RAMADHAN OH RAMADHAN

               

                 Bukan sesuatu yang baru jika saat bulan ramadhan datang masyarakat khususnya masyarakat muslim di Indonesia menyambutnya suka cita dengan berbagai cara.Tradisi penyambutan bulan penuh berkah ini berbeda-beda pada setiap daerah di Indonesia namun
tetap dalam satu bingkai yang sama sebagai wujud apresiasi dan rasa syukur karena dapat bertemu lagi dengan bulan ramadhan.Tradisi-tradisi penyambutan ini misalnya tradisi dlugdag di kawasan keratin kesepuhan cirebon,tradisi dugderan yang dilakukan di semarang jawa tengah,tradisi mandi balimau  oelh masyarakat oleh masyarakat Padang,Sumatera Barat,tradisi Meugangmdi nangro Aceh Darussalam,tradisi Nyadran yang dilakukan oleh masyarakat jawa,tradisi Megengan di Surabaya dan masih banyak lagi tradisi serupa dalam rangka menyambut datangnya bulan ramadhan di berbagai daerah.
                 Namun kedatangan bulan ramadhan selain diikuti fenomena tradisi penyambutan di berbagai daerah juga selalu dibarengi dengan tradisi yang merupakan masalah.Dari tahun ke tahun harga pangan khususunya sembako pasti mengalami kenaikan secara signifikan di seluruh daerah di Indonesia saat memasuki bulan ini selanjutnya selainnya masalah kenaikan harga pangan terdapat pula masalah yang muncul berupa aksi-aksi sweeping yang dilakukan oleh ormas-ormas agama yang bisa dikatakan semena-mena serta seolah menjadi pihak yang berwenang untuk melakukan hal itu yang dalam kenyataannya tak jarang berujung dengan aksi brutal dan yang tak lupa menjadi sorotan saat memasuki bulan ramadhan adalah perbaikan jalan yang pengerjaannya dipercepat dimana perbaikan tersebut terkesan dilakukan hanya sebagai cara untuk mengatasi arus mudik semata.
                Sebenarnya upaya preventif untuk menghadapi kemungkinan kenaikan harga pangan sudah dilakukan pemerintah jauh-jauh hari dengan memastikan stok yang ada masih aman bahkan untuk beberapa bulan ke depan namun selalu ada celah-celah yang dijadikan kesempatan bagi pihak-pihak tertentu untuk mencari keuntungan dengan menimbun bahan-bahan makanan saat kebutuhan masyarakat akan bahan-bahan makanan tersebut sedang meningkat akibatnya inflasi merebak dan membuat masyarakat mengeluhkan kondisi ini.Masalah kenaikan harga pangan menjelang ramadhan seperti jamur yang susah untuk di atasi dan hal ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin akan mempengaruhi kenaikan harga tidak hanya pada sembako namun juga pada harga-harga kebutuhan yang lainnya.Beberapa harga sembako yang mengalami kenaikan harga di beberapa daerah di antaranya yaitu ,tomat yang sebelumnya seharga Rp3 ribu/kg menjadi Rp 6 ribu/kg,bawang putih yang sebelumnya seharga Rp 30 ribu/kg menjadi Rp 35 ribu/kilo,bawang merah yang sebelumnya seharga Rp 20 ribu/kg menjadi Rp 25 ribu/kg,cabai merah dari yang sebelumnya seharga Rp 18 perkilo menjadi Rp 22 ribu/kilok,kacang buncis yang sebelumnya seharga Rp4 ribu/kg menjadi Rp8 ribu/kg atau mengalami kenaikan 100% dan wortel yang sebelumnya seharga Rp 3 ribu/kilo menjadi Rp 6 ribu/kilo.
Terkait hal ini pemerintah melalui menteri perdagangan berjanji akan menyelesaikan masalah ini.
“Kenaikan harga ini tidak dinikmati oleh petani dan peternak tapi dinikmati para spekulan dan oknum yang mengambil keuntugan sesaat dan merugikan semuany.Tentu kita tidak akan biarkan iti”tegas Enggartiarto,MenDag dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh Sekda jabar Iwa karniwa,Kapolda jabar Irjen Anton Charliyan,Kepala Perwakilan Bank Indonesia,dan perwakilan unsur terkiat.
                Memang benar bulan ramadhan adalah hajat milik semua muslim di seluruh dunia termasuk di tanah air terlebih Indonesia adalah tempat tinggal muslim terbanyak di dunia.Dengan menyadari kenyataan itu sudah barang tentu Indonesia menjadi perhatian bagi negara-negara muslim yang lain  terkait dengan toleransi umat beragama.Indonesia dianggap sebagai negara yang memiliki toleransi yang tinggi disamping kenyataan kemajmukan agama yang ada didalamnya dan menjadi contoh bagi negara-negara lain khususnya negara islam.Akan tetapi ada kelompok-kelompok ormas tertentu yang bercorak keagamaan yang saat bulan ramadhan justru melakukan aksi-aksi yang tidak bermartabat  dengan alibi menegakan ajaran-ajaran agama.Kelompok-kelompok yang penulis tidak perlu sebutkan namanya ini dari tahun ke  tahun rutin melakukan sweeping dengan menyisir ke titik-titik yang dianggap telah melanggar hukum berdasarkan dalil-dalil agama yang justru mencoreng citra agama itu sendiri bahkan dalam pelaksanaannya tak jarang harus berujung dengan baku hantam dan korban jiwa pun tak bisa dihindarkan baik yang sekedar luka-luka maupun yang sampai meregang nyawa meski jarang.Mereka merasa perlu melakukan tindakan tersebut dengan seolah menutup mata bahwa terdapat pihak-pihak penegak hukum yang lebih berwenang untuk melakukan penertiban dengan tanpa mempertimbangkan prosedur yang ada dan terkesan main hakim sendiri,bukankah masih ada cara-cara lain yang bisa ditempuh saat terdapat hal-hal yang dianggap telah melanggar ketertiban umum bukannya malah melakukan tindakan anarkis yang tidak tahu aturan jika demikian lalu apa fungsi adanya para penegak hukum.Menariknya dari fakta tersebut NU dan Muhammadiyyah sebagai dua ormas islam terbesar di tanah air justru menunjukan sikap yang kontra terhadap aksi-aksi sweeping yang mengatas  namakan nilai dan norma agama.Baik NU maupun Muhammadiyyah melarang semua anggotanya untuk turun dalam aksi-aksi semacam itu.Pemerintah melalui POLRI melarang adanya aksi sweeping saat bulan ramadhan karena dikhawatirkan dapat menimbulkan kerusuhan apalagi belakangan sentimen keagamaan masih menjadi isu yang sensitif.
“Saya sudah perintahkan untuk menindak tegas jika ada aksi sweeping atau upaya paksa yang melanggar hukum”ujar Kapolri,Tito Karnapian di kompleks parlemen,senayan,selasa,23 mei 2017.                
             Saat bulan ramadhan maka akan dekat dengan fenomena aktivitas perpindahan individu yang dilakukan secara kolektif yang disebut mudik.Dibalik fenomena mudik yang terjadi setiap tahun terdapat hal yang menarik dalam upaya pemerintah menghadapi fenomena ini berupa perbaikan jalan yang dalam pengerjaannya dikebut.Perbaikan jalan yang dilakukan di banyak daerah setiap tahun menimbulkan pertanyaan apakah perbaikan jalan tersebut diadakan semata-mata hanya sebagai target mengatasi arus mudik yang kemudian akan mengalami kerusakan kembali karena kualitasnya yang buruk serta akan diperbaiki lagi di tahun setelahnya dan begitu seterusnya.Memang arus mudik katakanlah dapat dicover dengan sarana jalan tersebut Karena perbaikan jalan yang dilakukan tidak ditargetkan untuk jangka panjang tapi hanya ditargetkan untuk menghadapi arus mudik yang akan terjadi maka tak heran tak lama setelah itu menunjukan tanda-tanda kerusakan kembali.
             Bulan ramadhan sejatinya adalah berkah dan merupakan momen untuk saling berbagi dan meskipun kedatangannya selalu diikuti oleh serangkaian problema justru itu adalah tantangan untuk kita bersama.Kenaikan harga yang terjadi menjelang bulan ramadhan adalah sesuatu yang biasa namun ketika itu melampaui batas kewajaran maka sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk menyusut akar masalahnya,selanjutnya terkait aksi sweeping, masyarakat yang tergabung dalam ormas terntu harus bisa menahan diri dan jika memang ada hal yang perlu ditindak lanjuti maka lakukanlah melalui prosedur yang ada karena ini adalah negara hukum dan yang terakhir,terkait perbaikan jalan seharusnya tidak hanya terfokus hanya pada masalah untuk menghadapi arus mudik karena jika demikian ada kemungkinan jalan akan mudah mengalami kerusakan kembali karena standar kualitas jalan hanya untuk bertahan dalam jangka waktu terjadinya arus mudik tersebut.









Post a Comment

Previous Post Next Post