SEORANG NEGARAWAN DAN PERSPEKTIF POLITIK SEBAGAI MEDIA




          Apa jadinya jika sesuatu yang seharusnya menjadi jalan atau media untuk mencapai sesuatu, justru menjadi sebuah tujuan akhir. Tentu kondisi ini tak ubahnya sebuah bencana yang kemudian hari akan menimbulkan masalah besar, misalkan saja dalam masalah agama, sebagai mana yang dikatakan oleh Gus Dur dalam buku “Ilusi Negara Islam” (Editor:Gus Dur), ia kurang lebih mengemukakan ketika agama yang sejatinya adalah sebuah jalan atau media yang kemudian
dijadikan sebagai tujuan akhirnya, maka akan menimbulkan bencana karena dari kondisi ini akan menimbulkan radikalisme, di mana jalan kekerasan dihalalkan untuk mencapainya.

        Paradoks adalah wajah lain ketika sebuah jalan yang justru dijadikan sebagai sebuah tujuan akhir. Seperti halnya dalam dunia pemerintahan,ketika mereka yang merupakan elit negeri ini lebih menjadikan politik bukan sebagai media, jalan atau perantara mulia untuk membangun melainkan hanya dijadikan sebagai tujuan akhir demi kepentingan pribadinya sendiri serta segelumit kelompoknya belaka, akibatnya banyak dijumpai para pejabat yang melakukan tindakan perampokan uang rakyat atau dalam bahasa lain disebut korupsi,maupun tindakan tak pantas lainnya yang bertentangan dengan prinsip “pemimpin sebagai teladan”.

        Politik adalah media yang sangat tepat untuk digunakan sebagai jalan bagi mereka yang ingin membantu banyak orang, mengharapkan kemjauna ekonomi dan perubahan ke arah lebih baik dalam setiap sektor kehidupan. Ranah politik lebih efektif dan berskala besar dalam hal memberikan manfaat bagi orang banyak daripada seseorang harus melakukannya sendiri meskipun ia orang yan sangat kaya raya. Ada pun sisi lain dari dunia politik yang penuh dengan segala …. Adalah bagian yang memang tidak bisa dinampikan akan keberadaannya, akan tetapi hal yang demikian tidak serta merta mengkerdilkan banyak sisi positif yang dapat kita lakukan jika kita berkiprah di dalamnya dengan niat murni untuk membangun bukan atas nama kekuasaan semata.

       Banyak dari pejabat kita yang sebagian besar waktunya digunakan praktis untuk berspekulasi ke sana sini dan terlalu sibuk mencari simpati yang sebenarnya mungkin saja itu dilakukan karena semata-mata hanya untuk semakin memperkokoh kursi kekuasaannya di mata publik, namun ia lupa untuk membangun serta tidak melaksanakan baktinya sebagai abdi negara sebagaimana janji-janji pada masa kampanye-nya dulu. Ketika politik hanya dijadikan sebagai perangkat ajaib untuk menaikan status sosial individu di tengah-tengah masyarakat tanpa dibarengi oleh niat untuk membangun dalam mensejahterakan serta memajukan masyarakat, bukan kemajuan dan kebermajuan yang terbangun di masyarakat, melainkan perseteruan antar kelompok yang haus akan kekuasaan.

     Negeri ini masih teramat sangat butuh peran serta dari para generasinya yang berjiwa petarung dan bermental baja serta memiliki rasa nasionalisme yang mendarah daging untuk terjung ke dalam ranah politik dengan dasar perspektif “Politik adalah sebuah jalan untuk membangun” bukan semata-mata hanya sebagai tujuan untuk mencapai keuntungan pribadi atau kelompoknya. Mereka-mereka inilah yang merupakan para negarawan, bukan para petualangan politik praktis. Dalam hal ini, kita semua tidak bisa berpijak pada kalimat “ yang waras mengalah” karena jika demikian adanya pada akhirnya roda pemerintahan akan di jalankan serta didominasi oleh mereka (para petualangan politik praktis).
       Seorang negarawan adalah dia yang menjadikan politik sebagai media atau jalan untuk mencapai tujuan yang mulia, yakni untuk membangun masyarakat sebagai bagian dari negaranya sendiri, Pikirannya senantiasa tertuju dan tercurahkan untuk masa depan bangsanya. Jalan politiknya yang seperti inilah yang membawanya untuk menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan dirinya sendiri senada dengan apa yang pernah disampaikan oleh Mahmud MD dalam suatu kesempatan sebagaimana yang dikutip dari tribunnews.com (2015/03/05).

        Sosok pemimpin yang berjiwa seorang negarawan yang penah dimiliki Indonesia tidaklah banyak, barang kali satu diantaranya dan yang masih segar dalam ingatan masyarakat tercerminkan dari Bapak Pluralisme Indonesia sekaligus Presiden ke 4 yakni KH. Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Bukan tanpa alasan jika sosok yang merupakan Guru Bangsa ini sangat layak disebut seorang negarawan yang pernah dimiliki tanah air. Jika bukan karena kepedulian akan persatuan bangsanya yang tercinta, bangsa Indonesia, dan tidak ingin bangsa yang besar ini jatuh dalam pertikaian antar sesamanya, dengan suka rela dan dengan kebesaran hati beliau melepaskan jabatannya sebagai Presiden Indonesia meskipun tahu jika kelompok yang menghendaki kejatuhannya mengusahakan dengan cara yang inkonstitusional.

        Fakta jatuhnya Gus Dur dari posisi Presiden dengan cara yang inkonstitusional pernah ia paparkan beliau  dalam suatu acara di metro TV yaitu Kick Andy yang ditayangkan pada bulan Februari 2012 silam. Beliau dengan santai mengatakan “saya dilenggserkan secara politis,..secara ukum belum pernah dibuktikan saya bersalah,…yang bersalah bahkan pansus-pansusnya DPR yang sekarang dipimpin oleh menteri sosial Baktiar Hamzah,…itu menurut undang-undang pansus-pansus harus tutup pintu supaya tidak didengar orang dari luar tapi oleh baktiar hamzah 10 senti,..di situ berjejer-jejerlah timnya wartawan,.nah kan,..jadi semua yang ada dalam sidang diketahui oleh dunia luar”.  “Itu pula yang membuat saya…..itu maksudnya kan meengserkan dengan segala cara” lanjutnya masih dengan gaya santai dari tokoh yang terkenal dengan jargon “gitu aja kok repot”.

       Semoga akan ada generasi dari bangsa ini yang menjadi penerus Gus-Dur, yang sangat memperhatiakn nasib bangsa dan memimpin dengan cara seorang negarawan.



Post a Comment

Previous Post Next Post