Fenomena-fenomena
berupa prilaku para pelajar yang menimbulkan rasa prihatin dalam dunia
pendidikan tanah air, seperti tawuran, kekerasan bahkan sampai dengan seks
bebas seolah sudah menjadi hal yang lumrah didengar dengan semakin derasnya
arus pemberitaan dari tahun ke tahun yang mengangkat gambaran keadaan
kerusakan secara batiniah para generasi yang notabene merupakan penerus
perjuangan cita-cita bangsa.
Keadaan zaman yang menawarkan segala kemudahannya, ternyata
membuat kita tidak dapat menutup mata bahwa hal yang demikian tak pelak harus
dibayar dengan harga yang tidak murah,yang salah satunya adalah,merosotnya
nilai moral di kalangan generasi muda. Dengan menyadari hal ini tentunya perlu
untuk menghadirkan media untuk mengimbangi sekaligus melawan segala pengaruh
yang bersifat merusak tersebut.
Sebagai media atau wadah yang memiliki
peran dalam memaksimalkan potensi-potensi generasi muda usia pelajar dan
mahasiswa, IPNU-IPPNU selain menempa para anggota yang bergabung di dalamnya
agar berkemampuan untuk menjadi pemimpin di masa depan , juga memiliki peran
yang tidak kalah pentingya yakni sebagai benteng bagi generasi bangsa khususnya
dari kalangan nadliyin di tengah-tengah fenomena degradasi moral di kalangan
remaja yang terjadi secara masif serta merata, dengan kegiatan-kegiatan yang
positif. Menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks memasuki era milenia,
badan otonom dari NU ini tetap konsisten dalam upaya menjadi wadah yang
menampung aspirasi dari kalangan pelajar nadliyin.
Eksistensi dan kiprah IPNU-IPPNU sebagai organisiasi pelajar telah terbukti dan
dapat dilihat setelah IPNU ditahun 2012 dinyatakan oleh Andi mallarangeng
selaku menteri olahraga dan pemuda pada saat itu, sebagai salah satu organisasi
pelajar terbaik, “Ini menjadi bukti bahwa IPNU mampu menjadi inisiator gerakan
kepelajaran dan kepemudaan yang progresif di Indonesia. Dan ini menjadikan IPNU
sebagai salah satu organisasi pelajar terbaik di Indonesia pada saat ini.“ kata
Andi dalam rangkaian Kongres IPNU XVII dan Kongres IPPNU XVI yang
mengangkat tema “Pendidikan Untuk Semua Menuju Kemandirian Bangsa.” , yang juga
dihadiri oleh ketua umum PBNU KH.Said Aqil Siradj dan Ketua Umum IPNU
Ahmad Syauqi, pikiran-rakyat.com.
Selain
itu, organisasi ini dianggap sangat strategis dalam upaya meredam paham
radikalisme yang belakangan kembali merebak di tengah-tengah negara yang jelas
berideologi pancasila. Pemuda dan remaja yang berada dalam usia yang masih
rawan dan mudah terpengaruh oleh paham-paham radikal perlu adanya wadah yang
bisa mengarahkan ke hal-hal positif, belum lagi masalah-masalah dalam pergaulan
remaja lainnya seperti penyebaran narkoba dan obat-obatan terlarang. Jika pun
IPNU-IPPNU di berbagai daerah di seluruh Indonesia semuanya belum bisa
memberikan manfaat secara nyata bagi lingkungan sekitarnya, setidaknya
keberadaannya menjadi pereduksi hal-hal negatif khususnya di kalangan pelajar.
IPNU-IPPNU sebagaimana GP
Ansor, Muslimat dan Fatayat serta badan otonom yang lainnya merupakan anak
cabang dari keorganisasian Nahdatul Ulama (NU) yang menjadi wadah
bagi warga naldiyin yang berdasarkan kriteria usia dan status atau kelompok
masyarakat . Dalam sejarahnya sebagai organisai kepelajaran, sejak didirikan
pada tanggal 24 Februari tahun 1954, IPNU-IPPNU telah memberikan warna selama
63 tahun ini bagi keberlangsungan hidup para pelajar Islam di tanah air khususnya
di kalangan warga Nadliyin. Latar belakang berdirinya badan otonom untuk
kalangan pelajar putra maupun putri ini, yang dibarengi dengan ketegangan
keadaan bangsa Indonesia saat itu yang masih dalam nuansa perjuangan
mempertahankan kedaulatan, menjadi IPNU-IPPNU bagian dari perjalanan
sejarah bangsa.
Meski tidak dipungkiri masih
ditemukan banyak hal yang harus dievaluasi, salah satunya adalah dalam
segi ruang lingkup kegiatan di dalamnya. Banyak IPNU-IPPNU
khususnya di tingkat ranting yang dalam pelaksanaan program kegiatannya masih
bersifat “tradisoinal”, dan masih sangat kurang dalam penerapan kegiatan yang
menekankan pada aspek yang memiliki manfaat secara langsung bagi sosial
masyarakatnya dan tidak melulu bernuansa keagamaan. Sebagai bagian dari
respon terhadap perkembangan yang ada di abad milenia ini, IPNU-IPPNU
setingkat ranting pun harus melakukan langkah kuantum untuk tetap menjadi wadah
yang membentengi para anggotanya yang notabene masih dalam usia muda, dari
pengaruh negatif seperti pergaulan bebas dan radikalisme.
Generasi muda sebagai investasi dan
aset bangsa harus benar-benar diperhatikan karena tidak ada yang memungkiri
jika arah serta sepak terjang bangsa ini di masa depan berada di pundak mereka.
Sehingga menjadi penting bagi kita semua yang peduli terhadap nasib bangsa yang
pada saatnya akan diemban oleh mereka. Untuk tetap menjaga harapan bangsa ini
dari segala sesuatu yang merusak khususnya dari sisi batiniahnya, sudah
sepatutnya menjadi kewajiban bersama untuk memberdayakan wadah seperti
IPNU-IPPNU yang tidak cukup jika hanya sampai pada sikap apresiasi
serta ucapan mendukung belaka, melainkan harus bisa memberikan kontribusi
secara kongkret misalnya bantuan pemikiran.
IPNU-IPPNU ranting sebagai unit
terkecil dari keorganisasian NU harus mulai memunculkan semangat
“mempertahankan tradisi lama, dan menyerap tradisi baru yang lebih baik”
sehingga dengan terilhami hal demikian, penerapan kegiatannya tak luput dari
unsur relevansi dengan perkembangan zaman. Dan, yang kemudian perlu disinggung
berkaitan dengan IPNU-IPPNU sebagai wadah yang berlatar belakang pelajar, harus
bisa mencerminkan ke-terpelajar-annya tersebut dengan kegiatan-kegiatan
keilmuan yang sekali lagi bukan melulu tentang agama,karena apa yang kurang
dari umat Islam pada umumnya adalah tertinggal dalam keilmuan non-agama, yang
justru menyebabkan tertinggalnya peradaban Islam yang begitu jauh setelah masa
kejayaanya berabad-abad yang lalu. Saya juga menulis tentang bagaimana cara mendapatkan dana secara efektif bagi organisasi seperti IPNU_IPPNU dan semacamnya untuk mengadaan acara, silakan baca DI SINI>>

Post a Comment