PERAN AGAMA DI ERA MODERN



Perubahan zaman yang terjadi berimplikasi secara langsung terhadap para manusianya , dan kondisi ini dapat mudah kita lihat betapa tingkat depresi atau tekanan batin lainnya dalam beberapa dekade belakangan  melonjak, khususnya di kehidupan perkotaan terlebih lagi di negara-negara yang sudah maju, seiring dengan perubahan zaman yang sangat  cepat ini. Telah sering kita mendengar media pemberitaan yang memberitakan terkait kegagalan seorang calon pejabat baik legislatif maupun eksekutif yang berakhir dengan depresi atau mengalami ganggguan jiwa karena ketidak siapan jiwanya menerima guncangan berupa kegagalan menjadi seorang pejabat yang terhormat dengan segala persiapan yang telah dipersiapakan terutama modal materi.


Dengan demikian, sudah menjadi rahasia umum jika di balik kemajuan zaman yang luar biasa ini, di mana hal itu ditopang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, terdapat manusia-manusianya yang berjiwa renta. Memang diakui bahwa era yang ada ini, telah menstimulus dan telah melahirkan manusia-manusia dengan otak yang jenius, manusia-manusia intelek dengan kecermelangan daya nalarnya untuk menyongsong masa depan, namun keadaannya berbanding terbalik dengan ketahanan serta tingkat kesehatan jiwanya sehingga ketika dihadapkan dengan problema-problema baru yang timbul di era modern ini yang  yang   jauh lebih  kompleks dari sebelumnya, tak jarng berakhir dengan depresi atau gangguan jiwa bahkan sampai pada tindakan bunuh diri.

Mirisnya, dalam waktu yang berjalan secara simetris, di sisi lain dengan ketimpangan antara kecermelangan otak dan ketahanan serta kesehatan jiwa yang ada pada diri kebanyakan manusia era ini, berkembang serta bermunculannya manusia-manusia yang beranggapan jika agama bukan lagi bagian penting bagi kehidupan seseorang zaman sekarang. Mereka mulai meningggalkan hal-hal yang bernuansa spiritual dan tidak percaya akan keberadaan tuhan yang memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Kelompok yang kemudian lebih dikenal dengan istilah ateis ini, jumlahnya secara berlahan mengalami peningkatan seiring dengan berjalannya waktu. Sebuah ironi yang mengherankan, dimana melonjaknya jumlah manusia yang berjiwa renta justru dibarengi oleh peningkatan jumlah ateis.

 Seperti dikutip dari Kompas.com, menyebutkan bahwa berdasarkan survey yang dilakukan oleh Gallup International dan WI Network of Market Research , lebih dari setengah masyarakat Eropa dan Ocean merasatidak beragama, Akan tetapi, agama bagaimana pun juga memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan individu, agama yang menuntut agar para pemeluknya bertingkah laku serta bersikap berdasarkan peraturan-peraturan yang ada di dalalmnya, tentu memiliki tujuan demi kebaikan bagi para pemeluknya. Agama apa pun itu, selain berisi kaidah berupa norma dan  nilai yang berfungsi sebagai petunjuk dalam kaitannya dengan  moralitas yang pantas, juga dapat berfungsi sebagai media yang sangat tepat  untuk menjaga ketahanan serta kesehatan jiwa.

Lalu bagiamana mungkin jika kemudian agama dianggap tidak relevan lagi bagi kehidupan manusia zaman sekarang, zaman yang justru banyak dari manusianya yang mudah didera oleh berbagai problema yang timbul akibat kurang sehat jiwanya. Seharusnya dengan menyadari akan tingginya tingkat resiko seseorang zaman sekarang yang renta mengalami gangguan jiwa, mengarahkannya untuk tidak hanya sekedar mengenal lebih jauh agama yang dianutnya saja, namun juga melaksanakan secara nyata isi dari ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika fenomena yang timbul akibat kelemahan jiwa seperti depresi dan aksi buruh diri mulai marak terjadi seiring dengan kuatnya daya tekanan dari arus zaman yang ada.

Manusia membutuhkan nutrisi jiwa dan itu ada dalam agama, Berdasar Data IRJ (Instalasi Rawat Jalan) Jiwa RSUD dr Soetomo jumlah penderitaan ganggan jiwa mengalami peningkatan dengan rata-rata jumlah pasien berkisar 400–450 orang dalam satu bulan saja.Kita semua perlu kembali memperhatikan salah satu kebutuhan kita sebagai manusia seutuhnya, yakni kebutuhan atas tuntutan ruhani, sehingga menghadapi zaman yang penuh tekanan ini tidak berakhir dengan depresi, atau melarikan diri dengan mencari ketenangan semu yang bersifat sementara dengan menggunakan narkoba atau obat-obatan terlarang, apalagi memilih bunuh diri sebagai jalan keluarnya seperti yang sudah banyak terjadi di  kalangnan selebritis dunia yang notabene kalangan elit contohnya adalah Michael Jackson yang dikenal sebagai king of pop atau rajanya musik pop.

             Sebagai manusia-manusia yang hidup di tanah nusantara ini, negara dengan dasar pancasilanya, tentunya kita paham akan sila pertama dalam pancasila yang menyebutkan “ketuhanan yang maha esa” dengan demikian maka sudah barang tentu segala sapek kehidupan kita setiap harinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak lepas dari peran agama. Dengan melihat sila pertama dari pancasila tersebut, yang merupakan sila yang menjiwai seluruh sila setelahnya, maka sudah jelas jika Indonesia adalah negara yang “beragama” dan bukan sekuler . Yang menuntut para penduduknya untuk bersikap konsekuen terhadap agama yang dianut baik muslim, nasrani,budha,hindu maupun konghucu sehingga tercipta tatanan kehidupan yang harmonis dan aman.

Menjadi sebuah kekeliruan jika menganggap agama sebagai sesuatu yang tidak relevan lagi bagi kehidupan seorang individu. Karena bagaimana pun juga agama akan selalu memiliki peranan yang sangat penting dalam peradaban umat manusia, dan itu telah terbukti dalam catatan- catatan sejarah di masa lampau. Dan ia akan selalu memiliki peranan yang penting, baik untuk zaman sekarang maupun di zaman yang akan datang.  Agama akan selalu dibutuhkan oleh setiap manusia selama setiap manusia masih memiliki jiwa.

Dan lebih jauh, agama secara tidak langsung memiliki peran yang tidak bisa dianggap sepele, di mana terkait dengan hal ini Enstain pernah berkata jika ilmu pengetahuan memiliki dua sisi yakni sisi positif dan sisi negatif,  yang kecendrungan ke arah dari salah satunnya ditentukan oleh sesuatu, yaitu “moral”. Di sisi positif, berarti ilmu pengetahuan dapat menjadi sumber bagi kemaslahatan kehidupan umat manusia contohnya penerapannya dalam ilmu medis sehingga banyak penyakit yang kemudian mudah untuk diatasi, di sisi negatif, berarti ilmu pengetahuan dapat menjadi sumber dari kerusakan bagi kehidupan umat manusia contohnya penggunaan nuklir dalam perang yang merusak lingkungan.

Dan nilai-nilai moral yang tercantum dalam ajaran agama, akan mempengaruhi terhadap kecendrungan ke arah mana ilmu pengetahuan menunjukan salah satu sisinya, positif atau negatif. Sehingga  agama ada, juga untuk menjadi lebih tepatnya pendamping dari perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat, untuk mengontrol agar arah dari ilmu pengetahuan itu sendiri selalu menunjukan sisi psoitifnya. Semoga semakin banyak orang yang sadar akan peran dari agama dan menjalankan kehidupan sehari-hari dengan nilai-nilai spiritualitas.



Post a Comment

Previous Post Next Post