiatan motorik memiliki manfaat
yang tidak hanya terbatas pada kacamata kesehatan semata, namun juga manfaat
yang dibutuhkan dari segi kejiwaan serta sangat baik sebagai stimulus bagi anak
yang belia untuk menumbuhkan rasa sosial di masyarakat.
Seiring berjalannya waktu kita semua
semakin disadarkan bahwa kita tak dapat menutup mata serta telinga bahwa zaman
melaju dalam perkembangan yang
mengagumkan baik dalam ruang lingkup waktu maupun objek-objeknya dan keadaan
ini merefleksikan sebuah bentuk keniscayaan dimana eksistensi-eksistensi yang
baru akan mereduksi eksistensi-eksistensi yang sebelumnya, perubahan-perubahan
yang silih berganti dalam kecepatan yang sulit diprediksi sebelumnya meliputi
banyak hal tak terkecuali dalam bentuk jenis-jenis permainan anak. Eksistensi
permainan tradisional di tengah-tengah arus digitalisasi berlahan mulai dilupakan
dan digantikan dengan berbagai macam permainan yang serba digital yang dikemas
dalam bentuk gadget.Pada kenyataannya permainan tradisional kini sangat jarang
dimainkan bahkan oleh anak-anak di desa apalagi di kota-kota.
Dibandingkan dengan bentuk permainan
modern dengan segala kecanggihan yang ditawarkannya seperti permainan game di
PS (playstaton), nintendo dan lain sebagainya yang cendrung lebih memposisikaan
anak minim bergerak, berbeda keadaannya dengan saat anak bermain permainan
tradisional yang justru membuat anak lebih aktif bergerak seperti pada
permainaan enggrang,petak umpet gobak sodor dan lain sebagainya sehingga
kemampuan motorik anak dapat berkembang dengan baik. Dengan permainan
tradisional yang mengandung aktivitas motorik akan menjadikan anak lebih sehat
karena aktif bergerak dan sebaliknya anak yang lebih aktif bermain dengan
gadget akan lebih beresiko terserang penyakit karena tubuhnya yang jarang
digerakkan.
Dampak negatif terlalu sering
menggunakan permainan dalam gadget (game) bagi kesehatan yang diakibatkan
kurangnya tubuh dalam bergerak khususunya bagi anak-anak seperti yang dilansir
dari berbagai sumber meliputi gangguan tidur, obesitas, gangguan kesehatan
mata,text neck atau sakit leher dan yang lainnya. Terkait dengan hal ini dari
sudut pandang psikolog sebagaimana dilansir dari kompasiana (2014), Tika Wibisono
selakupsikolog sekaligus dosen di perguruan tinggi di Jakarta mengungkapkan bahwa gadget merupakan bentuk
dari kemajuan zaman yang tidak bisa dihindari. Lebih lanjut perempuan kelahiran
1 Oktober 1960 ini mengungkapkan dampak langsung radisai dari smartphone dapat
memapar otak dan mata.
"Tapi
yang membuat nggak sehat itu, si anak jadi nggak keluar-keluar. Jadi, kena AC
terus, tidak terkena matahari, kena oksigen di luar, nggak ada keringatan. Jadi, itu yang bikin nggak sehat," kata Tika.
adalah sebuah masalah ketika dalam pase-pase
awal perkembangan seorang anak, sosialisasi tidak dalam porsi yang cukup. Hasil
penelitian seperti yang dilansir kompas.com (2015) menunjukan jika damfak buruk
bagi seseorang yang kurang bersosialisasi tidak hanya menyerang secara mental
namun juga secara fisik dimana orang yang kurang bersosialisasi akan lebih
rentan terserang penyakit. Sebagaimana hasil penelitian dari university of
Chicago melalui 141 partisipan yang sebelumnya telah diteliti oleh peneliti lain.
Dari penelitian tersebut didapat kesimpulan bahwa tingkat kesepian yang
tinggi akan diikuti oleh nonepinefrin
yang tinggi pula dimana kondisi ini menyebabkan sistem imun menurun terhadap
infeksi, flu dan yang lainnya
Selain dari sisi kesehatan permainan
tradisional juga memiliki manfaat dari segi sosial dimana ketika seorang anak
bermain permainan ini maka ia akan berinteraksi secara langsung dengan sesamnya
sehingga mencegah karakter anak untuk menjadi pribadi individualis dan apatis
yang cendrung tidak perduli dengan lingkungan di sekitarnya. Anak yang terbiasa
bermain dengan permainan tradisional akan lebih peka jika dibandingkan dengan
anak yang lebih akrab dengan gadget yang lebih cendrung soliter dan tidak
nyaman saat bersosialisasi.
Untuk menyikapi masalah ini perlu adanya
perhatian, khususnya dari keluarga sebagai pihak yang terdekat dengan anak
sebelum sekolah dan pemerintah, sehingga upaya untuk meningkatkan kecintaan
anak-anak akan permainan tradisional sebagai warisan budaya nenek moyang lebih
efektif dan dini.Keluarga, baik ayah,ibu atau kakak dan anggota keluarga yang
lainnya dapat mengenalkan permainan-permainan tradisional dengan cara
mempraktikkannya secara langsung di hadapan anak sehingga anak dapat terhindar
dari dampak negatif permainan modern dalam kemasan gadget yang sejatinya
merupakan produk luar yang dapat mengaburkan generasi-generasi akan identitas yang
terefleksi dari permainan tradisional setelah mengalami pencucian otak oleh
teknologi.
Permainan tradisional yang merupakan
hasil dari kebudayaan asli dari daaerah-daerah di seluruh Indonesia adalah
bagian dari indentitas daerah asalnya
sendiri dengan kata lain dapat pula dikatakan bahwa permainan tradisional
adalah bentuk dari kepribadian asli yang tumbuh dan berkembang di tanah
nusantara dan menjadi warisan budaya yang keberadaannya menunjukan bahwa kita
adalah Indonesia. Permainan tradisional dengan segala manfaatnya menjadikanya
sebagai sesuatu yang harus tetap dipertahankan meskipun telah hadir banyak
jenis permainan yang lebih kekinian.Perkembangan zaman yang membawa segala hal
yang baru tidak serta merta membuat segala yang lama harus dihapus dan dalam
kasus ini adalah dalam bentuk berupa permainan tradisional.


Post a Comment