Islam nusantara yang secara resmi digagas oleh PBNU,dalam beberapa
tahun ini telah menimbulkan polemik dan menyeret banyak pihak dalam perdebatan
berkepanjangan hingga hari ini. Seiring dengan hal itu banyak seminar dan diskusi ilmiah yang diselenggarakan oleh
kalangan cendikia yang mengangkat tema “Islam Nusantara” ini yang coba meraba
apa itu hakikat Islam Nusantara. Berikutsaya sajikan beberapa fakta terkait
dengan hal tersebut yang mungkin belum kamu tahu:
1. PIHAK YANG
PRO DAN KONTRA
Meskipun secara terang-terangan ketua umum PBNU KH said Aqir Siraj
mengatakan bahwa jika setuju silakan ikut dan jika tidak setuju ya tidak
masalah selama itu tidak menggangg ugagasan Islam nusantara ini,tetap saja ada
banyak kalangan yang secara keras dan terang-terangan menolak konsep yang
disecara resmi di cetuskan pada 2015 dari rahim PBNU ini.
Di lain sisi ada banyak pihak yang menyambut gagasan islam nusantara yang
kaya akan muatan kearifan lokal dan budaya bangsa Indonesia. Beberapa tokoh
yang mengapresiasi ide ini di antaranya bapak Presiden Jokowi beserta wakilnyabBapak
Jussuf Kalla, ketua MUI KH. Ma’ruf Amin dan masih banyak lagi. Sedangkan mereka
yang menggap Islam Nusantara sebagai gagasan keliru dan bukan merupakan solusi
meliankan polusi di tengah-tengah problematika yang di hadapiumat islam, di
antaranya Ustadz Muhhamd Idrus Ramli,
Usatdz Felix Show,dan ketinggalan sang panglima dari FPI Habib Rizieq Shihab.
2. SIKAP MUI
Menyikapi permasalahan tentang perdebatan gagasan Islam Nusantara, MUI
selaku lembaga yang menangani permasalahan umat Islam yang berada di bawah
naungan negara terdapat ketidak bulatan bagaimana seharusnya pihaknya menyikapi
masalah yang bisa di bilang sensitif ini.
Meskipun MUI melalui ketua umumnya secara positif mendukung dan menyambut
positif gagasan Islam Nusantara,ternyata terdapat disintergrasi antara MUI
pusat dengan MUI yang ada di daerah. Hal ini terlihat jelas ketika pada 21
juli lalu MUI Sumatera barat menyatakan
secara resmi gagasan Islam Nusantara. Mereka,sebagaimana unggahan ketua MUI
Sumatera Utara di media sosial facebook,menolak gagasan Islam Nusantara dalam
definisi apa pun. Menyikapi hal ini,MUI pusat mengaku akan melakukan tindakan
pelurusan agar terjalin pemahaman dalam frequensi yang sama.
3. GUS DUR DAN
GAGASAN ISLAM NUSANTARA
Banyak yang tidak tahu,bahwa gagasan Islam Nusantara telah adasejak alam
meskipun dengan nama yang berbeda.mereka mengira gagasan yang dikeluarkan
langsung oleh PBNU dan merupakan pihak yang bertanggung jawab untuk mengawal
jalannya agenda ini, merupakan hal yang baru sehingga banyak pihak yang
langsung merespon dengan tidak hati-hati.
Namun jika kita mengamati sepak terjang dari KH.Abdurahman Wahid Hasyim
alias Gus Dur,kita kan menyimpulakn jika gagasan Islam Nusantara telah
jauh-jauh di gagas oleh beliau minimalnya berkontribusi terbentuk gagasan ini
sekarang.
Dalam pemikirannya tentang Pribumisasi Islam,bagaimana Gus Dur menyorot
bagaimana yang harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari adalah nilai dalam
ajaran islam, BUKAN formalitas yang merupakan bagian budaya dari tempat
lahirnya agama Islam. Karena bagaimana pun juga jika kita mengadopsi budaya
dari arab,itu sama artinya kita melupakan identitas kita sendiri sebagai bangsa
Indonesia yang memiliki kebudayaannya sendiri yang perlu di lestarikan selama
tidak bertentangan dengan syariat.
Contohnya nyata yang ia berikan adalah penyebutan, ikhwan,akhi dan ukti
yang merupakan penyebutan dalam bahasa arab yang merupakan formalitas,yang pada
dasarnya tidak menngunakan sebutan tersebut pun tidak masala,toh kita memiliki
sebutan hal tersebut dengan bahasa kita sendiri seperti misalnya sampean.Dan
halini senada dengan gagasan islam nusantara yang berusaha men-sinergi-kan
budaya lokal Indonesia dengan jaran agama,dan tidak mengadopsi budaya bangsa
arab,dalam batasan yang tidakmeusak ketentuan syara.
4. MEREKA YANG
KONTRA DARI INTERNAL NU
Meski pun Nu merupakan pengawal utama dari gagasan Islam modelini,akan
tetapi faktanya tidak semua kayi atau ulama yang tergabung dalam kepengurusan
NU setuju dengan gagasan tentang Islam Nusantara. Mereka beranggapan jika gagasan tersebut
akaan mengkotak-kotakan islam yang sejatinya satu dan telah sempurna dan suci
tanpa harus di tambah-tambahkan.
KH Misbahussalam,
Wakil Ketua PengurusCabang Nahdjatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jember,adalah satu
internal NU yang menolak secaraterang-terangan saat Muktamar ke 33 di Jombang.
Ia berargumen bahwa NU tidak hanya ada di Indonesia tetapi juga ada di
Singapura dan Malaysia serta negara-negara lainnya.Selain KH Misbahussalam
masih ada dari kalangan internal yang tidak sejalan dengan gagasan yang
dijaadikan bahasan utama saat muktamar ke 33 itu.
5. BANYAK
WARGA NADLIYIN YANG KURANG PAHAM TENTANG ISLAM NUSANTARA
NU sebagai salah satu organisasi terbesar tentu saja memili banyak
anggota yang tersebar di seluruh Indonesia. Dan untuk masalah tentang apa itu
Isalm Nusantara yang meilupi hakikat,tujuan dan sebagainya, ternyata masih
sangat banyak warga nadliyin yang masih tidak paham,khsusunya untuk mereka yang
bertemapat tinggal di pelosok daerah.
Untuk para pengurus ditingkat cabang sendiri, diakui masih banyak yang
tidak paham karena mungkin disebabkan oleh kurang sosialisasi di tingkat
internal sebelum hal ini terlanjut menjadi polemik. Kebanyakan warga nadliyin yang paham dan
mengerti betul, adalah mereka yang berasal dari kalangan terpelajar yang
kebanyakan tinggal di perkotaan.
6. PENOLAKAN
KERAS DARI LUAR NEGERI
Gus Mus mengatakan jika banyak negara yang mendorong Indonesia untuk
menjadi representasi dari Islam,menggantikan timur tengah yang selama memegang
peran tersebuat yang sayang sekarang kacau balau oleh konflik berkepanjangan.
Indonesia dengan jumlah muslim terbesar di dunia, dinilai akan membawa citra
lebih baik bagi dunia Islam yang sekarang kondisi timur tengah tidak
menggambarkan ajaran Islam di sana.
Menariknya, tidak sedikit pula yang mengkritik hingga menolak keras
gagasan menjadikan Indonesia sebagaipusat peradaban Islam menengok timur tengah
telah larut dalam koflik multidimensi. Bahkan dalam suatu acara yang
diselenggarakan di Kairo,Mesir yang dihadiri oleh Kh.Said Aqil Siraj sebagai
ketua umum PBNU, Grand Syeckh dari
Al-Azhar mengkritik keras gagasan Islam Nusantar karena menurut beliau hal
tersebut seolah mengesampingkan posisi negara arab sebagai tempat lahirnya
Islam.

Post a Comment