Tepat pada tanggal 13 Juli yang lalu, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh berita yang menunjukan pertemuan antara dua tokoh yang bertarung di pilpres 2019, momentum yang sekaligus menggembirakan tersebut menunjukan pertemuan antara Jokowi dan Prabowo sebagai dua kandidat calon presiden yang bertarung di pemilu dan merupakan pemilu untuk meraih kursi istana negara yang pertama kali tercatat dalam sejarah karena sampai hingga meja peradilan.Setelah pemungutan suara usai kubu Prabowo menggugat ke MK hasil perhitungan resmi dari KPU, dan bersikeras tidak menerima kekalahan karena menurutnya terdapat kecurangan yang merugikan kubu 02 saat proses pelaksanaannya. Setelah proses yang sekian panjang, akhirnya pertemuan mereka dapat terealisasikan untuk menatap ke depan demi kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan bangsa Indonesia, bukan semata-mata kepentingan kelompok tertentu.
Pertemuan yang berlangsung di stasiun MRT Lebak Bulus tersebut, baik Jokowi dan Prabowo terlihat santai dan bersahaja dengan setelah pakaian yang mereka kenakan. Keduanya berbincang akrab seperti seorang teman yang saling kenal, tentu pemandangan ini sangat kontras dengan sikap mereka dalam rangkain Pilpres yang tak jarang saling sindir, terlebih di acara debat presiden. Lalu apa saja agenda yang sebenarnya mereka bahas dalam pertemuan yang berimpilikasi sangat besar terhadap kondisi sosial, politik hingga ekonomi dalam negeri.
Pertemuan dua tokoh ini merupakan halaman baru dari sekian keadaan politik tanah air yang dipenuhi oleh desas-desus dan ketidakpastian setelah pilpres usai. Pertemuan yang dilakukan sembari menjajali kereta MRT dari Stasiun Lebak Bulus dan berhenti di Stasiun MRT Senayan, lalu diakhiri dengan makan sate khas Senayan ini merupakan perwujudan dari sikap seorang negarawan yang tunjukan oleh Prabowo yang kalah dalam pertarungan yang lalu. Inti dari pertemuan tersebut adalah penyampaian ucapan selamat oleh Prabowo terhadap Jokowi sebagai pemenang yang dipilih oleh rakyat, tidak membahas tentang bagi-bagi kurai di kabinet apalagi membahas nasib imam besar FPI, Habib Rizieq, di arab sana. Sebagaimana apa yang disampaikan Prabowo dalam isi suratnya yang ditujukan untuk Amien Rais pada hari Selasa (16/07), tapi lebih membahas tentang upaya-upaya untuk mengejar ketertinggalan Indonesia. Dalam kesempatan itu juga, Prabowo tak lupa menyatakan siap membantu pemerintahan Jokowi.
Namun sebagaimana yang disampikan oleh pihak Gerindra melalui Ketua DPP Gerindra Sodik Mudjahid pernyataan pimpinan partai Gerindra tersebut jangan kemudian disalah artikan bahwa Gerindra akan merubah haluan dengan menjadi koalisi di pemerintahan, ucapan siap membantu yang disampaikan oleh Prabowo adalah membantu bangsa Indonesia sehingga tidak selalu harus bergabung dalam kabinet karena hal tersebut dapat dilakukan dengan memainkanperan di parlemen.Gerindra tetap berkomitmen untuk menjadi pihak oposisi sebagaimana yang ditegaskan oleh Prabowo dalam kesempatan itu.
Namun hal penting dari pertemuan yang perlu diapresiasi itu, membawa damfak yang sangat besar bagi kondisi tanah air saat ini, misalkan saja dari segi ekonomi, sejak pertemuan tersebut berlangsung rupiah menjadi mata uang dengan nilai paling perkasa di Asia. Selain itu, menjadi salah satu cara untuk merekatkan kembali rasa persatuan rakyat Indoesia yang sempat terurai oleh perkembangan politik yang memanas dalam pilpres. Meski terdapat anggaapan yang memandang negatif pertemuan tersebut seperti yang disampaikan oleh Rocky Gerung sebagai pengamat politik dengan menyatakan ada maksud tersembunyi dari khalayak yang tidak terlihat serupa sampah-sampah yang diselimuti karpet, pertemuan tersebut memang harus dilakukan dengan konsekuensi akan memperburuk keadaan dalam negeri terpolarisasi oleh ketidakpastian jika pertemuan tersebut tidak diadakan. Sebagai penyejuk keadaan, Prabowo telah mellakukan tindakan yang tepat sebagai seorang negarawan dan tanpa memperdulikan PA 212 sebagai kelompok pendukung yang menentang keras tindakannya tersebut dan menyikapi hal ini PA 212 digadang-gadang akan melaksanakan ijtima ulama ke IV .
Bagaimana pun juga kepentingan bangsa Indonesia harus di atas kepentingan kelompok.

Post a Comment