Bencana alam apa pun itu bentuknya, sejatinya adalah
sesuatu yang tidak pernah diingingkan
oleh siapa pun. Karena saat alam bergejolak,
baik dalam bentuk banjir, gunung meletus dan gempa bumi, itu selalu diikuti
oleh prahara dan sengsara yang dirasakan oleh masyarakat yang daerahnya
tertimpa bencana alam tersebut. Beberapa jenis bencana alam memang berada di luar intervensi dari
tindakan manusia, namun beberapa diantaranya juga lebih disebabkan oleh
tindakan-tindakan manusia itu sendiri yang kurang arif dalam memperlakukan alam, dengan semena-mena
tanpa mempertimbngkan akibat yang akan ditimbulkan di kemudian hari, membuang
sampah sembarangan, pembalakan hutan secara liardan penebangan pohon dengan
tanpa prosedur tebang pilih, merupakan beberapa contoh prilaku manusia yang
dapat mendatangkan bencana alam.
Indonesia yang berdasarkan
astronomis terletak pada garis lintang 6’ utara-11’ selatan dan garis bujur 95’
timur-141’ barat,merupakan sebuah wilayah yang secara geografis merupakan
kepulauan yang memiliki jumlah gunung berapi yang begitu banyak sehinga dengan
alasan itu pula Indonesia disebua juga sebagai kawasan yang berada di “Ring
Of Fire”, kondisi ini secara nyata
memberikan konsekuensi sendiri bahwa Indonesia memiliki ancaman yang sangat
besar atas bencana alam letusan gunung berapi, barang kali kita masih ingat
jika salah satu letusan gunung berapi terbesar yang pernah tercatat dalam
sejarah, merupakan letusan yang berasal dari gunung berapai yang ada di wilayah
Indonesia, yakni gunung Krakatau yang karena begitu dahsyatnya letusan gunung tersebuat saat itu,
sampai-sampai mempengaruhi iklim secara global dan menyebabkan langit berwanra
hitam hitam kelabu selama berhari hari. Dengan
kondisi alam indonesai yang rawan akan bencana alam, justru hal itu diperparah
dengaan prilaku masyarakatnya yang tidak memiliki kepekaan terhadap lingkungan
hidup mereka sendiri.
Namun terdapat
kontardiksi dalam hal ini, dimana dengan mengetahui bahwa Indonesai merupan salah satu negara dengan resiko
bencana alam yang tinggi dibandingkan dengan negarayang lain dengan kondisi
alamnya yang rawan, seharusnya sudah memiliki standar managemen mitigasi
bencana yang mumpuni dan professional, akan tetapi bisa kita lihat sendiri bagaimana sistem
mitigasi tanah air berkerja dalam merespon bencana-bencana alam yang terjadi
khususnya di era pemerintahan SBY yang bertubi-tubi becana datang silih
berganti, dimuai dari tsunami aceh hingga bencana-bencana alam lainnya seperti
banjir, tanah longsor dan letusan gunung berapi. Kurangnya standar mitigasi
tentu saja memberikan berdampak yang cukup besar. Kondisi yang tidak jauh
berbeda terjadi di era kepemimpinan Jokowi sekarang ini, seolah tidak belajar
dari pengalaman masa lalu, mekanisme mitigasi yang ada terkesan ala kadarnya
dan tidak menunjukan kematangan berarti dalam kesiap siagaan menghadapi
kemungkinan terburuk dengan datangnya mala petaka bencanan alam, sehingga
kerugian baik yang dalam bentuk material
maupun non-material dapat diminimalisir sekecil mungkin.
Sebagai negara kepulauan yang sangat luas, kita
hanya memiliki satu satuan khususnya
yang siap tanggap bencana yakni SAR (Search and Rescue), itu pun dengan jumlah
personil yang bisa dibilang masih sedikit jika melihat luas wilayah Indonesia
dan banyaknya penduduk di dalamnya.
Perihal mitigasi
professional yang keberadaannya urgensi di negeri 1001 bencana ini, kita
patut mencontoh negara Jepang yang memiliki standar mekanisme mitigasi yang
sangat baik dalam menanggapi bencana alam, baik dalam bentuk preventif maupun penanggulangannya.
Di tahun 2011, ketika negeri sakura ini dihantam gempa dengan kekuatan 9 skala
ritcer Dan kondisinya diperburuk dengan bocornya salah satu tabung yang
digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir di kawasan Fukushima akibat
gempa tersebut, negera Jepang menunjukan bagaimana mekanisme mitigasi itu seharusnya
berkerja sehingga dapat meminimalisir kerugian yang ada.
Sudah saatnya Indonesia berbenah dalam menyikapi
resiko bencana alam yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang dengan
meningkatkan kecakapan dalam hal mitigasi bencana baik secara teknik maupun
managemennya, termasuk juga didalamnya adalah harus ada upaya untuk
meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait mitigasi bencana yang
kondisinya sampai saat ini dinilai sangat kurang . Upaya-upaya untuk
meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana
khususunya untuk negeri 1001 bencana ini yang dapat dilakukan melalui
sosialisasi-sosialisasi, kampanye di media elektronik dan cetak maupun melalui
pendidikan.
Sosialisasi ini harus dilakukan secara merata ke seluruh
wilayah indonesai terutama untuk kawasan yang memiliki tingkat kerawanan
bencana,seperti daerah yang berada di sekitar gunung berapi, daerah dataran
tinggi, daerah pantai dan daerah-daerah lainnya yang memiliki potensi yang
serupa. Penyuluhan ini bertujuan untuk menjelaskan betapa pentingnya pemahaman
kesiap siagaan dalam menghadapi bencana, dengan tak lupa melaksanakan simulasi
bencana di setiap daerah yang sangat rawan bencana.
Upaya meminimalisir resiko kerugian akibat bencana
alam juga dapat dilakukan melalui kampanye kepada masyarakakt luas melalui
media elektronk seperti TV, Radio serta media sosial maupun medi cetak seperti
majalah Koran serta selebaran,dengan
iklan layanan masyarakatnya.

Post a Comment